BAB I
PENDAHULUAN
Penelitian yang membahas mengenai manusia sungguh sangat luas dan kompleks. Berbagai bidang ilmu memusatkan perhatian masing-masing untuk memahami manusia. Misalnya, Biologi mencoba memahami manusia dari sudut biologisnya, psikologi mencoba melihat manusia dari sisi perilakunya, dan masih banyak lagi lainnya.
Dalam paper ini saya akan membahas teori Strukturalisme dari Lévi-Strauss. Saya akan memberikan pemaparan mengenai teori strukturalisme dari Levi-Strauss. Teori strukturalisme pada intinya berpendapat bahwa dalam segala keanekaragaman budaya tentu ada sebuah struktur pembentuk yang sifatnya universal, sama dimanpun dan kapanpun. Claude Levi-Strauss sendiri dikenal sebagai Bapak Strukturalisme, karena memang dialah yang pertama kali menjelaskannya secara lebih rinci dan detail.
Paper ini terbagi dalam empat bagian besar. Pertama, bagian pendahuluan yang menjadi pengantar sekaligus pemaparan keseluruhan arah dari paper ini. Kedua, bagian pokok atau isi. Pada bagian ini saya akan memaparkan penjelasan mengenai teori strukturalisme dari Levi-Strauss dan implementasinya. Ketiga, bagian tanggapan kritis. Bagian ini akan menampilkan sebuah kritik terhadap teori strukturalisme. Keempat, bagian kesimpulan yang akan menyimpulkan secara singkat, padat, dan jelas keseluruhan tulisan ini.
BAB II
POKOK BAHASAN
2.1 Hidup dan Karya Lévi-Strauss1
Claude Lévi-Strauss adalah seorang antropolog sosial Perancis dan filsuf strukturalis.2 Ia lahir di Brussels, Belgia, pada 28 Nopember 1908 sebagai seorang keturuan Yahudi. Namun pada tahun 1909 orang tuanya pindah ke Paris, Perancis. Ayahnya bernama Raymond Lévi-Strauss dan ibunya bernama Emma Levy. Sejak kecil Lévi-Strauss sudah mulai bersentuhan dengan dunia seni, yang kelak akan banyak ditekuninya ketika dewasa, karena memang ayahnya adalah seorang pelukis.
Sesungguhnya pendidikan formal dan minat Lévi-Strauss pada awalnya bukanlah Antropologi. Pada tahun 1927, Lévi-Strauss masuk Fakultas Hukum Paris dan pada saat yang sama itu pula, ia pun mempelajari filsafat di Universitas Sorbonne. Studi hukum diselesaikannya hanya dalam waktu satu tahun. Sedangkan dari studi filsafat, aliran materialisme menjadi aliran yang banyak mempengaruhi pemikirannya. Salah satu argument materialisme adalah segala sesuatu harus bisa diukur, diverivikasi, dan diindera. Namun pada suatu saat Levi-Strauss mengungkapkan kebosanannya dalam mengajar.
Kemudian setelah membaca buku Primitive Social karya Robert Lowie, seorang ahli antropologi. Bermula dari membaca buku Robert Lowie itulah ketertarikannya akan dunia antropologi muncul. Akhirnya, Levi-Strauss semakin jelas berpaling kepada Antropologi ketika mengajar di Sao Paulo, Brazil, dan melakukan studi antropologi yang lebih luas di pusat Brazil.
Selama mengajar di Brazil itulah ia mulai banyak melakukan ekspedisi di daerah-daerah pedalaman Brazil. Heddy Shri dalam bukunya menyebutkan, ekspedisi pertamanya adalah ke daerah Mato Grosso. Dari ekspedisi itu Levi-Strauss merasa mendapatkan pengalaman batin yang menginspirasikan banyak hal, yang tertuang dalam bukunya Trites Tropique. Itulah karya pertamanya dan sekaligus mengukuhkan dirinya masuk kedalam bidang antropologi.
