Minggu, 14 November 2010

Ringkasan Buku Confessiones St. Agustinus Bab 9 (X) – 10 (XXX)



(Kristoforus Sri Ratulayn K.N / 1323009009)

Bab 9 (X-XIII) : Tentang Wafatnya Monika, Sampai Pada Wafatnya
Pada bab 9 ini tokoh yang menjadi sorotan adalah Monika. Monika menjadi tokoh utama dalam permenungan Agustinus. Pada bagian ini setiap tahapnya menceritakan aspek penting dari pribadi Monika. Monika ditampilkan sebagai sosok pribadi yang patuh, rendah hati, taat, dan tanpa pamrih.
Kemudian diceritakan bahwa Agustinus dan Monika tengah dalam perjalanan pulang menuju Tagaste, tempat asal mereka. Saat itu mereka sedang singgah untuk beristiraha di sebuah pelabuhan yang bernama Ostia. Di Ostia sempat terjadi dialog antara Agustinus dengan Monika. Agustinus dan Monika membicarakan tentang kehidupan kekal (Bab 9 X.24-25). Dalam dialog tersebut terungakap bahwa alam fisik, inderawi, dan bahasa sebenarnya tidak diperlukan lagi. Realitas yang sejati, kekal, sempurna, dan tidak berubah dari Allah sesungguhnya merupakan rumah sejati bagi jiwa manusia.
Dialog tentang keabadian itu semua merupakan sebuah rangkaian yang mengungkapkan kesediaan Monika untuk menghadapi kematiannya. Monika siap menghadapi kematian setelah semua yang ia mimpi-mimpikan terwujud, termasuk agar Agustinus dibaptis menjadi seorang Katolik. Kesadaran bahwa rumah abadi yang sesungguhnya ialah Allah membuat Monika melepaskan juga keinginan terakhirnya, yaitu dikubur bersama jasad suaminya di Afrika (9 XI.27). Sekali-lagi kesadaran Monika itu muncul karena menyadari bahwa rumah sebenarnya adalah di dalam Allah.
Akhirnya Monika pun meninggal. Agustinus berusaha sekuat tenaga untuk menahan agar air matanya tidak jatuh menetes namun, semuanya sulit untuk dibendung. Agustinus mencurahkan air matanya. Agustinus berdoa memohon pengampunan dosa untuk Monika. Selain itu, Agustinus juga meminta kepada para pembaca bukunya untuk mengingat orang tuanya dalam setiap doa. Cerita pada bab 9 ini berakhir dengan sebuah peringatan akan pengharapan untuk kembali dari pengembaraan hidup menuju rumah sejati, ke rumah Bapa.

