(Oleh: Kristoforus Sri Ratulayn K.N)
Kata “Filsafat” berasal dari bahasa Yunani “philosophia” dan “philosophos”, yang berarti “cinta akan kebijaksanaan”. Tradisi menceritakan, sejarah munculnya ungkapan filsafat bermula ketika Phytagoras menyebut dirinya sebagai filsuf atau pecinta kebijaksanaan. Istilah pecinta kebijaksanaan dipandang lebih sesuai untuk manusia dari pada istilah “orang bijaksana”. Karena istilah “orang bijaksana” lebih mengacu pada konsep adimanusiawi atau bisa dikatakan istilah hanya untuk dewa-dewa. Kebijaksanaan hanya menjadi milik para dewa. Jika kita mengamati lebih teliti, akan banyak definisi arti kata Filsafat. Dan tak jarang pula definisi itu malah menyebabkan kerancuan dan kesalahpahaman. Kaum sokratis mungkin mendifinisikannya sebagai “segala sesuatu dan atau tak sesuatu pun (everything and/or nothing)”[1]. Kerancuan lain lagi ketika dalam gerak ketatanegaraan dipakai istilah “falsafah hidup”. Falsafah yang sebanarnya mengacu pada sebuah pandangan, pedoman, atau nilai-nilai hidup.
Dalam diri manusia seacara alamiah sekurang-kurangnya terdapat tiga potensi mendasar. Ketiga potensi itu adalah rasa ingin tahu, empati, dan taat azas. Pada pembahasan kali ini kita akan lebih condong pada potensi tentang rasa ingin tahu. Karena memang itu yang sesuai dengan konteks cinta akan kebijaksanaan. Rasa ingin tahu itu sebenarnya adalah sebuah dorongan mendalam yang membuat manusia mencari jawaban atas segala sesuatu yang terjadi. Hal itu biasanya muncul dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan. Dan ketika menemukan telah menemukan jawaban atasnya, jawaban itu akan memunculkan pertanyaan baru. Contoh seseorang bertanya apa makna kebenaran?. Ketika terjawab muncul pertanyaan lanjutan apakah kebenaran bergantung pada sudut pandang kita?. Rasa ingin tahu yang mendalam akan realitas yang terjadi menghantar manusia mendekati kebenaran yang sempurna. Karena manusia selalu mencari dan menganalisis apa yang terjadi melalui akal budinya.
Maka bisa kita simpulkan bahwa ketika kita menggunakan kata “filsafat”. Kita akan mengacu pada sebuah pencarian mendalam dari manusia dalam menemukan segala realitas tentang hidupnya demi memuaskan akal budi. Seperti mengapa manusia ada? Mengapa kita tidak boleh berbohong? Dan masih banyak lagi.
Hakikat objek kajian filsafat adalah segala sesuatu yang terdalam tentang realitas hidup. Seperti keberadaan Tuhan, keabadian jiwa manusia, dan prinsip-prinsip hukum alam. Yang semuanya dapat dicapai oleh akal budi manusia tanpa melakukan penelitian sekalipun. Namun tetap dengan alasan yang benar pula. Permasalahan filsafat mencakup pertanyaan-pertanyaan mengenai makna, kebenaran, dan hubungan logis di antara ide-ide dasar yang tidak dapat dipecahkan oleh ilmu pengetahuan empiris[2]. Hal itu secara tidak langsung mengharuskan manusia untuk mau berpikir keras atau mempunyai etos yang tinggi. Lalu apa hubungan filsafat dan ilmu pengetahuan pada umumnya?. Melihat hakikat objek kajian filsafat di atas. Hal itu tidak berarti filsafat serta-merta “membuang” ilmu pengetahuan ilmiah. Namun justru filsafat Pembahasan filsafat selalu dimulai dari sebuah titik tolak. Titik tolak itu tidak jarang adalah sebuah hasil pemikiran ilmiah. Dan jika itu dibuang atau dilepaskan begitu saja, filsafat tidak akan sah dan memulai pembahasannya. Rene Descartes merupakan salah satu Filsuf yang tidak setuju dengan pandangan tersebut. Ia menilai bahwa pembahasan semua filsafat harus dimulai dari nol. Orang-orang seperti ini sering di sebuat aliran skeptis. Contoh, filasafat harus percaya bahwa 2 + 2 = 4 sebelum melanjutkan pembahasan lebih lanjut. Berbeda dengan para penganut sketisisme yang masih bertanya dan memperdebatkan hal itu. Contoh lain, sebelum mempelajari filsafat kita harus percaya bahwa akal budi mampu memecahkan masalah filsafat. Jika itu belum bisa kita terima, pembahasan filsafatpun tidak akan bisa berlanjut dan berkembang.
Filsafat melampaui seni. Karena pembahasan seni dimulai dari pengalaman. Sedangkan filsafat tidak berhenti hanya sampai pada sebuah pengalaman. Melainkan mencoba melampaui apa yang juga sering disebut ilmu pengetahuan. Ketika ilmu pengetahuan mempertanyaakan mengapa materi air bisa berubah menjadi es?. Filsafat mencari sampai pada apa yang disebut hakekat, asalmuasal, atau orang Yunani Kuno menyebutnya dengan arche. Yaitu penciptaan materi oleh Allah. Maka bisa kita simpulkan bahwa filsafat mencari penjelasan-penjelasan dari hasil ilmu pengetahuan tentang penyebab mendasar atau hakekatnya.
Seperti pada pengetahuan pada umunnya. Dalam filsafat juga terdapat obyek material dan obyek formal. Obyek materialnya adalah, sekali lagi harus dikatakan bahwa filsafat mempelajari segala sesuatu tentang realitas hidup dengan mencari satu hal terakhir yang menjadi inti, pusat, prinsip, atau hakekatnya. Yang akhirnya memunculkan cabang-cabang dalam filsafat. Seperti logika, etika, filsafat politik, estetika, dan masih banyak lainnya.
Kemudian yang menjadi obyek formalnya adalah melakukan pencarian atas penjelasan-penjelasan yang terdalam mengenai keberadaan dan sifat dari mahluk. Dan hal ini pulalah yang kemudian sungguh menjadi pembeda yang besar antara filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya. Pembahasan yang mereka lakukan sudah sangat spesifik dan terbatas. Misalnya dunia Biologi akan berkata bahwa manusia hanya terdiri dari tubuh atau raga. Sedangkan penjelasan berbeda akan kita temukan dalam filsafat. Karena diruntut sampai yang terdalam.
Filsafat mempunyai hubungan erat dengan manusia. Keeratan itu nampak jelas baik dalam dunia politik, ideologi, maupun kultur yang ada dalam masyarakat. Namun kadang apa yang ada dalam masyarakat tersebut belum memilik gagasan filosofis. Misalnya apakah bentuk negara demokrasi adalah bentuk Negara yang sungguh menghargai keadilan? Akhirnya filsafat sebagi cinta akan kebijaksanaan akan membantu kita dalam mencari kebenaran terdalam dari segala segauatu tentang realitas hidup.