Sabtu, 07 November 2009

Apa Itu Fisafat?

(Oleh: Kristoforus Sri Ratulayn K.N)

Kata “Filsafat” berasal dari bahasa Yunani “philosophia” dan “philosophos”, yang berarti “cinta akan kebijaksanaan”. Tradisi menceritakan, sejarah munculnya ungkapan filsafat bermula ketika Phytagoras menyebut dirinya sebagai filsuf atau pecinta kebijaksanaan. Istilah pecinta kebijaksanaan dipandang lebih sesuai untuk manusia dari pada istilah “orang bijaksana”. Karena istilah “orang bijaksana” lebih mengacu pada konsep adimanusiawi atau bisa dikatakan istilah hanya untuk dewa-dewa. Kebijaksanaan hanya menjadi milik para dewa. Jika kita mengamati lebih teliti, akan banyak definisi arti kata Filsafat. Dan tak jarang pula definisi itu malah menyebabkan kerancuan dan kesalahpahaman. Kaum sokratis mungkin mendifinisikannya sebagai “segala sesuatu dan atau tak sesuatu pun (everything and/or nothing)”[1]. Kerancuan lain lagi ketika dalam gerak ketatanegaraan dipakai istilah “falsafah hidup”. Falsafah yang sebanarnya mengacu pada sebuah pandangan, pedoman, atau nilai-nilai hidup.

Dalam diri manusia seacara alamiah sekurang-kurangnya terdapat tiga potensi mendasar. Ketiga potensi itu adalah rasa ingin tahu, empati, dan taat azas. Pada pembahasan kali ini kita akan lebih condong pada potensi tentang rasa ingin tahu. Karena memang itu yang sesuai dengan konteks cinta akan kebijaksanaan. Rasa ingin tahu itu sebenarnya adalah sebuah dorongan mendalam yang membuat manusia mencari jawaban atas segala sesuatu yang terjadi. Hal itu biasanya muncul dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan. Dan ketika menemukan telah menemukan jawaban atasnya, jawaban itu akan memunculkan pertanyaan baru. Contoh seseorang bertanya apa makna kebenaran?. Ketika terjawab muncul pertanyaan lanjutan apakah kebenaran bergantung pada sudut pandang kita?. Rasa ingin tahu yang mendalam akan realitas yang terjadi menghantar manusia mendekati kebenaran yang sempurna. Karena manusia selalu mencari dan menganalisis apa yang terjadi melalui akal budinya.

Maka bisa kita simpulkan bahwa ketika kita menggunakan kata “filsafat”. Kita akan mengacu pada sebuah pencarian mendalam dari manusia dalam menemukan segala realitas tentang hidupnya demi memuaskan akal budi. Seperti mengapa manusia ada? Mengapa kita tidak boleh berbohong? Dan masih banyak lagi.

Hakikat objek kajian filsafat adalah segala sesuatu yang terdalam tentang realitas hidup. Seperti keberadaan Tuhan, keabadian jiwa manusia, dan prinsip-prinsip hukum alam. Yang semuanya dapat dicapai oleh akal budi manusia tanpa melakukan penelitian sekalipun. Namun tetap dengan alasan yang benar pula. Permasalahan filsafat mencakup pertanyaan-pertanyaan mengenai makna, kebenaran, dan hubungan logis di antara ide-ide dasar yang tidak dapat dipecahkan oleh ilmu pengetahuan empiris[2]. Hal itu secara tidak langsung mengharuskan manusia untuk mau berpikir keras atau mempunyai etos yang tinggi. Lalu apa hubungan filsafat dan ilmu pengetahuan pada umumnya?. Melihat hakikat objek kajian filsafat di atas. Hal itu tidak berarti filsafat serta-merta “membuang” ilmu pengetahuan ilmiah. Namun justru filsafat Pembahasan filsafat selalu dimulai dari sebuah titik tolak. Titik tolak itu tidak jarang adalah sebuah hasil pemikiran ilmiah. Dan jika itu dibuang atau dilepaskan begitu saja, filsafat tidak akan sah dan memulai pembahasannya. Rene Descartes merupakan salah satu Filsuf yang tidak setuju dengan pandangan tersebut. Ia menilai bahwa pembahasan semua filsafat harus dimulai dari nol. Orang-orang seperti ini sering di sebuat aliran skeptis. Contoh, filasafat harus percaya bahwa 2 + 2 = 4 sebelum melanjutkan pembahasan lebih lanjut. Berbeda dengan para penganut sketisisme yang masih bertanya dan memperdebatkan hal itu. Contoh lain, sebelum mempelajari filsafat kita harus percaya bahwa akal budi mampu memecahkan masalah filsafat. Jika itu belum bisa kita terima, pembahasan filsafatpun tidak akan bisa berlanjut dan berkembang.

Filsafat melampaui seni. Karena pembahasan seni dimulai dari pengalaman. Sedangkan filsafat tidak berhenti hanya sampai pada sebuah pengalaman. Melainkan mencoba melampaui apa yang juga sering disebut ilmu pengetahuan. Ketika ilmu pengetahuan mempertanyaakan mengapa materi air bisa berubah menjadi es?. Filsafat mencari sampai pada apa yang disebut hakekat, asalmuasal, atau orang Yunani Kuno menyebutnya dengan arche. Yaitu penciptaan materi oleh Allah. Maka bisa kita simpulkan bahwa filsafat mencari penjelasan-penjelasan dari hasil ilmu pengetahuan tentang penyebab mendasar atau hakekatnya.

Seperti pada pengetahuan pada umunnya. Dalam filsafat juga terdapat obyek material dan obyek formal. Obyek materialnya adalah, sekali lagi harus dikatakan bahwa filsafat mempelajari segala sesuatu tentang realitas hidup dengan mencari satu hal terakhir yang menjadi inti, pusat, prinsip, atau hakekatnya. Yang akhirnya memunculkan cabang-cabang dalam filsafat. Seperti logika, etika, filsafat politik, estetika, dan masih banyak lainnya.

Kemudian yang menjadi obyek formalnya adalah melakukan pencarian atas penjelasan-penjelasan yang terdalam mengenai keberadaan dan sifat dari mahluk. Dan hal ini pulalah yang kemudian sungguh menjadi pembeda yang besar antara filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya. Pembahasan yang mereka lakukan sudah sangat spesifik dan terbatas. Misalnya dunia Biologi akan berkata bahwa manusia hanya terdiri dari tubuh atau raga. Sedangkan penjelasan berbeda akan kita temukan dalam filsafat. Karena diruntut sampai yang terdalam.

Filsafat mempunyai hubungan erat dengan manusia. Keeratan itu nampak jelas baik dalam dunia politik, ideologi, maupun kultur yang ada dalam masyarakat. Namun kadang apa yang ada dalam masyarakat tersebut belum memilik gagasan filosofis. Misalnya apakah bentuk negara demokrasi adalah bentuk Negara yang sungguh menghargai keadilan? Akhirnya filsafat sebagi cinta akan kebijaksanaan akan membantu kita dalam mencari kebenaran terdalam dari segala segauatu tentang realitas hidup.



[1] A.C. Ewing, Persoalan-Perssoalan Mendasar Filsafat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hlm 1.

[2] Mark B. Woodhouse, Berfilsafat (Sebuah Langkah Awal), (Yogyakarta: Kanisius, 2000), hlm 15.

Jati Diri Manusia sebagai Landasan Pengembangan Epistemologi

(Kristoforus Sri Ratulayn K.N)

Dalam menjelaskan masalah jati diri manusia sebagai landasan pengembangan epistemologi, saya akan mengurainya dalam tiga sub-tema besar. Pertama, adalah penjelasan mengenai apa itu jati diri manusia? Kedua penjelasan bagaimana peran jati diri sebagai “Pengada Aktual” dalam rangka pengembangan epistemologi? Ketiga, kita akan melihat jati diri sebagai kesatuan subjek atau bisa juga kita sebut ciri yang tak terpisahkan dari jati diri sebagai kesatuan subjek.

Apa itu jati diri manusia?

Pada pembahasan awal ini kita akan mendalami terlebih dahulu apa itu jati diri manusia? Kita akan menemukan dua kata kunci dari jati diri yaitu kesatuan (Unitas) dan keberagaman (kompleksitas)[1]. Kesatuan berarti bahwa dalam diri manusia terdapat berbagai unsur pembentuk yang tak dapat terbagi-bagi. Seperti kesatuan karakter, sifat, watak, kepribadian, identitas diri, dan keunikannya yang ada di dalamnya. Akhirnya tidak bisa disangkali bahwa terdapat pula keberagaman, karena kompleksnya unsur-unsur yang ada di dalamnya. Contoh, dalam sebatang rokok terdapat berbagai unsur yang membuatnya pantas disebut rokok, yang unsur-unsurnya tidak bisa dipisahkan dan kompleks.

Melihat unsur-unsur yang terkandung dalam jati diri seperti karakter, sifat, watak, kepribadian dan identitas diri. Maka, bisa kita simpulkan bahwa jati diri manusia bukan merupakan sesuatu yang statis dan final. Karena jati diri sendiri adalah sebagai subjek pengada aktual bagi pengetahuan dengan sifatnya yang terus berproses. Untuk penjelasan lebih lanjut tentang pengada aktual akan di jelaskan dalam sub tema kedua.

Bagaimana peran jati diri sebagai “Pengada Aktual” dalam rangka pengembangan epistemologi?

Istilah Pengada aktual sering mengacu atau berhubungan pada causa efficiens. Yaitu sebuah pengertian bahwa adanya kemampuan-kemampuan yang khas dan majemuk dalam diri manusia yang mengadakan sesuatu secara aktif dan dinamis. Sifatnya yang aktif dan dinamis selanjutnya mengarahkan bahwa jati diri manusia tidak bisa dibatasi dalam satu aspeknya dan menjadi lebih sempit. Karena jati diri mempunyai kesatuan dan keunikan seperti pada penjelasan di sub-tema pertama.

Terdapat tiga tahapan dalam penemuan jati diri. Yaitu tahap pengumpulan data, tahap pengolahan data, dan tahap kepenuhan diri. Tahap pengumpulan data adalah tahap dimana seseorang mulai menangkap data-data atau nilai-nilai yang telah ada dalam dunianya. Tahap pengolahan secara sederhana adalah tahap dimana seseorang mulai mampu untuk menalarkan berbagai pengetahuan yang telah ia dapatkan dalam tahap pengumpulan data tadi. Terakhir tahap kepenuhan adalah tahap akhir yang juga bisa dikatakan bahwa seseorang telah mencapai jati dirinya, sehingga telah mampu menjadi objek bagi pengada lainnya.

Dari penjelasan diatas bisa kita simpulkan bahwa jati diri manusialah causa efficiens dalam rangka pengembangan epistemologi. Hal ini dilihat dari sudut bagaimana dalam pencapaiannya sebagai jati diri itulah juga termasuk pengembangan epistemologi. Dalam rangka pencapaian jati diri turut melibatkan pula pengolahan pengetahuan di dalamnya, yang hal itu juga merupakan pengembangan epistemologi. Intinya bahwa dalam proses pembentukan jati diri itulah terjadi pula pengembangan epistemologi.

Sebagai contoh, ketika seorang anak mulai sadar bahwa dirinya mempunyai intelejensi, dia mulai mempelajari berbagai hal yang ada dalam dirinya. Kemudian lebih lanjut dia mampu mengolah pengetahuannya atau menalar apa yang telah dia dapatkan. Hingga sampai pada tahap dimana ia sungguh telah mampu sampai ,menjadi bahan bagi pengada baru.