Bab 10 (I-XXX) Keadaan Jiwa Agustinus Saat Menulis Buku Confessiones
Bab 10 diawali dengan permenungan akan keadaan jiwa Agustinus setelah menjadi soerang Kristen Katolik. Di dalamnya Agustinus mengungkapkan secara panjang lebar mengenai dirinya setelah dibaptis, melakukan perbandingan dengan hidupnya sebelum dibaptis. Tujuannya supaya orang Kristen pun ikut bersyukur dan berdoa bersamanya, karena Allah sungguh Agung.
Setelah merenungkan keadaan jiwanya, Agustinus pun terheran-terhan bagaimana ia bisa mengenal Allah? Bahwa sesungguhnya Allah bukan benda-benda materi. Dengan demikian untuk bisa mengenal-Nya perlu juga untuk melampaui sesuatu yang materi (10 VI.9). Agustinus berpandangan bahwa manusia mampu mengenal Allah melalui akal budinya (10 VI.10). Akal budi mampu menghantar manusia untuk berabstraksi lebid dalam daripada hanya sekedar sesuatu yang tampak (materi). Akal budi yang bagaimana? Agustinus berusaha naik untuk sampai pada fungsi ingatan.
Agustinus menjelaskan bahwa dalam ingatan terdapat banyak hal yang tersimpan disana. Menurut Agustinus, ingatan itu sendiri adalah sebuah wahana yang luas tempat banyak hal tersimpan dalam akal budi manusia. Agustinus mengatakan bahwa isi dari ingatan antara lain adalah gambaran dari benda-benda yang tertangkap oleh indera (10 VIII.13), pengalaman masa lalu (10 VIII.14), pengetahuan ilmiah (10 VIII.16) yang pada bagian ini terungkap juga bahwa belajar adalah proses menginga. Kemudian angka-angak juga termasuk isi dari ingatan, nafsu-nafsu jiwa seperti sukacita, kesedihan dan lain sebagainya.
Namun dalam macam-macam isi ingatan tersebut ada juga masalah di dalamnya. Salah satunya adalah mengenai ingatan dan kelupaan. Masalahnya demikian, bila aku ingat kelupaan, maka sekaligus tersedialah ingatan dan kelupaan, ingatan menjadi sarana aku ingat, kelupaan yang kuingat. Bagaimana seseorang bisa berkata bahwa ia lupa, jika dia lupa sebenarnya ia pernah ingat akan sesuatu yang dilupakannya tersebut. Logika di dalamnya sangat membuat kita bingung jika tidak berhati-hati dalam memahaminya.
Agustinus juga mengangkat pembicaraan tentang Allah dalam ingatan. Berusaha mengenali Allah melalui ingatan. Bagaimana manusia bisa tahu tentang Allah jika sebelumnya mereka tidak mengenal Allah. Hal itu lah yang ingin disampaikan oleh Agustinus melalui konsepnya tentang ingatan. Manusia pun harus melampaui ingatan untuk dapat menemukan Allah. Melampaui berarti mengatasi masalah-masalah yang muncul dari ingatan itu sendiri.
Tema perbincangan selanjutnya adalah mengenai ingatan dan hidup bahagia. Pertanyaannya adalah dari mana konsep hidup bahagia itu sendiri jika sebelumnya manusia belum mengenali hidup bahagia itu? Apakah kehidupan bahagia itu berada dalam ingatan? Karena memang manusia tidak akan mencintai hidup bahagia itu sendiri jika tidak kenal sebelumnya. Dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa sesungguhnya sebelum dilahirkan manusia sudah mengenali konsep hidup bahagia itu sendiri.
Keinginan untuk hidup bahagia merupakan cita-cita setiap orang. Artinya terjadi keuniversalan keinginan untuk hidup bahagia. Dengan kata lain bisa kita simpulkan bahwa tujuan hidup manusia adalah menjadi bahagia. Lebih dalam, menurut Agustinus kebahagiaan itu ialah menikmati Allah. Bersukacita kepada-Nya, dari-Nya, karena-Nya. Kebahagiaan sejati hanya ada pada Allah.
Namun yang menjadi permasalahan adalah jika hidup bahagia ialah menikmati Allah berarti belum pastilah semua orang ingin bahagia. Pada kenyataannya Agustinus melihat masih banyak orang yang menolak Allah dalam hidup mereka. Tidak semua orang mau mengambil sukacita dari-Nya. Sesungguhnya sukacita terbit dari kebenaran dan kebenaran itu ialah Allah sendiri. Lantas mengapa manusia terkadang lebih tidak bersukacita karenanya, hal ini lah mengherankan bagi Agustinus.
Agustinus ternyata menemukan bahwa sesungguhnya manusia akan mencintai kebenaran jika kebenaran itu menampakkan cahayanya. Sedangkan akan membencinya jika kebenaran itu menudingnya. Intinya bagi manusia adalah mana yang menguntungkan dan mengenakkan itulah yang akan mereka pilih.
Akhirnya Agustinua sampai pada sebuah kesimpulan tentang ingatan. Agustinus menegaskan bahwa Allah benar-benar dalam ingatan. Namun tersimpannya Allah dalam ingatan tidak sama seperti tersimpannya gambaran benda-benda dalam ingatan. Lalu bagaimana Allah datang dalam ingatan? pertannyaan itu sungguh masih menjadi misteri juga bagi Agustinus. Dalam buku 10 ini ia tidak memberikan jawaban dengan pasti tentang pertanyaan itu.