Dalam prosesnya melakukan penelitian dan pengamatan banyak terbentur hambatan. Hal ini salah satunya tidak lepas dari karena ia termasuk keturunan Yahudi, yang saat itu dalam pergolakan pembantaian oleh Jerman. Sampai ia akhirnya harus mengalami pemecatan. Pada tahun 1947, ia kembali ke Perancis dan pada tahun berikutnya ia diangkat sebagai maitre de recherché selama beberapa bulan di CNRS (Center National de la Recherche Scintifique/Pusat Penelitian Ilmiah Nasional). Pada tahun yang sama, ia menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Sorbonne, dengan disertasi Les Structures elementaires de la parente.
Levi-Strauss dianggap sebagai pendiri strukturalisme, sebuah paham yang memegang bahwa kode terstruktur adalah sumber makna dan bahwa unsur-unsur struktur yang harus dipahami melalui hubungan timbal balik mereka. Lebih lanjut, bahwa struktur sosial adalah kebebasan dari kesadaran manusia dan ditemukan dalam mitos dan ritual. Secara singkat, itulah inti dari teori strukturalisme menurut pendapat Levi-Strauss.
Levi-Strauss banyak menghasilkan karya-karya tulis besar yang sangat menarik banyak perhatian banyak kalangan, baik dari intelektual maupun awam. Karya-karya terbesar tersebut antara lain: The Elementary Structures of Kinship (1949), Structural Anthropology (1958), The Savage Mind (1962), and the Mythologics, 4 vols. (1964–72). Mythologics sendiri terdiri dari tetralogi The Raw and The Cooked, From Honey to Ashes, The Origin of Table Manners, dan The Naked Man.
2.2 Teori Strukturalisme Dan Penelitian Lévi-Strauss
Secara umum, istilah strukturalisme banyak dikenal dalam Filsafat Sosial. Filsafat Eropa modern sering menyebut bahwa strukturalisme adalah sebuah fenomena sosial. Lebih lanjut dikatakan bahwa fenomena itu tidak peduli seberapa dangkal beragam wujudnya. Secara singkat, strukturalisme adalah fenomena social yang secara internal dihubungkan dan diatur sesuai dengan beberapa pola yang tidak disadari.
Hubungan-hubungan internal dan pola merupakan struktur, dan mengungkap struktur-struktur ini adalah objek studi manusia. Pada umumnya, sebuah struktur bersifat utuh, transformasional, dan meregulasi diri sendiri (self-regulatory). Strukturalisme adalah metodologi yang menekankan struktur daripada substansi dan hubungan daripada hal. Hal ini menyatakan bahwa sesuatu selalu keluar hanya sebagai elemen dari penanda suatu sistem.
Metodologi Struktural sesungguhnya berasal dari struktural linguistik dari Saussure, yang menggambarkan bahwa bahasa sebagai sebuah tanda dari aturan sistem sosial. Baru pada tahun 1940, ia mengusulkan bahwa fokus yang tepat penyelidikan antropologi berada di mendasari pola-pola pemikiran manusia yang menghasilkan kategori budaya yang mengatur pandangan dunia sampai sekarang dipelajari. Kemudian pada tahun 1960, Claude Levi-Strauss melanjutkan metodologi ini, tidak hanya untuk antropologi (strukturalisme antropologi) tetapi, memang, untuk penanda semua sistem. Namum memang Levi-Strausslah pada umumnya yang dianggap sebagai pendiri strukturalisme modern. Melalui karyanya, strukturalisme menjadi tren intelektual utama di Eropa Barat, khususnya Perancis, dan sangat mempengaruhi studi tentang ilmu-ilmu manusia.
Pada tahun 1972, Levi-Strauss mengeluarkan bukunya yang berjudul Strukturalisme dan Ekologi menjelaskan secara rinci rincian prinsip dari apa yang akan menjadi antropologi struktural. Di dalamnya, ia mengusulkan bahwa budaya, seperti bahasa, terdiri dari aturan tersembunyi yang mengatur perilaku praktisi.3 Apa yang membuat budaya yang unik dan berbeda dari satu sama lain adalah aturan tersembunyi bagi pemahaman anggota tetapi tidak dapat mengartikulasikan, dengan demikian, tujuan antropologi struktural adalah untuk mengidentifikasi aturan-aturan ini. Dia mempertahankan budaya yang adalah proses dialektika: tesis, antitesis, dan sintesis.