Jati diri sebagai kesatuan subjek dalam pengembangan epistemologi

Pada bagian ini kita akan mendalami bagaimana jati diri sebagai kesatuan subjek dalam pengembangan epistemologi mempunyai ciri yang tak terpisahkan. Secara sederhana bisa kita pahami bahwa jati diri disebut sebagai kesatuan subjek karena di dalamnya terdapat banyak sekali input dalam rangka menemukan kepastian. Misalnya masukan dari imajinasi, intuisi, atau insight. Dalam rangka menemukan kepastian pengetahuan atau pengembangan epistemologi, unsur-unsur itu tidak boleh dipilah-dipilah.

Kita tidak bisa memilah-milah atau mengambil bagian per bagian dari berbagai input yang telah kita dapatkan dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam hal inilah jati diri sebagai sebuah kesatuan subjek pengembangan epistemologi. Sebagai contoh, dalam menentukan benar atau salah sesuatu kita tidak bisa memisahkan mana yang dihasilkan dari imajinasi dan mana yang intuisi. Seakali lagi karena jati diri adalah sebuah kesatuan. Seolah-olah memang sudah menjadi satu paket, misalnya seperti dalam promosi barang dagangan beli satu dapat dua.



[1] Lih. Aholiab Watloly, Tanggung Jawab Pengetahuan: Mempertimbangkan Epistemologi secara Kultural, Kanisius: Yogyakarta, 2001, hlm. 124.

Sabtu, 24 Oktober 2009

Rokok: Kebutuhan Tubuh yang Memenjarakan Jiwa

(Kristoforus Sri Ratulayn Kino Nara*)



Bagi sebagian besar orang, rokok telah menjadi kebutuhan yang bahkan disamakan dengan kebutuhan untuk makan dan minum. Kebutuhan akan rokok sudah menjadi kebutuhan yang sangat sentral. Mereka disebut sebagai perokok berat. Bahkan ada yang mengatakan bahwa rokok telah menjadi “istri” kedua mereka. Dengan demikian bisa kita katakan bahwa kebutuhan akan rokok selalu menuntut seorang perokok untuk mencari dan menghisapnya. Tentu banyak faktor yang harus kita lihat dalam membicarakan masalah ini. Namun dalam pembahasan ini, kita akan melihat bagaimana kebutuhan akan merokok dikritisi atau ditinjau dari sisi filsafat.

Tema “Cogito” kali ini, rokok dan kebebasan, membuat saya ingin mengambil posisi sebagai kontra terhadap tema besar itu. Argumen saya adalah bahwa dengan merokok, manusia tidak bebas. Pada pembahasan ini saya akan membaginya dalam tiga bagian. Pertama, kita akan melihat bagaimana ajaran Plato tentang tubuh dan jiwa. Kedua, analisis dengan mengacu pada teori Plato tentang tubuh dan jiwa dengan kaitannya dalam kebutuhan manusia akan (me)rokok. Bagian terakhir nantinya adalah sebuah kesimpulan, bahwa rokok merupakan kebutuhan tubuh yang memenjarakan jiwa manusia.


Teori Plato tentang Tubuh dan Jiwa Manusia1

Plato, seorang filsuf terbesar dalam sejarah filsafat Yunani Kuno, memandang aspek dualisme dualisme, yakni bahwa manusia terdiri dari dua hakikat yang berlainan, tubuh dan jiwa. Tubuh mempunyai sifat yang rapuh, mudah berubah, dan tidak tetap. Sedangkan jiwa adalah sesuatu yang kasat mata, tetap dan abadi. Jiwa selalu mempunyai kerinduan untuk mencapai kearifan dan kebijaksanaan.

Bagi Plato tubuh adalah kuburan bagi jiwa. Dalam artian, jiwa sudah ada di suatu tempat yang penuh dengan kearifan sebelum dilahirkan. Pada suatu ketika jiwa mengalami inkarnasi dan masuk ke dalam tubuh. Tubuh yang mempunyai sifat rapuh, tidak tetap, dan selalu berubah menjadi penghalang bagi jiwa untuk mencapai kearifan dan kebijaksanaan. Tubuh akan “membingungkan” manusia dalam usaha mencari kebenaran. Menurut Plato berfilsafat berkaitan hanya dengan pikiran atau jiwa.

Plato menambahkan bahwa jiwa bernalar paling indah, ketika tidak satu pun dari hal-hal yang ragawi, seperti pendengaran, peglihatan, duka cita ataupun kesenangan, menghalanginya untuk mencapai kebenaran. Dengan meninggalkan tubuhnya manusia akan mampu menemukan hakikat segala sesuatu (Lih. Phaedo 65c). Tubuh mempunyai sifat mengarahkan seseorang untuk mencari kesenangan, misalnya makan dan minum. Manusia yang terlalu terpengaruh oleh tubuh akan menjadi pemuja tubuh. Inilah yang sungguh menjadi penghambat bagi jiwa untuk mampu bernalar hingga mencapai kearifan dan kebijaksanaan.


Selama kita tubuh manusia yang menemani argument yang kita kembangkan dalam penyelidikan kita, jiwa kita akan tercampur dengan hal jahat semacam ini, kita tidak akan pernah mendapatkan apa yang kita inginkan” (Phaedo 66b; bdk. 64d-65d)


Suatu ketika seorang mahasiswa mengalami sakit panas yang memaksanya harus beristirahat untuk beberapa minggu. Padahal ia harus belajar dan memahami materi ujian yang akan dia hadapi. Dengan demikian nampak secara langsung bahwa tubuh menghalangi jiwa untuk bernalar dan mencapai kebijaksanaan.


Analisis

Pada bagian ini kita akan mengulas lebih dalam mengenai kebutuhan akan merokok dengan kebebasan. Dimana letak hubungan antara rokok dan tubuh sehingga dikatakan menjadikan tidak bebas?

Jelaslah bahwa rokok adalah kebutuhan tubuh. Tubuhlah -yang karena efek nikotin- membuat manusia ketagihan untuk mengkonsumsinya. Jika tidak merokok dalam waktu lama, tubuh akan mengalami kesemutan di lengan dan kaki, berkeringat dan gemetar, gelisah, susah konsentrasi, sulit tidur, lelah atau pusing. Dengan bahasa lain kita bisa mengatakan, bahwa seorang pecandu rokok harus menghisap rokok secara rutin. Rokok adalah kebutuhan tubuh.

Berdasarkan teori yang telah kita lihat pada sub-pembahasan sebelumnya, kita bisa membayangkan apa yang dikatakan Plato, jika ia masih hidup saat ini. Dengan lantang Plato akan berkata bahwa rokok adalah “kuburan” bagi jiwa manusia. Logikannya demikian: karena rokok adalah kebutuhan tubuh, sedangkan tubuh sendiri adalah penjara bagi jiwa. Maka rokokpun adalah sebuah penjara atau kuburan bagi jiwa manusia. Kita bisa mengambil contoh. Suatu ketika seseorang pecandu rokok yang berprofesi sebagi dosen harus memberikan kuliah kepada mahasiswanya namun kebutuhan akan merokoknya belum terpenuhi sebelumnya. Kita bisa mengkira-kira apa yang terjadi pada dosen tersebut? Tidak tenang, sulit berkonsentrasi, dsb.

Kesimpulan

Bagian terakhir ini sekedar untuk lebih menegaskan kembali argumen awal, bahwa (me)rokok adalah kebutuhan yang memenjarakan manusia, terutama ditinjau dari teori Plato tentang tubuh dan jiwa. Rokok adalah kebutuhan tubuh, karena berkaitan dengan tubuh yang juga menjadi penjara jiwa untuk mencapai kebijaksanaanm maka bisa kita simpulkan bahwa rokokpun menjadi penjara atau kuburan bagi manusia.

Relevansi yang bisa kita ambil dari semua pembahasan di atas adalah; mari kita mengkritisi kembali keputusan kita yang memilih untuk “dijajah” oleh rokok. Rokok yang sebenarnya justru memperbudak kita, sehingga tidak dapat mencapai kebaikan. Mari kita tanamkan hidup sehat dan bijaksana tanpa rokok!!!.


*Penulis adalah mahasiswa Skolastikat Filsafat

Providentia Dei, Surabaya

1 Untuk bagian ini, saya mengacu pada teori Plato tentang tubuh dan jiwa dalam bukunya yang berjudul Phaedo.

Senin, 19 Oktober 2009

KTI Kelas IV Seminari Garum

Pengaruh English Community TerhadapPerkembangan Kemampuan Berbicara (Speaking) Bahasa Inggris Anggota English Community Kelas X Tahun Pelajaran 2007-2008”

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan Untuk Menyelesaikan Tugas

Karya Tulis Ilmiah

Disusun Oleh:

Kristoforus Sri Ratulayn Kino Nara

1378

Seminari Menengah St. Vincentius A Paulo Garum

Keuskupan Surabaya

Blitar

2008

Pengaruh English Community TerhadapPerkembangan Kemampuan Berbicara (Speaking) Bahasa Inggris Anggota English Community Kelas X Tahun Pelajaran 2007-2008”

Disusun oleh:

Kristoforus Sri Ratulayn Kino Nara

1378

Disetujui oleh:

A. M. Nugroho

Pembimbing

Pada tanggal_______________2008

Seminari Menengah St. Vincentius A Paulo Garum

Keuskupan Surabaya

Blitar

2008

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur, penulis haturkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala limpahan kasih dan rahmat-Nya, sehingga karya tulis yang berjudul “Pengaruh English Community Terhadap Perkembangan Kemampuan Berbicara (Speaking) Bahasa Inggris Anggota English Community Kelas X Tahun Pelajaran 2007-2008” dapat terselesaikan.

Karya tulis ini disusun untuk memenuhi tugas bidang studi karya tulis Ilmiah. Dengan rendah hati penulis ingin menyumbangkan karya tulis ini bagi keluarga besar Seminari Menengah St. Vinsensius A Paulo.

Adapun karya tulis ini tidak dapat terselesaikan tanpa bantuan, dorongan dan motivasi dari beberapa pihak. Untuk itu disini penulis dengan segala kerendahan hati mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada :

  1. Romo Cosmas Benediktus Senti Fernandes, Pr. sebagai Rektor Seminari Menengah St. Vinsensius A Paulo atas dorongan dan motivasi yang diberikan untuk menyelesaikan karya tulis ini.

  2. Keluarga di Surabaya (Mama, Papa, Mas Johan, dan Gerry) atas segala hal yang telah diberikan.

  3. Bapak Nugroho, selaku pembimbing yang dengan setia dan tekun mendamping pembuatan karya tulis ini.

  4. Ibu Sutarnik, selaku guru pembina English Community yang dengan terbuka memperbolehkan penulis mengikuti kegiatan English Community dan meluangkan waktunya untuk memberikan informasi-informasi yang penulis butuhkan.

  5. Teman-teman anggota English Community kelas X tahun pelajaran 2007-2008, yang telah meluangkan waktu untuk mengisi angket.

  6. Teman-teman satu angkatan (St. Tarsisius), yang telah meluangkan waktu untuk bertukar pikiran dan selalu memberikan semangat untuk menyelesaikan karya tulis ini.

  7. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Semoga semua pihak yang telah mendukung dan membantu menyelesaikan karya tulis ini, selalu diberkati oleh Allah Bapa.

Penulis juga menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari sempurna, untuk itu dengan segala rendah hati penulis mengharapkan usul, saran, dan kritik demi perkembangan ke depan. Semoga karya tulis ini dapat berguna bagi para pembaca.

