Sabtu, 07 November 2009

Apa Itu Fisafat?

(Oleh: Kristoforus Sri Ratulayn K.N)

Kata “Filsafat” berasal dari bahasa Yunani “philosophia” dan “philosophos”, yang berarti “cinta akan kebijaksanaan”. Tradisi menceritakan, sejarah munculnya ungkapan filsafat bermula ketika Phytagoras menyebut dirinya sebagai filsuf atau pecinta kebijaksanaan. Istilah pecinta kebijaksanaan dipandang lebih sesuai untuk manusia dari pada istilah “orang bijaksana”. Karena istilah “orang bijaksana” lebih mengacu pada konsep adimanusiawi atau bisa dikatakan istilah hanya untuk dewa-dewa. Kebijaksanaan hanya menjadi milik para dewa. Jika kita mengamati lebih teliti, akan banyak definisi arti kata Filsafat. Dan tak jarang pula definisi itu malah menyebabkan kerancuan dan kesalahpahaman. Kaum sokratis mungkin mendifinisikannya sebagai “segala sesuatu dan atau tak sesuatu pun (everything and/or nothing)”[1]. Kerancuan lain lagi ketika dalam gerak ketatanegaraan dipakai istilah “falsafah hidup”. Falsafah yang sebanarnya mengacu pada sebuah pandangan, pedoman, atau nilai-nilai hidup.

Dalam diri manusia seacara alamiah sekurang-kurangnya terdapat tiga potensi mendasar. Ketiga potensi itu adalah rasa ingin tahu, empati, dan taat azas. Pada pembahasan kali ini kita akan lebih condong pada potensi tentang rasa ingin tahu. Karena memang itu yang sesuai dengan konteks cinta akan kebijaksanaan. Rasa ingin tahu itu sebenarnya adalah sebuah dorongan mendalam yang membuat manusia mencari jawaban atas segala sesuatu yang terjadi. Hal itu biasanya muncul dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan. Dan ketika menemukan telah menemukan jawaban atasnya, jawaban itu akan memunculkan pertanyaan baru. Contoh seseorang bertanya apa makna kebenaran?. Ketika terjawab muncul pertanyaan lanjutan apakah kebenaran bergantung pada sudut pandang kita?. Rasa ingin tahu yang mendalam akan realitas yang terjadi menghantar manusia mendekati kebenaran yang sempurna. Karena manusia selalu mencari dan menganalisis apa yang terjadi melalui akal budinya.

Maka bisa kita simpulkan bahwa ketika kita menggunakan kata “filsafat”. Kita akan mengacu pada sebuah pencarian mendalam dari manusia dalam menemukan segala realitas tentang hidupnya demi memuaskan akal budi. Seperti mengapa manusia ada? Mengapa kita tidak boleh berbohong? Dan masih banyak lagi.

Hakikat objek kajian filsafat adalah segala sesuatu yang terdalam tentang realitas hidup. Seperti keberadaan Tuhan, keabadian jiwa manusia, dan prinsip-prinsip hukum alam. Yang semuanya dapat dicapai oleh akal budi manusia tanpa melakukan penelitian sekalipun. Namun tetap dengan alasan yang benar pula. Permasalahan filsafat mencakup pertanyaan-pertanyaan mengenai makna, kebenaran, dan hubungan logis di antara ide-ide dasar yang tidak dapat dipecahkan oleh ilmu pengetahuan empiris[2]. Hal itu secara tidak langsung mengharuskan manusia untuk mau berpikir keras atau mempunyai etos yang tinggi. Lalu apa hubungan filsafat dan ilmu pengetahuan pada umumnya?. Melihat hakikat objek kajian filsafat di atas. Hal itu tidak berarti filsafat serta-merta “membuang” ilmu pengetahuan ilmiah. Namun justru filsafat Pembahasan filsafat selalu dimulai dari sebuah titik tolak. Titik tolak itu tidak jarang adalah sebuah hasil pemikiran ilmiah. Dan jika itu dibuang atau dilepaskan begitu saja, filsafat tidak akan sah dan memulai pembahasannya. Rene Descartes merupakan salah satu Filsuf yang tidak setuju dengan pandangan tersebut. Ia menilai bahwa pembahasan semua filsafat harus dimulai dari nol. Orang-orang seperti ini sering di sebuat aliran skeptis. Contoh, filasafat harus percaya bahwa 2 + 2 = 4 sebelum melanjutkan pembahasan lebih lanjut. Berbeda dengan para penganut sketisisme yang masih bertanya dan memperdebatkan hal itu. Contoh lain, sebelum mempelajari filsafat kita harus percaya bahwa akal budi mampu memecahkan masalah filsafat. Jika itu belum bisa kita terima, pembahasan filsafatpun tidak akan bisa berlanjut dan berkembang.