Ahli antropologi mungkin menemukan proses berpikir yang mendasari perilaku manusia dengan memeriksa hal-hal seperti kekerabatan, mitos, dan bahasa. Lebih lanjut, bahwa ada realitas tersembunyi di balik semua ekspresi budaya. Selanjutnya strukturalis bertujuan untuk memahami makna yang mendasari pemikiran manusia yang terungkap melalui aktivitas budaya. Pada dasarnya, unsur-unsur budaya yang tidak jelas dalam dan dari dirinya sendiri, melainkan merupakan bagian dari sistem yang berarti. Sebagai model analitis, strukturalisme menganggap universalitas proses pemikiran manusia dalam upaya untuk menjelaskan "struktur dalam" atau makna yang mendasari yang ada dalam fenomena budaya.4
2.3 Implementasi Teori
Pada masa ini kita masih bisa banyak menemukan penelitian-penelitian yang menggunakan teori strukturalisme. Kita bisa mengambil contoh peneliti yang ingin mengetahui struktur pemikiran orang Surabaya sehingga dalam budayanya cenderung kasar, misalnya bahasa. Peneliti tersebut membandingkan dengan struktur pemikiran yang ada didalam budaya Yogyakarta yang cenderung lebih ramah. Antara Surabaya dan Yogyakarta yang walaupun kelihatannya berbeda sebenarnya ada sebuah struktur sama di dalam budaya.
Dengan memahami struktur dalam budaya peneliti akan mengetahui sebuah keuniversalan dalam budaya. Mungkin itulah yang akan dikatakan oleh para ahli strukturalisme. Strukturalisme membantu memetakan pola perilaku manusia dalam budaya.
BAB III
TANGGAPAN KRITIS5
Secara umum, strukturalisme menuai banyak kritik dari sisi epistemology. Validitas penjelasan struktural telah ditentang dengan alasan bahwa metode strukturalis yang tidak tepat dan tergantung pada pengamat. Artinya unsur subjektivisme sangat erat dalam penelitian strukturalisme. Satu peneliti dan menghasilkan hasil yang sama sekali lain dengan peneliti lainnya.
Paradigma strukturalisme terutama berkaitan dengan struktur jiwa manusia, dan tidak membahas aspek sejarah atau perubahan budaya. Pendekatan sinkronis, yang menganjurkan sebuah "kesatuan psikis" dari semua pikiran manusia, telah dikritik karena tidak memperhitungkan tindakan manusia individu historis. Dalam pemikiran strukturalis, ide-ide yang bertentangan secara inheren ada dalam bentuk oposisi biner, namun konflik-konflik ini tidak menemukan resolusi. Dalam pemikiran Marxis struktural, pentingnya perubahan abadi dalam masyarakat adalah mencatat: "Ketika kontradiksi internal antara struktur atau dalam struktur tidak bisa diatasi, struktur tidak mereproduksi tetapi diubah atau berevolusi".
Selanjutnya, yang lain telah mengkritik strukturalisme karena kurangnya perhatian dengan individualitas manusia. Budaya relativis sangat kritis terhadap ini karena mereka percaya struktural "rasionalitas" melukiskan pemikiran manusia sebagai seragam dan seragam. Budaya selalu mengandung unsur relative di dalamnya dan tidak bisa disamakan atau diseragamkan.