Garum, 01 April 2008

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul i

Lembar Pengesahan ii

Kata Pengantar iii

Daftar Isi v

Daftar Diagram vii

Lembar Motto viii

Abstrak ix

BAB I: PENDAHULUAN

    1. Latar belakang masalah 1

    2. Rumusan Masalah 2

    3. Tujuan 2

    4. Manfaat 2

    5. Hipotesis 3

    6. Batasan Konsep 3

    7. Metodologi Penelitian 3

BAB II: KEDUDUKAN BAHASA INGGRIS

2.1 Bahasa Inggris 6

2.1.1 Kompetensi-kompetensi Dalam Bahasa Inggris 7

2.1.1.1 Listening 7

2.1.1.2 Speaking 8

2.1.1.3 Writing 8

2.1.1.4 Reading 9

2.2 Fungsi dan Tujuan Penguasaan Bahasa Inggris 9

2.3 Sejarah Bahasa Inggris 9

BAB IIIENGLISH COMMUNITY SEMINARI GARUM

3.1 Sejarah English Community Seminari Garum 11

3.2 Perkembangan English Community Seminari Garum 12

3.3 Kegiatan English Community Seminari Garum 12

3.4 Standar Kemampuan Speaking Dalam English Community 13

BAB IV PAPARAN DAN ANALISIS DATA

4.1 Data Hasil Kuesioner 17

4.1.1 Alasan Mengikuti English Community 17

4.1.2 Senang Atau Tidak Mengikuti English Community 18

4.1.3Kemampuan Speaking Dalam Hal Leksikogramatika Sebelum

Mengikuti English Community 20

4.1.4 Kemampuan Speaking Dalam Hal Leksikogramatika Setelah

MengikutiEnglish Community 22

4.1.5Kemampuan Speaking Dalam Hal Sistematika Interaksional

Sebelum Mengikuti English Community 24

4.1.6 Kemampuan Speaking Dalam Hal Sistematika Interaksional

Setelah Mengikuti English Community 26

4.1.7 Kemampuan Speaking Dalam Hal Ucapan dan Intonasi

Sebelum Mengikuti English Community 27

4.1.8 Kemampuan Speaking Dalam Hal Ucapan dan Intonasi

Setelah Mengikuti English Community 29

4.1.9 Kemampuan Speaking Dalam Hal Komunikasi Interaktif

Sebelum Mengikuti English Community 31

      1. Kemampuan Speaking Dalam Hal Komunikasi Interaktif

Setelah Mengikuti English Community 33

4.2 Data Hasil Wawancara 35

BAB IV Penutup

    1. Kesimpulan 37

    2. Saran 37

DAFTAR PUSTAKA 39

LAMPIRAN 40

DAFTAR DIAGRAM

Diagram 4.1: Senang atau Tidak Mengikuti English Community 19

Diagram 4.2: Kemampuan Speaking Dalam Hal Leksikogramatika

Sebelum Mengikuti English Community 21

Diagram 4.3: Kemampuan Speaking Dalam Hal Leksikogramatika

Setelah Mengikuti English Community23

Diagram 4.4:Kemampuan Speaking Dalam Hal Sistematika Interaksional

Sebelum Mengikuti English Community 25

Diagram 4.5:Kemampuan Speaking Dalam Hal Sistematika Interaksional

Setelah Mengikuti English Community 27

Diagram 4.6:Kemampuan Speaking Dalam Hal Ucapan dan Intonasi

Sebelum Mengikuti English Community 28

Diagram 4.7: Kemampuan Speaking Dalam Hal Ucapan dan Intonasi

Setelah Mengikuti English Community 30

Daigram 4.8:Kemampuan Speaking Dalam Hal Komunikasi Interaktif

Sebelum Mengikuti English Community 32

Diagram 4.9:Kemampuan Speaking Dalam Hal Komunikasi Interaktif

Setelah Mengikuti English Community 34

Oleh karena Dialah aku telah

Melepaskan semuanya itu

dan menganggapnya sampah,

supaya aku memperoleh Kristus

(Flp 3:8b)

ABSTRAK

Alasan penulis meneliti pengaruh English Community terhadap perkembangan kemampuan berbicara bahasa Inggris anggota English Community Kelas X tahun pelajaran 2007-2008 adalah keprihatinan penulis terhadap lemahnya kesadaran Seminaris Garum akan pentingnya penguasaan Bahasa Inggris. Penguasaan bahasa Inggris itu penting karena melihat Seminaris adalah calon Imam yang kelak akan mendapat tugas-tugas studi lebih lanjut dan tugas-tugas perutusan di luar negeri.

Masalah pokok yang dikaji dalam penelitian ini, yaitu adakah pengaruh English Community terhadap perkembangan kemampuan berbicara (Speaking) bahasa Inggris anggota English Community kelas X tahun pelajaran 2007-2008?

Secara umum tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pengaruh English Community terhadap perkembangan kemampuan berbicara bahasa Inggris anggota English Community kelas X tahun pelajaran 2007-2008.

Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah menggunakan penelitian kualitatif dengan kuesioner, wawancara, dan observasi sebagai metode pengumpulan datanya. Populasinya adalah semua anggota English Community Kelas X tahun pelajaran 2007-2008. Penulis memilih anggota kelas X dengan alasan, karena materi anggota English Community kelas X sesuai dengan apa yang hendak dibahasa atau diteliti yaitu mengenai speaking.

Dalam analisis penulis terhadap pengaruh English Community terhadap perkembangan kemampuan berbicara bahasa Inggris anggota English Community Kelas X tahun pelajarn 2007-2008 ditemukan fakta bahwa anggota English Community mengalami perkembangan dalam hal speaking.

Dengan acuan standar penilaian kemampuan speaking yang baik dan benar dari Guru Pembina English Community masalah adakah pengaruh English Community terhadap perkembangan kemampuan berbicara bahasa Inggris anggota English Community Kelas X tahun pelajaran 2007-2008 dapat penulis pecahkan.

Bertolak dari hasil analisis di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ada ada pengaruh antara mengikuti English Community dan perkembangan kemampuan berbicara bahasa Inggris anggota English Community kelas X tahun pelajaran 2007-2008. Terbukti, karena adanya perubahan jumlah penilaian yang terjadi antara sebelum dan sesudah mengikuti English Community. Kajian ini dapat dijadikan dororngan untuk menyadarkan (refleksi) dalam menghadapi/mengatasi berbagai persoalan sosial yang sering terjadi.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Globalisasi menuntut setiap individu untuk mempersiapkan sumber daya yang handal dalam penguasaan bahasa Inggris karena bahasa Inggris adalah bahasa Internasional1. Kalimat tersebut sudah menggambarkan pentingnya penguasaan bahasa Inggris di era globalisasi ini.

Seminaris sebagai calon Imam, perlu menguasai bahasa Inggris dengan baik dan benar karena bahasa tersebut diperlukan untuk studi lebih lanjut dan untuk tugas-tugas perutusan di luar negeri. Dengan melihat kenyataan seperti itu muncul keprihatian penulis akan lemahnya kesadaran Seminaris Garum untuk menguasai bahasa Inggris. Keprihatinan itu kemudian sedikit terpuaskan dengan dibentuknya English Community pada tahun pelajaran 2005-2006, namun English Community yang telah dibentuk pada tahun ajaran 2005-2006 itu kurang berjalan dengan baik karena sifatnya yang kurang terkoordinasi dengan baik. Para anggota English Community kurang mendapat bimbingan secara khusus. Baru pada tahun ajaran 2007-2008 English Community mengalami beberapa perubahan yang mendasar. Jika pada tahun ajaran 2005-2006 anggota English Community adalah siswa Seminariyang lolos dalam seleksi yang dilakukan oleh staf guru pada tahun ajaran 2007-2008 berubah menjadi salah satu bentuk ekstrakulikuler yang ada di Seminari Garum. Jadi, sifatnya terbuka bagi semua siswa Seminari yang berminat untuk mengikutinya. Juga mulai ada guru pembina dan jadual yang tetap untuk setiap pertemuannya.

Berdasarkan uraian diatas, penulis ingin meneliti pengaruh English Community terhadap perkembangan kemampuan berbicara bahasa Inggris bagi anggota English Community di Seminari Garum.

Penulis memilih kemampuan dalam hal speaking atau conversation, karena berdasarkan pengamatan penulis, kemampuan speaking sangat penting. Mengingat pentingnya speaking yaitu untuk mengungkapkan makna dalam percakapan baik transaksional maupun interpersonal.

Penulis memilih kelas X sebagai subjek yang akan diteliti dengan alasan materi yang dilatihkan di English Community kelas X adalah speaking.

Dengan berbagai pertimbangan di atas, akhirnya tersusunlah judul penelitian ini, yaitu PENGARUH ENGLISH COMMUNITY TERHADAP PERKEMBANGAN KEMAMPUAN BERBICARA BAHASA INGGRIS ANGGOTA ENGLISH COMMUNITY KELAS X TAHUN PELAJARAN 2007-2008.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dibahas dalam karya tulis ini adalah adakah pengaruh English Community terhadap perkembangan kemampuan berbicara bahasa Inggris anggota English Community kelas X tahun pelajaran 2007-2008?

1.3 Tujuan Penelitian

Secara umum penulisan karya tulis ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh English Community terhadap perkembangan kemampuan berbicara (speaking) bahasa Inggris anggota English Community kelas X tahun pelajaran 2007-2008.

1.4 Manfaat

Manfaat penelitian ini :

  1. Bagi Seminaris

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi bagi para Seminaris tentang pengaruh English Community terhadap perkembangan kemampuan speaking para anggotanya kelas X tahun pelajaran 2007-2008.

  1. Bagi Staf Pembina

Penelitian ini diharapkan menjadi bahan referensi yang berguna bagi pembelajaran Bahasa Inggris khususnya materi speaking.

3. Bagi Penulis

Penelitian ini dapat menambah wawasan penulis tentang teori dan praktek berbicara bahasa Inggris.

1.5 Hipotesis

Ho. Tidak ada pengaruh antara mengikuti English Community dan perkembangan kemampuan berbicara bahasa Inggris anggota English Community Kelas X tahun pelajaran 2007-2008.

H1. Ada pengaruh antara mengikuti English Community dan perkembangan kemampuan berbicara bahasa Inggris anggota English Community kelas X tahun pelajaran 2007-2008.

1.6 Batasan Konsep

Untuk menghindari kesalahpahaman dalam memahami arah dan isi penelitian ini, diperlukan terminologi yang sama mengenai istilah-istilah yang dipakai dalam penelitian ini :

  1. English Community

English Community yang dimaksud adalah English Community yang ada di Seminari St. Vinsensius a Paulo Garum pada tahun ajaran 2007-2008. English Community yang dimaksud dalam penelitian ini adalah program pembelajaran English Community itu sendiri.

  1. Kemampuan berbicara (speaking) bahasa Inggris

Kemampuan berbicara (speaking) bahasa Inggris yang dimaksud disini adalah kemampuan dalam hal Speaking, sesuai dengan kurikulum pembina English Community yaitu leksikogramatika, sistematika interaksional, ucapan dan intonasi, dan komunikasi interaktif.

  1. Penelitian ini mempunyai batasan waktu dalam penelitiannya yaitu antara bulan September 2007 sampai Nopember 2007.

1.7 Metodologi Penelitian

Pada subbab ini, akan dijelaskan antara lain: 1) Jenis Penelitian, 2) Populasi, 3) Metode Pengumpulan Data, 4) Metode Analisis Data.

            1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Yang dimaksud penelitain kualitatif adalah penelitian dengan menggunakan sasaran yang terbatas, tapi dengan keterbatasannya itu digali sebanyak mungkin fenomena (kebahasaan). Dengan demikian sasaran peneliian terbatas, tetapi kedalaman data atau kualitas data tidak terbatas. Maka semakin berkualitas data yang dikumpulkan penelitian itu semakin berkualitas (Bungin,2001:29).

            1. Populasi2

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi.

Dalam penelitian ini, penulis mengambil populasi anggota English Community kelas X tahun pelajaran 2007-2008, yang berjumlah 23 seminaris.

            1. Metode Pengumpulan Data

a) Kuesioner3 Kuesioner3

Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui.

Metode kuesioner ini dilakukan oleh penulis untuk memperoleh data yang diperlukan oleh penulis. Kuesioner ini akan disebarkan kepada 23 seminaris anggota English Community kelas X tahun pelajaran 2007-2008.

Metode kuesioner yang dipakai dalam penelitian ini adalah angket campuran. Kuesioner yang pertama disebarkan pada hari Selasa, 4 Desember 2007 pukul 20.45. Sedangkan kuesioner yang kedua disebarkan pada hari Selasa, 11 Desember 2007 pukul 19.00.

b) Wawancara4

Interview yang sering juga disebut dengan wawancara atau kuesioner lisan, adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara (interviewer).

Dalam penelitian ini, penulis juga menggunakan metode wawancara. Metode ini digunakan untuk dapat menggali lebih dalam lagi data-data yang sudah didapat dari metode-metode lainnya.

Untuk membuat data lebih valid Penulis juga melakukan metode wawancara ini untuk memperoleh data yang dibutuhkan mengenai perkembangan anggota English Community kelas X tahun Pelajaran 2007-2008.

c). Observasi

Dalam penelitian ini penulis juga menggunakan metode observasi. Metode ini dilakukan penulis dengan cara mengikuti kegiatan English Community yang diadakan setiap hari Kamis.

Metode ini dilakukan untuk memperoleh data mengenai perkembangan kemampuan Speaking objek yang diteliti dengan merekam suara anggota ketika kegiatan English Community berlangsung.

            1. Metode Analisis Data

Analisis merupakan tahap yang penting dan menentukan, karena pada tahap ini dilakukan kegiatan menyimpulkan kebenaran-kebenaran (Silalahi,2003:88). Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode deskriptif.

BAB II

KEDUDUKAN BAHASA INGGRIS

2.1 Bahasa Inggris

Ada berbagai macam bahasa dalam peri kehidupan. Setiap negara mempunyai bahasa yang berbeda-beda. Bahasa sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk berkomunikasi. Dalam dunia pendidikan bahasa juga sangat mempunyai peranan yang berarti . Tanpa bahasa proses belajar-mengajar tidak akan berjalan lancar dan baik, dengan begitu dapat diketahui bahasa sangat diperlukan dalam bidang pendidikan. Ada banyak bahasa yang digunakan manusia dalam berkomunikasi, di dalam melakukan setiap aktifitas manusia selalu menggunaan bahasa untuk berkomunikasi. Salah satu bahasa yang digunakan manusia dalam berkomunikasi adalah bahasa Inggris. Dalam pendidikan, bahasa Inggris sangat diperlukan dan merupakan salah satu bahasa yang dijadikan sebagai bahasa pokok selain bahasa Indonesia.

Bahasa Inggris adalah alat berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan5. Dalam Standar Penilaian Buku Pelajaran Bahasa Inggris menjelaskan bahwa Departemen Pendidikan Nasional yang sedang mempersiapkan standar kompetensi dalam Kurikulum 2004, menetapkan bahwa kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa Indonesia adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, serta mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya dengan menggunakan bahasa Inggris. Dengan demikian, bahasa Inggris berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi dalam rangka mengakses informasi selain sebagai alat untuk membina hubungan interpersonal, bertukar informasi serta menikmati estetika bahasa dalam budaya Inggris (Departemen Pendidikan,2003:2)

Maka jelaslah kedudukan dan pentingnya bahasa Inggris untuk dikuasai oleh setiap pelajar. Setiap pelajar diharapkan dapat menguasai bahasa Inggris mengingat pentingnya bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa asing untuk menjadi alat utama belajar, karena bahasa Inggris adalah bahasa Internasional. Untuk dapat berkomunikasi dengan dunia Internasional, maka setiap pelajar seharusnya senantiasa mempelajari bahasa Inggris yang merupakan bahasa internasional. Sebagai generasi muda penerus bangsa, pelajar memiliki tanggung jawab untuk menjalin persatuan dengan Negara-negara lain di era global ini agar Indonesia tidak kalah bersaing dengan yang lain. Untuk menjalin persatuan itu pelajar sebagai generasi penerus bangsa harus belajar berkomunikasi dengan baik, dan salah satu caranya adalah dengan mempelajari bahasa Ingris sebagai bahasa Internasional.

      1. Kompetensi-Kompetensi dalam Bahasa Inggris

2.1.1.1Kemampuan Mendengarkan (Listening)

Mendengarkan dalam kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti 1. mendengar akan sesuatu dengan sungguh-sungguh; memasang telinga baik-baik untuk mendengar. 2. Memperhatikan; mengindahkan; menurut (nasihat, bujukan, dsb)6. Kompetensi ini haruslah dimiliki oleh sesorang dalam mempelajari bahasa Inggris yang baik dan benar. Dalam bahasa Inggris makna listening berarti memahami makna dalam percakapan transaksional dan interpersonal dalam konteks kehidupan sehari-hari. Memahami makna teks fungsional pendek dan teks monolog sederhana dalm bentuk-bentuk tertentu.7

Dari sini dapat dilihat bahwa dalam kompetensi ini dipakai seseorang untuk memahami makna ketika seseorang melakukan transaksi, misalnya transaksi jual-beli barang dengan menggunakan bahasa Inggris. Jika tidak mampu menguasai kompetensi listening ini maka secara otomatis tidak akan bisa terjadi proses transaksi dengan baik. Selain transaksi, juga dijelaskan digunakan untuk memahami makna ketika melakukan percakapan atau interaksi dengan orang lain. Ketika berbicara dengan orang lain dengan menggunakan bahasa Inggris, tentunya harus menguasai kompentensi listening ini juga tidak akan dapat berkomunikasi dengan baik, karena tidak mampu mendengarkan apa yang dikatakan oleh lawan bicara.

2.1.1.2Kemampuan Berbicara (Speaking)

Speaking memiliki arti mengungkapkan makna dalam percakapan transaksional dalam konteks kehidupan sehari-hari, serta mengungkapkan makna dalam teks fungsional pendek dan monolog dalam bentuk-benuk tertentu.8Berbicara sendiri menurut kamus besar bahasa Indonesia memiliki arti: 1. berkata; bercakap; berbahasa. 2. melahirkan pendapat (dengan perkataan, tulisan, dsb) 3. berunding; merundingkan.

Berbicara (speaking) merupakan pokok bahasan yang akan menjadi fokus dari pembahaan karya tulis ini. Dengan kompetensi speaking seseorang dapat mengungkapkan makna dalam percakapan baik transaksional maupun interpersonal. Berbeda dengan listening, dalam speaking lebih condong kearah mengungkapkan makna atau menyampaikan apa yang ada dipikirannya. Serta mengungkapkan makna dalam teks fungsional pendek dan monolog.

Lebih jauh dengan penggunaan bahasa yang berhubungan dengan latar belakang diri, keterangan, mendapatkan informasi, suka atau tidak suka, lebih jauh dengan kemampuan pengucapan9. Penggunaan bahasa secara lebih luas mengenai pengungkapan opini, menjelaskan sesuatu mengenai orang, memberikan nasehat, mengajukan usulan, lebih jauh dengan pengucapan. Speaking juga berhubungan dengan merumuskan lebih kompleks fungsi bahasa yang berhubungan dengan kejadian sekarang, isu-isu, profesi dan pengucapan yang komunikatif.

2.1.1.3Kemampuan Menulis (Writing)

Kompetensi writing adalah kompetensi mengungkapkan makna dalam teks tulis fungsional pendek dan esei sederhana dalam bentuk-bentuk tertentu10. Dalam hal ini juga dikaitkan dengan kemampuan membuat kalimat dalam bahasa Inggris.

2.1.1.4Kemampuan Membaca (Reading)

Kompetensi reading adalah kompetensi memahami makna teks tulis fungsional pendek dan esei sederhana dalam bentuk-bentuk tertentu11. Kompetensi yang berhubungan dengan membangun kelancaran menggunakan kemampuan yang meliputi pengertian mengenai sesuatu secara detail, ide pokok, dan penguasaan kata-kata fungsional yang digunakan sehari-hari12. Memperkuat kemampuan membaca yang meliputi scanning, ide utama, perbendaharaan kata dan acuan dasar. Memperkuat kemampuan analisis dan berpikir kritis, mengunakan perbendaharaan kata yang luas dan ekspresi dan memperbaiki kemampuan membaca yang esensial.

2.2 Fungsi dan Tujuan Penguasaan Bahasa Inggris13

Dalam konteks pendidikan, bahasa Inggris berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi dalam rangka mengakses informasi, dan dalam konteks hidup sehari-hari, sebagai alat untuk membina hubungan interpersonal, bertukar informasi serta menikmati estetika bahasa dalam budaya Inggris.

2.3 Sejarah Bahasa Inggris14

Bermula dari lahirnya bahasa Inggris di pulau Britania kurang lebih 1.500 tahun yang lalu. Bahasa Inggris adalah sebuah bahasa Jermanik Barat yang berasal dari dialek-dialek Anglo-Frisia yang dibawa ke pulau Britania oleh para imigran Jermanik dari beberapa bagian barat laut daerah yang sekarang disebut Belanda dan Jerman. Pada awalnya, bahasa Inggris Kuna adalah sekelompok dialek yang mencerminkan asal-usul beragam kerajaan-kerajaan Anglo-Saxon di Inggris. Salah satu dialek ini, Saxon Barat akhirnya yang berdominasi. Lalu bahasa Inggris Kuna yang asli kemudian dipengaruhi oleh dua gelombang invasi.

Gelombang invasi pertama adalah invasi para penutur bahasa dari cabang Skandinavia keluarga bahasa Jerman. Mereka menaklukkan dan menghuni beberapa bagian Britania pada abad ke-8 dan ke-9.

Lalu gelombang invasi kedua ini ialah suku Norman pada abad ke-11 yang bertuturkan sebuah dialek bahasa Perancis. Kedua invasi ini mengakibatkan bahasa Inggris “bercampur” sampai kadar tertentu (meskipun tidak pernah menjadi sebuah bahasa campuran secara harafiah).

Hidup bersama dengan anggota sukubangsa Skandinavia akhirnya menciptakan simplifikasi tatabahasa dan pengkayaan inti Anglo-Inggris dari bahasa Inggris.

BAB III

ENGLISH COMMUNITY SEMINARI GARUM

3.1 Sejarah English Community Seminari Garum

Berawal pada tahun ajaran 2005-2006, Romo Pratista, Pr. (Kepala Sekolah SMAK. Seminari Garum) menugasi Bapak Nugroho (Guru pengajar mata pelajaran Bahasa Inggris di SMAK. Seminari Garum), untuk membentuk English Community. Suatu kelompok bahasa Inggris yang beranggotakan siswa-siswa Seminari Garum. Harapan mula-mula membentuk English Community ini adalah agar siswa-siswa SMAK Seminari Garum bisa leih maju dan berkembang dalam hal berbicara bahasa Inggris. Rm. Pratista, Pr. awalnya memang tertarik dengan anak-anak Madrasah yang sudah mahir dalam hal berbicara bahasa Inggris. Berangkat dari pengalaman itulah Rm. Pratista, Pr. mendirikan English Community agar siswa-siswa SMAK Seminari dapat menyamai anak-anak Madrasah.

Untuk masuk menjadi anggota English Community, siswa-siswa Seminari pada saat itu harus melalui beberapa tes untuk bisa menjadi salah satu anggota. Namun, siswa-siswa yang boleh mengikuti tes adalah siswa-siswa yang berani duduk di English Table15 ketika hari Kamis. Setelah terkumpul siswa-siswa yang telah terbukti berani duduk di English Table baru diadakan tes untuk mereka. Tes yang harus dilalui oleh siswa-siswa Seminari yang ingin masuk menjadi angota English Community adalah tes tertulis seperti ujian biasa, maksudnya siswa-siswa yang mengikuti tes diberikan beberapa soal pilihan ganda. Dalam tes itu ada beberapa materi tentang bahasa Inggris antara lain tentang tenses dan masih banyak lagi yang berhubungan atau seputar materi-materi yang ada dalam bahasa Inggris. Hasil pengerjaan tes dikoreksi oleh Guru bidang studi bahasa Inggris untuk dinilai dan dipilih siapa saja yang layak menjadi anggota English Community. Setelah lolos test maka siswa tersebut telah menjadi anggota English Community.