Selain mereka yang memodifikasi paradigma strukturalis dan kritik ada reaksi lain yang dikenal sebagai Meskipun poststructuralists dipengaruhi oleh ide-ide strukturalis diajukan oleh Levi-Strauss "pascastrukturalisme.", Pekerjaan mereka memiliki lebih berkualitas refleksif. Pierre Bourdieu adalah pascastrukturalis yang "... melihat struktur sebagai sebuah produk ciptaan manusia, meskipun para peserta mungkin tidak sadar akan struktur". Daripada gagasan strukturalis dari universalitas proses pemikiran manusia yang ditemukan dalam struktur pikiran manusia, Bourdieu mengusulkan bahwa proses berpikir dominan adalah produk dari masyarakat dan menentukan bagaimana orang bertindak.
Lain reaksi terhadap strukturalisme didasarkan pada penyelidikan ilmiah. Dalam setiap bentuk penyelidikan yang bertanggung jawab, teori harus difalsifikasi. analisis struktural tidak memungkinkan ini atau untuk validasi eksternal.
BAB IV
KESIMPULAN
Pada bagian ini saya akan sedikit memberikan rangkuman atas hasil pemaparan keseluruhan tulisan ini. Sekiranya ada dua hal yang ingin saya tekankan. Pertama, yaitu bahwa argument utama strukturalisme adalah bahwa dalam setiap budaya terdapat sebuah struktur yang universal, sama dimanapun dan kapanpun. Banyak penelitian yang menggunakan teori strukturalisme tersebut. Tujuannya untuk memahami pola dalam kebudayaan.
Kedua, nyatanya teori strukturalisme mendapatkan banyak kritik dan sorotan yang tajam. Salah satunya yang mengena adalah bahwa manusia merupakan makluk yang komplek. Kekomplekan itu juga terbawa dalam perilaku budaya yang mereka hasilkan pula. Jika manusia kompleks maka usaha untuk “menyeragamkan” manusia dengan sebuah struktur yang pasti sungguh sangat terdengar naïf. Strukturalisme memang baik sebagai sebuah metodologi memahami manusia dan budaya. Strukturalisme adalah alat dan bukan tujuan dalam memahami manusia dengan segala kekomplekannya.
PUSTAKA
Ahimsa-Putra, Heddy Shri, Strukturalisme Lévi-Strauss Mitos dan Karya Sastra, Galang Press, Yogyakarta, 2001
Bunnin, Nicholas And Jiyuan Yu. The Blackwell Dictionary of Western Philosophy. Blackwell Publishing. New York. 2004
http://www.as.ua.edu/ant/cultures/cultures.php?culture=Structuralism diunduh pada Senin, 08 Maret 2011 pukul 14.00
Sabtu, 13 Agustus 2011
Kamis, 10 Maret 2011
Setia Pada Kebenaran??
Oleh : Kristoforus Sri Ratulayn K.N*
Tiga semester sudah saya jalani studi Filsafat di bangku kuliah. Sejak awal saya berkenalan dengan filsafat, selalu ditekankan bahwa filsafat adalah sebuah disipilin ilmu yang logis, kritis, dan rasional. Filsafat hendak mencari hakikat dari realitas, bagaimana manusia mengetahui, dan apa yang harus manusia lakukan? Secara singkat, berfilsafat merupakan sebuah upaya pencarian terus menerus sebagai wujud dari kecintaan akan sebuah kebijaksanaan. Lebih dalam lagi, benang merahnya adalah sampai pada pencarian dan perjuangan akan sebuah yang disebut dengan KEBENARAN.
Pencarian dan perjuangan akan kebenaran universal yang membawa kebahagiaan dan kesejahteraan menjadi kunci perjuangan dalam sejarah filsafat. Namun menjadi sebuah perjuangan berat tersendiri juga ketika ingin berfilsafat di Negara Indonesia ini yang rasanya seolah tidak relevan lagi. Nampaknya dunia pemikiran filsafat belum begitu menjadi budaya yang hidup dan berkembang di Negara ini. Hal ini terlihat jelas ketika melihat situasi Negara yang para pemimpinnya sibuk memperkaya diri, hukum bisa dibeli, seorang tahananpun bisa jalan-jalan sesuka hati, korupsi di sana-sini, suap sana-sini, dan masih banyak lagi. Bahkan seseorang dianggap “gila” jika tidak ikut terlibat di dalamnya. Kebenaran universal yang membawa kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat tidak lagi menjadi sebuah nilai yang penting untuk diperjuangkan. Lantas masih ada artinyakah berbicara setia pada kebenaran?