Siswa yang berhasil lolos dilantik pada waktu Upacara Bendera hari Senin dan kemudian diberi sebuah pin khusus pertanda bahwa ia anggota English Community. Anggota awalnya berjumlah 20 siswa yang terdiri dari beberapa siswa kelas X dan beberapa siswa kelas XI. Guru yang menjadi pembimbing adalah guru pengajar pelajaran bahasa Inggris sendiri yaitu Bapak Nugroho. Tugas para anggota English Community adalah berbicara menggunakan bahasa Inggris kepada siapapun juga ketika hari Kamis.

3.2 Perkembangan English Community Seminari Garum

English Community yang dibentuk pada tahun ajaran 2005-2006 ini mengalami perkembangan yang berarti apabila dibandingkan dengan tahun pertama berdiri. Perkembangan English Community dapat dilihat secara langsung. Beberapa hal yang dapat dilihat dari English Community adalah kuantitas anggota. Dari awal berdiri English Community hanya berjumlah 20 siswa, akan tetapi sekarang anggota English Community mencapai 50 siswa.

Dibanding English Community dahulu pada awal terbentuk adalah sebuah kelompok khusus untuk bahasa Inggris Seminari Garum, dalam perkembangannya English Community saat ini mengalami perubahan. Pada tahun ajaran 2007-2008 ini, English Community dijadikan ekstra kurikuler untuk membuat kegiatan English Community lebih tampak dan lebih mengembangkan anggotanya. English Community yang pada awal dibentuknya mengadakan tes untuk menerima anggota berubah menjadi terbuka bagi setiap siswa SMAK. Seminari Garum yang ingin menjadi anggotanya.

Perbedaan dasar yang dapat dilihat lagi adalah. Adanya kurikulum yang membedakan English Community daluhu dan sekarang. Dengan adanya kurikulum ini, English Community sebagai ekstra kurikuler diharapkan mempunyai tujuan yang jelas terutama dalam mengembangkan siswa dalam berbicara bahasa Inggris.

3.3 Kegiatan English Community Seminari Garum

Setelah English Community mengalami perubahan mendasar dalam tatanan di dalamnya yaitu berubah menjadi suatu ekstrakulikuler pada tahun ajaran 2007-2008. Mulai ada kegiatan atau pertemuan rutin bagi para anggotanya dengan didampingi guru pembina English Community yang baru yaitu setiap hari Kamis dan Jumat. Dalam dua kali pertemuan itu dibagi menjadi dua kelompok hari Kamis untuk anggota kelas X sedangkan untuk hari Jumat untuk anggota kelas XI, XII, dan Kelas Khusus. Pembagian ini didasarkan pada pertimbangan kemampuan masing-masing kelas. Hal ini bertujuan agar antara anggota English Community per kelas memiliki kemampuan yang sama satu dengan yang lain.

Apabila semua anggota English Community digabung menjadi satu kelompok, maka akan terdapat ketidak seimbangan antara anggota kelas X, XI, dan XII. Disadari atau tidak, kelas-kelas atas akan mendominasi jalannya kegiatan English Community apabila semua anggota digabung menjadi satu. Secara otomatis, kelas-kelas atas akan lebih mampu dan lebih cepat apabila dibandingkan dengan kelas-kelas bawah. Maka, dapat dilihat proses kegiatannya akan berjalan sulit. Karena terdapat perbedaan kemampuan. Akan menjadi sulit jika mengajar dengan kemampuan siswa yang berbeda-beda.

Kegiatan lain yang juga telah diadakan oleh English Community adalah membuat kalimat dalam bahasa Inggris. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengulangi dasar-dasar yang telah diperoleh dari SMP. Pengajaran materi-materi tentang tenses yang aplikasinya membuat sebuah cerita tentang kegiatan sehari-hari. Siswa diminta memuat sebuah cerita tentang kegiatan yang ia alami sehari-hari, yang tentunya menggunakan tenses-tenses yang sesuai. Untuk menghindari kebosanan terkadang juga diselingi dengan diadakannya permainan.

3.4 Standar Kemampuan Speaking Dalam English Community

Untuk dapat melihat dengan mudah apakah seseorang dapat melakukan Speaking dengan baik, diperlukan adanya standar atau sesuatu yang menjadi patokan.

Begitu juga dalam English Community, dalam English Community ditetapkan standar untuk mengukur kemampuan speaking siswa atau standar yang akan menjadi arah dalam pembelajaran Speaking dalam kegiatan English Community yang diperoleh dari guru pembina English Community sendiri. Beberapa standar itu adalah sebagai berikut :

No.

Aspek

Kriteria

Skor

1.

Leksikogramatika

1.Tata bahasa dan kosa kata tepat

2.Tata bahasa dan kosa kata kadang-kadang kurang tepat dan tidak mempengaruhi makna

  1. Tata bahasa dan kosa kata kurang tepat dan mempengaruhi makna

  2. Tata bahasa dan kosa kata sulit dipahami

  3. Diam

4

3

2

1

0

2.

Sistematika*

1. Interaksional

  1. Monolog

1. Melakukan dan merespon tindak tutur dengan tepat secara lisan

2. Melakukan dan merespon tindak tutur dimana kadang-kadang terdapat kesalah pahaman

3. Sering terjadi kesalahan dalam merespon tindak tutur

4. Tidak mampu merespon dan melakukan tindak tutur sederhana

5. Memproduksi kata yang tidak bermakna atau berbentuk teks

1. Sesuai dengan struktur teks yang maksimal dalan genre yang dipilih

2. Sesuai dengan struktur teks minimal dengan genre yang dipilih

3. Struktur teks kurang jelas dan mempengaruhi kejelasan makna

4. Gagasan dan struktur kurang jelas

5. Gagasan dan struktur sulit dipahami

5

4

3

2

1

5

4

3

2

1

3.

Ucapan dan Intonasi

1. Sangat jelas dan mendekati penutur asli

2. Sangat jelas walaupun dengan aksen bahasa ibu

3. Kurang jelas dan mempengaruhi makna

4. Tidak jelas dan mempengaruhi sebagian makna

5. Tidak jelas dan tidak bermakna

5

4

3

2

1

4.

Komunikasi Interaktif

1. Percaya diri dan lancar dalam mengambil giliran bicara dan mampu mengoreksi diri bila melakukan kesalahan

2. Percaya diri meskipun ada pengulangan atau keraguan

3. Lebih banyak merespon daripada berinisiatif

4. Sulit diajak bicara meskipun sudah dipancing

5. Tidak mampu merespon dan berinsiatif

4

3

2

1

0


Total Nilai


18

Ket : *Pilih Salah Satu

Nilai = Total Nilai Perolehan

2

BAB IV

PAPARAN DAN ANALISIS DATA

Dalam bab ini akan diuraikan data-data yang telah terkumpul melalui kuesioner. Data-data yang diperoleh dari kuesioner disajikan dalam bentuk diagram lingkaran. Hal-hal yang dibahas dalam bab ini adalah alasan mengikuti English Community, senang atau tidak mengikuti English Community, kemampuan speaking dalam hal leksikogramatika sebelum mengikuti English Community, kemampuan speaking dalam hal sistematika interaksional sebelum mengikuti English Community, kemampuan komunikasi interaksional sebelum mengikuti English Community, kemampuan speaking dalam hal ucapan dan intonasi sebelum mengikuti English Community, dan kemampuan speaking dalam hal komunikasi interaktif sebelum mengikuti English Community

Selain menyajikan data-data mengenai kemampuan speaking dalam hal leksikogramatika setelah mengikuti English Community, kemampuan speaking dalam hal sistematika interaksional setelah mengikuti English Community, kemampuan speaking dalam hal ucapan dan intonasi setelah mengikuti English Community, dan kemampuan speaking dalam hal komunikasi interaktif setelah mengikuti English Community. Data-data tersebut disajikan dengan tujuan agar dapat menjadi perbandingan dan menunjukkan dengan jelas apakah ada perubahan sebelum dan sesudah mengikuti English Community. Sementara, data yang diperoleh dari wawancara disajikan dalam bentuk deskripsi.

4.1 Data Hasil Kuesioner

4.1.1 Alasan Mengikuti English Community

Alasan mengikuti English Community itu sendiri merupakan sesuatu yang mendasar di dalam mengikuti kegiatan English Community, sebab di situ terdapat tujuan mengikuti English Community yang hendak dicapai. Berikut ini penulis menyajikan data alasan-alasan mengikuti English Community anggota English Community kelas X.

Pertanyaan: Mengapa anda ikut English Community di Seminari Garum?

Jawaban-jawaban yang muncul adalah sebagai berikut :

    1. Ingin bisa bicara dalam bahasa Inggris (6 orang)

    2. Untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris (1 orang)

    3. Ingin mengembangkan kemampuan bahasa Inggris (7 orang)

    4. Ingin bisa berbahasa Inggris ( 4 orang)

    5. Kelihaannya menarik (1 orang)

    6. Tertarik dengan bahasa Inggris (2 orang)

    7. Ingin melatih grammar (1 orang)

    8. Ingin menambah pengetahuan tentang bahasa Inggris (1 orang)

Dari data diatas ditemukan fakta bahwa sebagian besar anggota (7 orang) mengemukaan mengikuti English Community dikarenakan ingin mengembangkan kemampuan bahasa Inggris. Sedangkan 6 orang mengaku ingin bisa bicara dalam bahasa Inggris, oleh karena itu mereka mengikuti English Community. Lalu 4 orang tertarik mengikuti English Community karena ingin bisa berbahasa Inggris.

4.1.2 Senang atau Tidak Mengikuti English Community

Berikut ini penulis menyajikan data senang atau tidak mengikuti English Community anggota English Community kelas X.

Pertanyaan: Apakah Anda senang mengikuti English Community?Mengapa?


Pilihan Jawaban

Ya (A)

Tidak (B)

Jumlah

22 orang

1 orang

Alasan-alasan mengapa mereka senang yang muncul dari pertanyaan :

      1. Dapat memahami arti-arti kata bahasa Inggris (1 orang)

      2. Mendapakan banyak hal (2 orang)

      3. Gurunya lancar berbahasa Inggris dan memberikan banyak permainan sehingga tidak membosankan (2 orang)

      4. Menarik dan tidak membosankan (3 orang)

      5. Karena ingin belajar grammar dengan baik (2 orang)

      6. Karena memang niat untuk ikut (1 orang)

      7. Karena diajarkan berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris (1 orang)

      8. Dapat melihat kemampuan teman-teman (1 orang)

      9. Karena secara spontan kosa kata bertambah (3 orang)

      10. Karena ingin berkembang (2 orang)

      11. Karena Bahasa Inggris termasuk pelajaran yang disukai (1 orang)

      12. Karena lewat English Community bisa mempraktekkan bahasa Inggris (1 orang)

      13. Karena setelah mengikuti English Community menjadi lebih mengerti tentang bahasa Inggris (1 orang)

      14. Karena English Community menjadi ajang latihan berbahasa Inggris (1 orang)

Alasan yang muncul mengapa tidak senang mengikuti kegiaan English Community :

        1. English Communiy belum mengarah pada speaking dalam pengajarannya

Dari paparan data diagram 4.1 di atas diketemukan fakta bahwa 22 orang anggota (96%) English Community senang mengikuti English Community. Sedangkan 1 orang anggota (4%) English Community menyatakan tidak begitu senang mengikuti English Community.

4.1.3 Kemampuan Speaking Dalam Hal Leksikogramatika Sebelum Mengikuti English Community

Dalam subbab ini disajikan data mengenai kemampuan speaking dalam hal leksikogramatika sebelum mengikuti English Community angota English Community kelas X.