Abu-abu Kebenaran Di Indonesia
Situasi politik praktis di Indonesia saat ini sungguh-sungguh berada pada fase yang krisis dan memprihatinkan. Situasi politik praktis Negara yang lebih mencerminkan ajang perebutan kekuasaan, memperkaya kaya diri atau kelompok, perjuangan kepentingan kelompoknya semata yang semuanya dilakukan dengan menghalalkan segala cara. Belum lagi masalah hukum yang bisa “dibeli” oleh siapapun yang mempunyai banyak uang. Kemudian tahanan yang bisa seenaknya keluar masuk penjara. Itulah kiranya yang mampu sedikit menjadi cerminan situasi politik praktis Negara kita tercinta ini. Masyarakat menjadi bingung dan kehilangan pegangan siapa yang masih bisa dipercaya dan siapa yang sudah busuk.
Melihat situasi politik praktis Negara yang demikan kacau, abu-abu, dan tumpang tindih seolah-olah tidak ada tempat lagi bagi mereka yang berbicara setia pada kebenaran. Kebenaran hanya ada dipermukaan dan semu. Sulit sekali menemukan kebenaran sejati dalam kehidupan politik praktis bangsa ini. Keadaan pemerintahan yang serba korup seolah tidak menyisahkan tempat bagi kebenaran, bahkan lembaga yang disebut sebagai penegak hukumpun mampu “merunduk” jika berhadapan dengan uang dan kekuasaan.
Kesetiaan Pada Kebenaran
Lepas dari semua tekanan yang ada di tengah kita, kebenaran harus selalu di cari dan diperjuangkan. Karena memang dengan setia pada kebenaranlah sebuah situasi yang penuh dengan kebahagiaan bersama, adil, dan sejahterah yang sesungguhnya dapat terwujud. Tidak hanya sebuah keadilan yang semu dan hanya dipermukaan saja. Lebih dalam, yaitu bahwa ketika kebenaran diabaikan, disitulah mulai terjadi juga pelanggaran hukum yang berlaku. Kemudian ketika hukum sudah dilanggar membawa dampak terjadinya pelanggaran martabat manusia dan peradaban publik.
Martabat manusia dan peradaban publiklah yang seharusnya menjadi patokan dalam segala tindakan dan gerak seluruh lapisan masyarakat. Sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu melindungi martabat setiap orang yang menjadi bagian di dalamnya. Jika bangsa Indonesia tidak segera berbenah diri dan semakin jauh untuk berbicara setia pada kebenaran maka Indonesia akan hancur dengan sendirinya. Ketika martabat manusia dan peradaban publik diabaikan, yang ada tersisa hanyalah bangsa yang biadab. Yang tersisa hanyalah manusia-manusia yang berusaha memperkaya diri, apatis, korup, dan individualis. Jika demikan yang terjadi, bagaiamana bisa kita dengan mudah mengatakan bahwa berbicara setia pada kebenaran sudah tidak ada artinya lagi!
Penuh optimisme kita harus percaya bahwa hati nurani sebagian besar masyarakat Indonesia masih berontak ketika kebenaran tidak lagi diperjuangakan. Maka, untuk mendobrak keacuhan akan kebenaran itu semua memang dibutuhkan sebuah tekad dan keberanian bersama. Kebenarnian untuk tidak ikut menjadi apatis atau acuh terhadap situasi bangsa yang penuh dengan ketidakadilan dan pelanggaran martabat manusia. Bukan malah menjadi pesimis terhadap semua ke absurd-an yang terjadi di Negara kita ini. Melainkan tetap optimis untuk memperjuangkan sebuah kebenaran.