Pilihan Jawaban

Mampu Speaking dengan tata bahasa dan kosa kata yang tepat (A)

Speaking dengan tata bahasa dan kosa kata kadang-kadang kurang tepat dan tidak mempenga-ruhi makna (B)

Speaking dengan tata bahasa dan kosa kata kurang tepat dan mempenga-ruhi makna (C)

Speaking dengan tata bahasa dan kosa kata yang sulit dipahami (D)

Hanya diam (E)

Jumlah

0 orang

6 orang

5 orang

4 orang

8 orang

Pertanyaan: Bagaimana kemampuan Speaking anda dalam hal leksikogramatika sebelummengikuti English Community?

Dari paparan data diagram 4.2 ditemukan fakta bahwa sebelum mengikuti English Community tidak ada anggota English Community kelas X yang mampu speaking dengan tata bahasa dan kosa kata yang tepat. Kemudian kemampuan speaking dalam hal leksikogramatika sebelum mengikuti English Community, 6 orang anggota (26%) English Community pada tingkat speaking dengan tata bahasa dan kosa kata kadang-kadang kurang tepat dan tidak mempengaruhi makna. Lalu 5 orang anggota (22%) pada tingkat speaking dengantata bahasa dan kosa kata kurang tepat dan mempengaruhi makna. Sementara 4 orang anggota (17%) pada tingkat speaking dengan tata bahasa dan kosa kata yang sulit dipahami. Sedangkan untuk yang hanya diam atau tidak mampu melakukan apapun dalam hal leksikogramatika ada 8 orang anggota (35%).

Berdasarkan paparan data diatas, jika dibandingkan dengan keadaan setelah mengikuti English Community dikeahui bahwa para anggota telah mengalami peningkatan atau perkembangan dalam hal leksikogramatika. Menurut standar penilaian kemampuan speaking, yang ada jika dilakukan penilaian terhadap kemampuan speaking dalam hal leksikogramatika para anggota telah mengalami peningkatan nilai setelah mengikuti English Community. Mulai ada peningkatan jumlah anggota yang berada pada tingkat terrendah mulai dari 8 orang anggota (35%), setelah mengikuti English Community tidak ada yang berada pada tingkat tersebut.

4.1.4 Kemampuan Speaking Dalam Hal Leksikogramatika Setelah Mengikuti English Community

Menurut standar kemampuan speaking yang baik leksikogramatika termasuk di dalamnya, sehingga perlu untuk disajikan. Dalam subbab ini disajikan data mengenai kemampuan speaking dalam hal leksikogramatika setelah mengikuti English Community angota English Community kelas X.

Pertanyaan: Bagaimana perkembangan kemampuan Speaking anda dalam hal leksikogramatika setelahmengikuti English Community?

Pilihan Jawaban

Mampu Speaking dengan tata bahasa dan kosa kata yang tepat (A)

Speaking dengan tata bahasa dan kosa kata kadang-kadang kurang tepat dan tidak mempenga-ruhi makna (B)

Speaking dengan tata bahasa dan kosa kata kurang tepat dan mempenga-ruhi makna (C)

Speaking dengan tata bahasa dan kosa kata yang sulit dipahami (D)

Hanya diam (E)

Jumlah

0 orang

16 orang

6 orang

1 orang

0 orang

Dari paparan data diagram 4.3 diatas ditemukan fakta bahwa setelah mengikuti English Community tidak ada anggota English Community kelas X yang mampu speaking dengan tata bahasa dan kosa kata yang tepat. Dengan kata lain tidak ada yang mengusai speaking dalam hal leksikogramatika dengan sempurna setelah mengikuti English Community. Sedangkan 16 orang anggota (70%) English Community speaking dengan tata bahasa dan kosa kata kadang-kadang kurang tepat dan tidak mempengaruhi makna. Dengan kata lain pada tingkatan kedua dari kemampuan speaking dalam hal leksikogramatika setelah mengikuti English Community. Kemudian 6 orang anggota (26%) English Community setelah mengikuti English Community kemampuan speaking dalam hal leksikogramatika speaking dengantata bahasa dan kosa kata kurang tepat dan mempengaruhi makna. Lalu 1 orang anggota (4%) English Communityspeaking dengan tata bahasa dan kosa kata yang sulit dipahami. Sedangkan tidak ada anggota English Community yang kemampuan speaking dalam hal leksikogramatikanya hanya diam setelah mengikuti English Community.

4.1.5 Kemampuan Speaking Dalam Hal Sistematika Interaksional Sebelum Mengikuti English Community

Dalam subbab ini disajikan data mengenai kemampuan speaking dalam hal sistematika interaksional sebelum mengikuti English Community anggota English Community kelas X.

Pertanyaan: Bagaimana kemampuan Speaking anda dalam hal sistematika interaksional sebelum mengikuti English Community?

Pilihan Jawaban

Mampu dan melakukan tindak tutur dengan tepat secara lisan (A)

Melakukan dan merespon tindak tutur dimana kadang-kadang terdapat kesalahpa-haman (B)

Sering terjadi kesalahan dalam melakukan tindak tutur (C)

Tidak mampu merespon dan melakukan tindak tutur sederhana (D)

Mempro-duksi kata yang tidak bermakna atau dalam bentuk teks (E)

Jumlah

1 orang

6 orang

7 orang

6 orang

3 orang

Dari data diagram 4.4 ditemukan fakta bahwa sebelum mengikuti English Community 1 orang anggota (4%) English Community mampu dan melakukan tindak tutur dengan tepat secara lisan. Lalu 6 orang anggota (20%) pada tingkat kedua yaitu melakukan dan merespon tindak tutur dimana kadang-kadang terdapat kesalah pahaman. Sedangkan 7 orang anggota (31%) pada tingkat yang ketiga kemampuan speaking dalam hal sistematika interaksional yaitu sering terjadi kesalahan dalam merespon tindak tutur. Kemudian pada tingkat keempat ada 6 orang anggota (26%) yaitu tidak mampu merespon dan melakukan tindak tutur sederhana. Pada tingka terendah yaitu memproduksi kata yangtidak bermakna atau berbentuk teks ada 3 orang anggota (13%).

Berdasarkan paparan data diatas, jika dibandingkan dengan keadaan setelah mengikuti English Community dikeahui bahwa para anggota telah mengalami peningkatan atau perkembangan dalam hal sistematika interaksional. Menurut standar penilaian kemampuan speaking, yang ada jika dilakukan penilaian terhadap kemampuan speaking dalam hal sistematika interaksional para anggota telah mengalami peningkatan nilai setelah mengikuti English Community. Mulai dari peningkaan jumlah orang yang berada pada tingkat tertinggi sebelum mengikuti English Community 1 orang anggota (4%) menjadi 4 orang anggota (17%) setelah mengikuti English Communiy. Begitu pula dengan yang berada pada tingkat terendah terdapat pengurangan jumlah anggota, mulai dari 3 orang anggota (13%) menjadi 1 orang anggota (4%) setelah mengikuti English Community.

4.1.6 Kemampuan Speaking Dalam Hal Sistematika Interaksional Setelah Mengikuti English Community

Dalam subbab ini disajikan data mengenai kemampuan speaking dalam hal sistematika interaksional setelah mengikuti English Community anggota English Community kelas X.

Pertanyaan: Bagaimana perkembangan Speaking anda dalam hal sistematika interaksional setelah mengikuti English Community?

Pilihan Jawaban

Mampu dan melakukan tindak tutur dengan tepat secara lisan (A)

Melakukan dan merespon tindak tutur dimana kadang-kadang terdapat kesalahpa-haman (B)

Sering terjadi kesalahan dalam melakukan tindak tutur (C)

Tidak mampu merespon dan melakukan tindak tutur sederhana (D)

Mempro-duksi kata yang tidak bermakna atau dalam bentuk teks (E)

Jumlah

4 orang

14 orang

3 orang

1 orang

1 orang

Dari paparan data diagram 4.5 ditemukan fakta bahwa setelah mengikuti English Community 4 orang anggota (17%) English Community mampu dan melakukan tindak tutur dengan tepat secara lisan. Lalu 14 orang anggota (62%) pada tingkat kedua atau melakukan dan merespon tindak tutur dimana kadang-kadang terdapat kesalah pahaman. Sementara 3 orang anggota (13%) pada tingkat ketiga atau sering terjadi kesalahan dalam merespon tindak tutur. Kemudian 1 orang anggota (4%) pada tingkat yang keempat atau tidak mampu mersepon dan melakukan tindak tutur sederhana. Sedangkan 1 orang anggota (4%) pada tingkat terendah dalam kemampuan speaking dalam hal sistematika interaksional yaitu memproduksi kata yang tidak bermakna atau berbentuk teks.

4.1.7 Kemampuan Speaking Dalam Hal Ucapan dan Intonasi Sebelum Mengikuti English Community

Dalam subbab ini disajikan data mengenai kemampuan Speaking dalam hal ucapan dan intonasi sebelum mengikuti English Community anggota English Community kelas X.

Pertanyaan: Bagaimana kemampuan Speaking anda dalam hal ucapan atau intonasisebelum mengikuti English Community ?

Pilihan Jawaban

Mampu speaking dengan sangat jelas dan mendekati penutur asli (A)

Speaking sangat jelas walaupun dengan aksen bahasa ibu (B)

Speaking kurang jelas dan mempenga-ruhi makna (C)

Speaking tidak jelas dan mempeng-ruhi sebagian makna (D)

Speaking tidak jelas dan tidak bermakna (E)

Jumlah

1 orang

1 orang

9 orang

7 orang

5 orang

Dari paparan data diagram 4.6 ditemukan fakta bahwa sebelum mengikuti English Community kemampuan speaking dalam hal ucapan dan intonasi anggoa English Community adalah 1 orang anggota (4%) English Community mampu speaking dengan sangat jelas dan mendekati penutur asli. Lalu pada tingkat kedua yaitu speaking sangat jelas walaupun dengan aksen bahasa ibu ada 1 orang anggota (4%). Sedangkan pada tingkat ketiga yaitu speaking kurang jelas dan mempengaruhi makna terdapat 9 orang anggota (40%). Kemudian pada tingkat keempat yaitu speaking tidak jelas dan mempengaruhi sebagian makna terdapat 7 orang anggota (30%). Pada tingkat terendah yaitu speaking tidak jelas dan tidak bermakna terdapat 5 orang anggota (22%).

Berdasarkan paparan data diatas, jika dibandingkan dengan keadaan setelah mengikuti English Community diketahui bahwa para anggota telah mengalami peningkatan atau perkembangan dalam hal ucapan dan intonasi. Menurut standar penilaian kemampuan speaking, yang ada jika dilakukan penilaian terhadap kemampuan speaking dalam hal ucapan dan intonasi para anggota telah mengalami peningkatan nilai setelah mengikuti English Community. Secara pasti dapat diketahui mulai dari peningkaan jumlah orang yang berada pada tingkat tertinggi, sebelum mengikuti English Community 1 orang anggota (4%) menjadi 3 orang anggota (13%) setelah mengikuti English Communiy. Begitu pula dengan yang berada pada tingkat terendah terdapat pengurangan jumlah anggota, mulai dari 5 orang anggota (22%) menjadi tidak ada yang berada pada tingkat tersebut setelah mengikuti English Community.

4.1.8 Kemampuan Speaking Dalam Hal Ucapan dan Intonasi Setelah Mengikuti English Community

Dalam subbab ini disajikan data mengenai kemampuan Speaking dalam hal ucapan dan intonasi setelah mengikuti English Community anggota English Community kelas X.

Pertanyaan: Bagaimana perkembangan kemampuan Speaking anda dalam hal ucapan atau intonasisetelah mengikuti English Community ?