Lebih dalam lagi, bukanlah pembangunan gedung-gedung megah atau rumah dinas yang mewah yang sungguh mendesak untuk dilakukan. Melainkan pembangunan mentalitas kritis, rasional, sistematis, dan humanislah yang penting untuk dilakukan! Semua orang perlu kritis dan sungguh menghidupi apa yang menjadi kebenaran. Dengan demikian seseorang akan mengetahui apa yang ada di balik setiap keanehan yang terjadi dalam Negara ini. Orang akan dihantar menemukan akar terdalam dari setiap masalah.
Di sinilah studi filsafat kemudian mampu menjadi pencerah bagi semua orang dalam mengolah mentalitas seseorang menjadi lebih kritis, rasional, mandiri, dan humanis. Seseorang akan lebih mencintai sebuah pencarian dan perjuangan terus-menerus demi terciptanya kehidupan bersama yang lebih pebuh dengan penjunjungan tidnggi terhadap martabat manusia dan keadaban publik. Kebenaran akan menunjukan dirinya bagi mereka yang setia dalam pencarian!***
Tiga semester sudah saya jalani studi Filsafat di bangku kuliah. Sejak awal saya berkenalan dengan filsafat, selalu ditekankan bahwa filsafat adalah sebuah disipilin ilmu yang logis, kritis, dan rasional. Filsafat hendak mencari hakikat dari realitas, bagaimana manusia mengetahui, dan apa yang harus manusia lakukan? Secara singkat, berfilsafat merupakan sebuah upaya pencarian terus menerus sebagai wujud dari kecintaan akan sebuah kebijaksanaan. Lebih dalam lagi, benang merahnya adalah sampai pada pencarian dan perjuangan akan sebuah yang disebut dengan KEBENARAN.
Pencarian dan perjuangan akan kebenaran universal yang membawa kebahagiaan dan kesejahteraan menjadi kunci perjuangan dalam sejarah filsafat. Namun menjadi sebuah perjuangan berat tersendiri juga ketika ingin berfilsafat di Negara Indonesia ini yang rasanya seolah tidak relevan lagi. Nampaknya dunia pemikiran filsafat belum begitu menjadi budaya yang hidup dan berkembang di Negara ini. Hal ini terlihat jelas ketika melihat situasi Negara yang para pemimpinnya sibuk memperkaya diri, hukum bisa dibeli, seorang tahananpun bisa jalan-jalan sesuka hati, korupsi di sana-sini, suap sana-sini, dan masih banyak lagi. Bahkan seseorang dianggap “gila” jika tidak ikut terlibat di dalamnya. Kebenaran universal yang membawa kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat tidak lagi menjadi sebuah nilai yang penting untuk diperjuangkan. Lantas masih ada artinyakah berbicara setia pada kebenaran?
Abu-abu Kebenaran Di Indonesia
Situasi politik praktis di Indonesia saat ini sungguh-sungguh berada pada fase yang krisis dan memprihatinkan. Situasi politik praktis Negara yang lebih mencerminkan ajang perebutan kekuasaan, memperkaya kaya diri atau kelompok, perjuangan kepentingan kelompoknya semata yang semuanya dilakukan dengan menghalalkan segala cara. Belum lagi masalah hukum yang bisa “dibeli” oleh siapapun yang mempunyai banyak uang. Kemudian tahanan yang bisa seenaknya keluar masuk penjara. Itulah kiranya yang mampu sedikit menjadi cerminan situasi politik praktis Negara kita tercinta ini. Masyarakat menjadi bingung dan kehilangan pegangan siapa yang masih bisa dipercaya dan siapa yang sudah busuk.
Melihat situasi politik praktis Negara yang demikan kacau, abu-abu, dan tumpang tindih seolah-olah tidak ada tempat lagi bagi mereka yang berbicara setia pada kebenaran. Kebenaran hanya ada dipermukaan dan semu. Sulit sekali menemukan kebenaran sejati dalam kehidupan politik praktis bangsa ini. Keadaan pemerintahan yang serba korup seolah tidak menyisahkan tempat bagi kebenaran, bahkan lembaga yang disebut sebagai penegak hukumpun mampu “merunduk” jika berhadapan dengan uang dan kekuasaan.