Pilihan Jawaban

Mampu speaking dengan sangat jelas dan mendekati penutur asli (A)

Speaking sangat jelas walaupun dengan aksen bahasa ibu (B)

Speaking kurang jelas dan mempenga-ruhi makna (C)

Speaking tidak jelas dan mempeng-ruhi sebagian makna (D)

Speaking tidak jelas dan tidak bermakna (E)

Jumlah

3 orang

7 orang

12 orang

1 orang

0 orang

Dari paparan data diagram 4.7 ditemukan fakta bahwa setelah mengikuti English Community 3 orang anggota (13%) English Community mampu speaking dengan sangat jelas dan mendekati penutur asli. Lalu 7 orang anggota (30%) pada tingkat kedua kemampuan speaking dalam hal ucapan dan intonasi yaitu speaking sangat jelas walaupun dengan aksen bahasa ibu. Sedangkan 12 orang anggota (53%) pada tingkat ketiga kemampuan speaking dalam hal ucapan dan intonasi yaitu speaking kurang jelas dan mempengaruhi makna. Kemudian 1 orang anggota (4%) pada tingkat keempat yaitu speaking tidak jelas dan mempengaruhi sebagian makna. Pada tingkat teredndah dalam kemampuan speaking dalam hal ucapan dan intonasi yaitu speaking tidak jelas dan tidak bermakna, tidak ada.

4.1.9 Kemampuan Speaking Dalam Hal Komunikasi Interaktif Sebelum Mengikuti English Community

Dalam subbab ini disajikan data mengenai kemampuan speaking dalam hal komunikasi interaktif sebelum mengikuti English Community anggota English Community kelas X.

Pertanyaan: Bagaimana kemampuan Speaking anda dalam hal komunikasi interaktif sebelum mengikuti English Community ?

Pilihan Jawaban

Speaking dengan percaya diri dan lancar dalam mengambil giliran bicara dan mampu mengoreksi diri bila melakukan kesalahan (A)

Speaking dengan percaya diri meskipun ada pengulangan atau keraguan (B)

Ketika speaking lebih banyak merespon daripada berinisiatif (C)

Ketika speaking sulit diajak bicara meskipun sudah dipancing (D)

Tidak mampu merespon dan berinsiatif (E)

Jumlah

1 orang

6 orang

5 orang

7 orang

4 orang

Dari paparan data diagram 4.8 ditemukan fakta bahwa sebelum mengikuti English Community kemampuan speaking dalam hal komunikasi interaktif adalah1 anggota (4%) English Communityspeakingdengan percaya diri dan lancar dalam mengambil giliran bicara dan mampu mengoreksi diri bila melakukan kesalahan. . Lalu pada tingka kedua yaitu, speaking dengan percaya diri meskipun ada pengulangan atau keraguan terdapat 6 orang anggota (26%). Sedangkan pada tingkat ketiga yaitu, ketika speaking lebih banyak merespon daripada berinisiatif tedapat 5 orang anggota (22%). Kemudian pada tigkat keempat yaitu, ketika Speaking sulit diajak bicara meskipun sudah dipancing terdapat 7 orang anggota (31%). Pada tingkat terrendah atau terakhir dalam kemampuan speaking dalam hal komunikasi interaktif yaitu, tidak mampu merespon dan berinsiatif terdapat 4 orang anggota (17%).

Berdasarkan paparan data diatas, jika dibandingkan dengan keadaan setelah mengikuti English Community diketahui bahwa para anggota telah mengalami peningkatan atau perkembangan dalam hal komunikasi interaktif. Menurut standar penilaian kemampuan speaking, yang ada jika dilakukan penilaian terhadap kemampuan speaking dalam hal komunikasi interaktif para anggota telah mengalami peningkatan nilai setelah mengikuti English Community. Secara pasti dapat diketahui mulai dari peningkaan jumlah orang yang berada pada tingkat tertinggi, sebelum mengikuti English Community 1 orang anggota (4%) menjadi 2 orang anggota (9%) setelah mengikuti English Communiy. Begitu pula dengan yang berada pada tingkat terendah terdapat pengurangan jumlah anggota, mulai dari 4 orang anggota (17%) menjadi tidak ada yang berada pada tingkat tersebut setelah mengikuti English Community.

4.1.10 Kemampuan Speaking Dalam Hal Komunikasi Interaktif Setelah Mengikuti English Community

Dalam subbab ini disajikan data mengenai kemampuan speaking dalam hal komunikasi interaktif setelah mengikuti English Community anggota English Community kelas X.

Pertanyaan: Bagaimana perkembangan kemampuan Speaking anda dalam hal komunikasi interaktif setalah mengikuti English Community ?

Pilihan Jawaban

Speaking dengan percaya diri dan lancar dalam mengambil giliran bicara dan mampu mengoreksi diri bila melakukan kesalahan (A)

Speaking dengan percaya diri meskipun ada pengulangan atau keraguan (B)

Ketika speaking lebih banyak merespon daripada berinisiatif (C)

Ketika speaking sulit diajak bicara meskipun sudah dipancing (D)

Tidak mampu merespon dan berinsiatif (E)

Jumlah

2 orang

13 orang

6 orang

2 orang

0 orang

Dari paparan data diagram 4.9 ditemukan fakta bahwa setelah mengikuti English Community kemampuan speaking dalam hal komunikasi interaktif adalah2 orang anggota (9%) English Communityspeakingdengan percaya diri dan lancar dalam mengambil giliran bicara dan mampu mengoreksi diri bila melakukan kesalahan. Lalu pada tingka kedua yaitu, speaking dengan percaya diri meskipun ada pengulangan atau keraguan terdapat 13 orang anggota (56%). Sedangkan pada tingkat ketiga yaitu, ketika speaking lebih banyak merespon daripada berinisiatif tedapat 6 orang anggota (26%). Kemudian pada tigkat keempat yaitu, ketika Speaking sulit diajak bicara meskipun sudah dipancing terdapat 2 orang anggota (9%). Pada tingkat terrendah atau terakhir dalam kemampuan speaking dalam hal komunikasi interaktif yaitu, tidak mampu merespon dan berinsiatif tidak ada.

4.2 Data Hasil Wawancara

4.2.1 Wawancara dengan Instruktur English Community

Pada awal Bulan Agustus Ibu Sutarnik dihubungi oleh Romo Pratista untuk mengajar di English Community Seminari Garum.

Instruktur merasa senang mengajar di Seminari Garum. Kesan pertama Instruktur terhadap anak-anak di Seminari Garum adalah anak-anaknya respek terhadap sesama dan terutama dengan gurunya. Selama mengajar di English Community Instruktur mengungkapkan bahwa sebagian besar mereka aktif, hanya satu atau dua orang saja yang terkadang tidak memperhatikan apa yang diajarkan atau berbicara sendiri dengan temannya. Untuk mengatasi hal tesebut Instruktur terkadang menegur mereka yang tidak memperhatikan lalu baru mereka bisa memperhatikan kembali.

Acara-acara yang diberikan oleh Instruktur untuk kelas X dalam English Community adalah mengajarkan bagaimana membuat kalimat yang benar dalam bahasa Inggris. Mengingatkan kembali apa yang telah mereka dapatkan ketika masih di SMP, yaitu mengenai tenses-tenses. Memberikan tugas membuat daily activity. Ibu tarnik juga mengungkapkan bahwa lebih mudah mengajar Kelas X jika dibandingkan mengajar kelas XI, XII, dan KK, karena mereka campur tingkat kemampuan beragam sehingga merepotkan dalam pelatihan.

Menurut Instruktur keadaan speaking Kelas X dilihat dari standar penilaian speaking adalah sebagian besar sudah baik. Namun ada juga yang kalau disuruh untuk berbicara masih bingung. Instruktur juga tidak mengetahui mengapa ini terjadi, menurut Instruktur ini karena keberanian mereka untuk berbicara masih kurang. Instruktur mengatakan bahwa yang namanya speaking atau berbicara itu struktur tidak perlu dipikir dulu. Sejak awal beliau sudah mengingatkan kepada mereka, yang penting berani dulu untuk berbicara. Untuk berbicara didasari vocab yang banyak, kalau mereka vocab kurang otomatis keberanian untuk bicara rendah.

Jika dibandingkan dengan awal mengikuti English Community keadaan speaking sebagian besar mereka sudah mulai berani untuk berbicara. Namun juga masih ada yang masih pendiam mungkin karena mereka kurang vocab itu tadi.

Penguasaan kosa kata mereka sebagian besar adalah sebagian besar bagus tapi ada juga yang masih seperti bahasa Indonesia. Instruktur mengatakan intinya ketika beliau mengajar sesuai dengan apa yang dipesankan Romo Pratista kepada beliau, yang terpenting anggota English Community berani dulu untuk berbicara bahasa Inggris sehingga saat English Day mereka mampu menjadi penggerak. Jadi untuk struktur dalam speaking kurang begitu ditata. Namun dalm writing tetap harus benar.

Masalah intonasi waktu speaking juga masih kurang. Masih belum bisa speaking dengan intonasi yang jelas. Untuk yang terakhir atau kesimpulan secara keseluruhan dibandingkan awal mengikuti English Community sebagian besar mereka sudah lancar, lebih berani, sudah mulai tertata. Terima kasih.

BAB V

PENUTUP

Dalam bab emapat ini penulis (peneliti) memberikan kesimpulan dan saran berdasarkan kesimpulan tersebut.

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan analisis data hasil (temuan) dari penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

          1. Dua puluh dua orang anggota (96%) English Community senang mengikuti English Community. Sedangkan 1 orang anggota (4%) English Community menyatakan tidak begitu senang mengikuti English Community.

          2. Sesuai dengan H1 yaitu ada pengaruh antara mengikuti English Community dan perkembangan kemampuan berbicara bahasa Inggris anggota English Community kelas X tahun pelajaran 2007-2008.

    1. Saran

Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan seperangkat saran, sebagai berikut:

            1. Bagi staf formator

Supaya staf formator lebih memperhatikan proses pembelajaran bahasa Inggris, khususnya dalam English Community. Juga dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan, bahwa bahasa Inggris mempunyai peran yang berarti.

            1. Bagi para Seminaris

Supaya para Seminaris lebih memperhatikan lagi pentingnya pelajaran bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Serta dapat melihat manfaat yang diperoleh dari mengikuti kegiatan English Community dengan baik

            1. Bagi Peneliti selanjutnya

Supaya menelti kemampuan anggota English Community dari skill dalam bahasa Inggris yang lain yaitu listening, writing, dan reading.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta.

Bungin, Burhan. 2001. Metodologi Penelitian Sosial. Surabaya: Airlangga University press.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta: Balai Pustaka.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Petunjuk. 2006. Teknis Pengembangan Silabus Mata Pelajaran Bahasa Inggris SMA. Jakarta.

Departemen Pendidikan Nasional. 2003.Standar Penilaian Buku Pelajaran Bahasa Inggris. Jakarta.

Parsudi, IL, 2006, Panduan Penyusunan Karya Tulis Ilmiah St. Vincentius a Paulo Garum Keuskupan Surabaya Blitar, Blitar: Seminari Menengah St. Vincentius a Paulo Garum Keuskupan Surabaya Blitar.

Silalahi, Gabriel Amin. 2003. Metodologi Penelitian dan Studi Kasus. Sidoarjo: Citramedia.

Internet :

Http://englishtraining.wordpress.com/pentingnya-bahasa-Inggris

http://www.languagesystems.com/id/classes/iep.asp

http://www.languagesystems.com/id/classes/iep.asp

http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_bahasa_Inggris

LAMPIRAN

Angket 1

Nama :……………….

Dalam rangka menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah Penulis mohon Teman-teman untuk mengisi angket ini sesuai dengan diri teman-teman. Mohon dijawab dengan sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya dan sesuai dengan kadaan diri anda sekarang ini, karena ini tidak mempengaruhi penilaian anda.

1. Mengapa anda ikut English Community di Seminari Garum?

  1. Apakah anda senang mengikuti English community? Mengapa?

  1. Bagaimana perkembangan kemampuan Speaking anda dalam hal leksikogramatika setelahmengikuti English Community?

a) Mampu speaking dengan tata bahasa dan kosa kata tepat

b) Speaking dengan tata bahasa dan kosa kata kadang-kadang kurang tepat dan tidak mempengaruhi makna

c) Speaking dengantata bahasa dan kosa kata kurang tepat dan mempengaruhi makna

d) Speaking dengan tata bahasa dan kosa kata yang sulit dipahami

e) Hanya Diam

  1. Bagaimana perkembangan Speaking anda dalam hal sistematika interaksional setelah mengikuti English Community?

a) Mampu melakukan dan merespon tindak tutur dengan tepat secara lisan

b) Melakukan dan merespon tindak tutur dimana kadang-kadang terdapat kesalah pahaman

c) Sering terjadi kesalahan dalam merespon tindak tutur

d) Tidak mampu merespon dan melakukan tindak tutur sederhana

e) Memproduksi kata yangtidak bermakna atau berbentuk teks

  1. Bagaimana perkembangan kemampuan Speaking anda dalam hal ucapan dan intonasisetelah mengikuti English Community ?

a) Mampu Speaking dengan Sangat jelasdan mendekati penutur asli

b) Speaking sangat jelas walaupun dengan aksen bahasa ibu

c) Speaking kurang jelas dan mempengaruhi makna

d) Speaking tidak jelas dan mempengaruhi sebagian makna

e) Speaking tidak jelas dan tidak bermakna

  1. Bagaimana perkembangan kemampuan Speaking anda dalam hal komunikasi interaktif setalah mengikuti English Community ?

a) Speaking denganpercaya diri dan lancar dalam mengambil giliran bicara dan mampu mengoreksi diri bila melakukan kesalahan

b) Speaking dengan percaya diri meskipun ada pengulangan atau keraguan

c) Ketika Speaking lebih banyak merespon daripada berinisiatif

d) Ketika Speaking sulit diajak bicara meskipun sudah dipancing

e) Tidak mampu merespon dan berinsiatif

Terima Kasih !!!

Angket 2

Nama :……………….

Dalam rangka menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah Penulis mohon Teman-teman untuk mengisi angket ini sesuai dengan diri teman-teman. Mohon dijawab dengan sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya dan sesuai dengan kadaan diri anda sekarang ini, karena ini tidak mempengaruhi penilaian anda.

    1. Bagaimana perkembangan kemampuan Speaking anda dalam hal leksikogramatika sebelummengikuti English Community?

a) Mampu speaking dengan tata bahasa dan kosa kata tepat

b) Speaking dengan tata bahasa dan kosa kata kadang-kadang kurang tepat dan tidak mempengaruhi makna

c) Speaking dengantata bahasa dan kosa kata kurang tepat dan mempengaruhi makna

d) Speaking dengan tata bahasa dan kosa kata yang sulit dipahami

e) Hanya Diam

    1. Bagaimana perkembangan Speaking anda dalam hal sistematika interaksional sebelum mengikuti English Community?

a) Mampu melakukan dan merespon tindak tutur dengan tepat secara lisan

b) Melakukan dan merespon tindak tutur dimana kadang-kadang terdapat kesalah pahaman

c) Sering terjadi kesalahan dalam merespon tindak tutur

d) Tidak mampu merespon dan melakukan tindak tutur sederhana

e) Memproduksi kata yangtidak bermakna atau berbentuk teks

    1. Bagaimana perkembangan kemampuan Speaking anda dalam hal ucapan dan intonasisebelum mengikuti English Community ?

a) Mampu Speaking dengan Sangat jelasdan mendekati penutur asli

b) Speaking sangat jelas walaupun dengan aksen bahasa ibu

c) Speaking kurang jelas dan mempengaruhi makna

d) Speaking tidak jelas dan mempengaruhi sebagian makna

e) Speaking tidak jelas dan tidak bermakna

    1. Bagaimana perkembangan kemampuan Speaking anda dalam hal komunikasi interaktif sebelum mengikuti English Community ?

a) Speaking denganpercaya diri dan lancar dalam mengambil giliran bicara dan mampu mengoreksi diri bila melakukan kesalahan

b) Speaking dengan percaya diri meskipun ada pengulangan atau keraguan

c) Ketika Speaking lebih banyak merespon daripada berinisiatif

d) Ketika Speaking sulit diajak bicara meskipun sudah dipancing

e) Tidak mampu merespon dan berinsiatif

Terima Kasih !!!

HASIL WAWANCARA

Ibu Sutarni

Kristo (K) : Selamat sore Bu!!

Tarnik (T) : Selamat sore juga…

(K) : Sebelumnya cerita sedikit donk Bu. Kok bisa sampai akhirnya menjadi Guru Pembina English Community di Seminari Garum

(T) : Oh.. itu… pertama saya dikabari sma Istrinya Pak Aris apa bisa mengajar di English Community gitu lho.. terus akhirnya secara informal saya diberitahu seperti itu, tapi gimana ya bu…. Bisa tidak ya? Wis ndak tahu lah nanti tak lihate sikone… wis nanti tak cobalah. Kira-kira Juli akhir Romo Prast kepala Sekolah yang lama itu menghubungi saya lewat telpon. Bu Tarnik secara informal sudah diberitahu teman-teman toh? Tentang apa Romo?. Mengajar English Community. Lalu saya bersedia…mulai per Agustus saya mengajar di sini.

(K) : Seneng gak Bu mengajar di sini?

(T) : Seneng!!!

(K) : Kesan pertamanya gimana Bu?

(T) : Anak-anaknya respek sekali, pada sesame mereka kompak terus respek dengan sesama juga dengan gurunya. Mereka ramah….

(K) : Oh ya…?

(T) : Menurut saya begitu. Itu menurut pandangan saya selama ini begitu. Ramah!

(K) : Selama pelajaran English Community bagaimana keadaan murid-muridnya aktif atau tidak Bu?

(T) : Sebagian besar aktif. Ya ada satu dua mereka yang asik ngobrol sendiri. Pas mereka ngobrol kita tegur sedikit baru mereka mau kembali lagi. Hanya satu dua saja.

(K) : Dalam English Community acaranya apa saja Bu?

(T) : Biasanya kami untuk yang kelas X. Saya jelaskan sedikit mengenai bagaimana membuat kalimat dalam bahasa Inggris kemudian kan mereka sudah dapat dasarnya dari SMP. Saya tinggal sedikit mengulangi atau mengingatkan. Kemudian dalam bahasa Inggris kan mengenal tenses-tenses yang untuk membuat tenses mengenai daily activity kita. Lalu saya kasih tugas membuat apa saja kegiatan sehari-hari mereka dalam bahasa Inggris. Menggunakan tenses yang sudah. Kalau semua sudah dapat giliran kadang-kadang biar mereka tidak bosan main game. Pertemuan berikutnya mengenalkan tenses berikutnya, misalnya simple past tenses yang mana untuk kegiatan yang sudah lampau. Untuk menceritakan masa lampau, misalnya rekreasi. Temanya yang diambil biasanya free. Ya kira0kira seperti itu yang saya berikan untuk kelas X. kalau kelas XI, XII, dan KK agak repot soalnya mereka campur.

(K) : Untuk Kelas X keadaan seakingnya menurut standar kemampuan speaking yang Ibu berikan bagaimana Bu?

(T) : Oh speaking mereka. Ya ada mereka yang sudah agak baik ada yang masih diam. Ada yang mereka ngomongnya lancar. Ada yang kalau disuruh ngomong masih bingung. Saya juga tidak tahuya… mungkin mereka kurang keberanian, kalau namanya ngomong itu struktur tidak perlu dipikir dulu, ini past tense atau apa ya? Yang penting berani dulu saja. Yakinlah temanmu juga belum bisa yang penting berani bicara dulu. Berabi bicara didasari Vocab yang banyak. Kalau mereka vocab kurang ya keberanian untuk bicara rendah.

(K) : Sebagian besar gimana Bu? Mulai awal ikut English Community samapai sekarang sudah mulai bisa atau?

(T) : Keberanian bicara sudah lumayan. Rasa malunya sudah berkurang. Ada beberapa yang susah, mungkin mereka kurang membaca, dengan baca dengan sendirinya vocab bertambah dengan sendirinya.

(K) : Mengenai kosa kata waktu speaking keadaanynya bagaimana Bu?

(T) : ada yang bagus, tapi ada yang seperti bahasa Indonesia gitu. Sebagian besar ya sudah mulai tertata. Saya piker begini yang penting dia berani dulu bicara, karena kemarin itu Rm. Prastpesenya yang penting anak-anak bisa bicara dulu, berani bicar dulu di English Community sehingga harapannya di Seminari ada English Day, nanti masalah struktur biar Pak Nugie yang memberikan dalam arti di sekolah. Kalau namanya English Community kita mengawali biar terbiasa jadi mangkanya dalam speaking masalah struktur tidak begitu saya perhatikan, tapi dalam written tetap harus ada strutur yang benar.

(K) : Masalah intonasi waktu speaking bagaimana Bu?

(T) : Ya…anada tahu sendiri bagaimana mereka ngomongnya masih kurang. Masih banyak yang kurang.

(K) : Kalau dibandingkan sebelum mengikuti English Community bagaimana secara keseluruhannya Bu?

(T) : Mereka lebih lancar, lebih lumayan, dan lebih berani, dan sudah agak tata. Sebagian besar ok!

(K) : Ok.. Bu!! Kalau begitu saya kira cukur dan terima kasih atas waktunya.

(T) : OK!!!…

HASIL OBSERVASI

Observasi Pada Kamis, 13 September 2007

Pada pertemuan kali ini kegiatan yang dilakukan adalah mencerotakan sesuatu (membuat tebakan) dalam bahasa Inggris. Mendeskripsikan sesuatu hal lalu teman-teman yang lain menjawab benda atau sesuatu yang dimaksudkan.

Apapun boleh dijadikan pertanyaan atau sesuatu yang dideskripsikan. Lalu untuk yang bisa menjawab akan memperoleh nilai tambahan dari Guru pembina English Community.

Ada yang aktif (sebagian besar) ada juga yang masih hanya menjadi pendengar. Begitu juga dengan kemampuan speaking mereka umumnya mereka berani speaking tapi masalah kosa kata masih kurang.

Observasi Pada Kamis, 8 Nopember 2007

Acara pada peretemuan English Community kali ini adalah mendiskusikan suatu lagu yang telah mereka dengar. Kemudian diberikan suatu pertanyaan yang berkaitan dengan lagu yang telah didengarkan. Melengkapi suatu kalimat yang berkaitan dengan lagu tersebut atau yang telah didengar.

Observasi Pada Kamis, 29 Nopember 2007

Acara pada pertemuan kali ini adalah mebentuk suatu kelompok (5 kelompok) untuk kemudian masing-masing kelompok menampilkan suatu drama. Tema yang dipilih bebas. Setelah mereka menapilkan, teman-teman kelompok lain menanggapi.

2Dr. Suharsim Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta,1993) halm. 102

3 Ibid.,Hal. 124.

3

4Ibid., hlm. 126.

5 Lih. Standar Penilaian Buku Pelajaran Bahasa Inggris. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional 2003.

6Lih. KBBI jilid 3

7Lih. Petunjuk Teknis Pengembangan Silabus Mata Pelajaran Bahasa Inggris SMA

8Ibid

9http://www.languagesystems.com/id/classes/iep.asp

10Lih. Petunjuk Teknis Pengembangan Silabus Mata Pelajaran Bahasa Inggris SMA

11Ibid

12http://www.languagesystems.com/id/classes/iep.asp

13Lih. Dokumen Final Bahasa Inggris Agustus 2003

15Meja khusus di ruang makan yang jika duduk di tempat itu wajib berbicara menggunakan bahasa Inggris dalam percakapannya.