Kesetiaan Pada Kebenaran
Lepas dari semua tekanan yang ada di tengah kita, kebenaran harus selalu di cari dan diperjuangkan. Karena memang dengan setia pada kebenaranlah sebuah situasi yang penuh dengan kebahagiaan bersama, adil, dan sejahterah yang sesungguhnya dapat terwujud. Tidak hanya sebuah keadilan yang semu dan hanya dipermukaan saja. Lebih dalam, yaitu bahwa ketika kebenaran diabaikan, disitulah mulai terjadi juga pelanggaran hukum yang berlaku. Kemudian ketika hukum sudah dilanggar membawa dampak terjadinya pelanggaran martabat manusia dan peradaban publik.
Martabat manusia dan peradaban publiklah yang seharusnya menjadi patokan dalam segala tindakan dan gerak seluruh lapisan masyarakat. Sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu melindungi martabat setiap orang yang menjadi bagian di dalamnya. Jika bangsa Indonesia tidak segera berbenah diri dan semakin jauh untuk berbicara setia pada kebenaran maka Indonesia akan hancur dengan sendirinya. Ketika martabat manusia dan peradaban publik diabaikan, yang ada tersisa hanyalah bangsa yang biadab. Yang tersisa hanyalah manusia-manusia yang berusaha memperkaya diri, apatis, korup, dan individualis. Jika demikan yang terjadi, bagaiamana bisa kita dengan mudah mengatakan bahwa berbicara setia pada kebenaran sudah tidak ada artinya lagi!
Penuh optimisme kita harus percaya bahwa hati nurani sebagian besar masyarakat Indonesia masih berontak ketika kebenaran tidak lagi diperjuangakan. Maka, untuk mendobrak keacuhan akan kebenaran itu semua memang dibutuhkan sebuah tekad dan keberanian bersama. Kebenarnian untuk tidak ikut menjadi apatis atau acuh terhadap situasi bangsa yang penuh dengan ketidakadilan dan pelanggaran martabat manusia. Bukan malah menjadi pesimis terhadap semua ke absurd-an yang terjadi di Negara kita ini. Melainkan tetap optimis untuk memperjuangkan sebuah kebenaran.
Lebih dalam lagi, bukanlah pembangunan gedung-gedung megah atau rumah dinas yang mewah yang sungguh mendesak untuk dilakukan. Melainkan pembangunan mentalitas kritis, rasional, sistematis, dan humanislah yang penting untuk dilakukan! Semua orang perlu kritis dan sungguh menghidupi apa yang menjadi kebenaran. Dengan demikian seseorang akan mengetahui apa yang ada di balik setiap keanehan yang terjadi dalam Negara ini. Orang akan dihantar menemukan akar terdalam dari setiap masalah.
Di sinilah studi filsafat kemudian mampu menjadi pencerah bagi semua orang dalam mengolah mentalitas seseorang menjadi lebih kritis, rasional, mandiri, dan humanis. Seseorang akan lebih mencintai sebuah pencarian dan perjuangan terus-menerus demi terciptanya kehidupan bersama yang lebih pebuh dengan penjunjungan tidnggi terhadap martabat manusia dan keadaban publik. Kebenaran akan menunjukan dirinya bagi mereka yang setia dalam pencarian!***
Langganan:
Postingan (Atom)
Label
- Aborsi
- Aristoteles
- belajar ilmiah
- Etika
- Etika Biomedis
- Etika Nickomakeia
- Etika Thomas Aquinas
- Filsafat Jawa
- Filsafat Ketuhanan
- Filsafat Manusia
- Filsafat Pendidikan
- Hegel
- Keadilan
- Kebenaran
- Keutamaan
- Komunikasi
- Opini
- Sejarah Filsafat Abad Pertengahan
- Soekarno
- theodicy
- tugas epistemologi
- tugas pengantar filsafat
- tugas resensi Filsafat Manusia
- Tulisan untuk buletin "Cogito" Nopember 2009