Filsafat melampaui seni. Karena pembahasan seni dimulai dari pengalaman. Sedangkan filsafat tidak berhenti hanya sampai pada sebuah pengalaman. Melainkan mencoba melampaui apa yang juga sering disebut ilmu pengetahuan. Ketika ilmu pengetahuan mempertanyaakan mengapa materi air bisa berubah menjadi es?. Filsafat mencari sampai pada apa yang disebut hakekat, asalmuasal, atau orang Yunani Kuno menyebutnya dengan arche. Yaitu penciptaan materi oleh Allah. Maka bisa kita simpulkan bahwa filsafat mencari penjelasan-penjelasan dari hasil ilmu pengetahuan tentang penyebab mendasar atau hakekatnya.

Seperti pada pengetahuan pada umunnya. Dalam filsafat juga terdapat obyek material dan obyek formal. Obyek materialnya adalah, sekali lagi harus dikatakan bahwa filsafat mempelajari segala sesuatu tentang realitas hidup dengan mencari satu hal terakhir yang menjadi inti, pusat, prinsip, atau hakekatnya. Yang akhirnya memunculkan cabang-cabang dalam filsafat. Seperti logika, etika, filsafat politik, estetika, dan masih banyak lainnya.

Kemudian yang menjadi obyek formalnya adalah melakukan pencarian atas penjelasan-penjelasan yang terdalam mengenai keberadaan dan sifat dari mahluk. Dan hal ini pulalah yang kemudian sungguh menjadi pembeda yang besar antara filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya. Pembahasan yang mereka lakukan sudah sangat spesifik dan terbatas. Misalnya dunia Biologi akan berkata bahwa manusia hanya terdiri dari tubuh atau raga. Sedangkan penjelasan berbeda akan kita temukan dalam filsafat. Karena diruntut sampai yang terdalam.

Filsafat mempunyai hubungan erat dengan manusia. Keeratan itu nampak jelas baik dalam dunia politik, ideologi, maupun kultur yang ada dalam masyarakat. Namun kadang apa yang ada dalam masyarakat tersebut belum memilik gagasan filosofis. Misalnya apakah bentuk negara demokrasi adalah bentuk Negara yang sungguh menghargai keadilan? Akhirnya filsafat sebagi cinta akan kebijaksanaan akan membantu kita dalam mencari kebenaran terdalam dari segala segauatu tentang realitas hidup.



[1] A.C. Ewing, Persoalan-Perssoalan Mendasar Filsafat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hlm 1.

[2] Mark B. Woodhouse, Berfilsafat (Sebuah Langkah Awal), (Yogyakarta: Kanisius, 2000), hlm 15.

Jati Diri Manusia sebagai Landasan Pengembangan Epistemologi

(Kristoforus Sri Ratulayn K.N)

Dalam menjelaskan masalah jati diri manusia sebagai landasan pengembangan epistemologi, saya akan mengurainya dalam tiga sub-tema besar. Pertama, adalah penjelasan mengenai apa itu jati diri manusia? Kedua penjelasan bagaimana peran jati diri sebagai “Pengada Aktual” dalam rangka pengembangan epistemologi? Ketiga, kita akan melihat jati diri sebagai kesatuan subjek atau bisa juga kita sebut ciri yang tak terpisahkan dari jati diri sebagai kesatuan subjek.

Apa itu jati diri manusia?

Pada pembahasan awal ini kita akan mendalami terlebih dahulu apa itu jati diri manusia? Kita akan menemukan dua kata kunci dari jati diri yaitu kesatuan (Unitas) dan keberagaman (kompleksitas)[1]. Kesatuan berarti bahwa dalam diri manusia terdapat berbagai unsur pembentuk yang tak dapat terbagi-bagi. Seperti kesatuan karakter, sifat, watak, kepribadian, identitas diri, dan keunikannya yang ada di dalamnya. Akhirnya tidak bisa disangkali bahwa terdapat pula keberagaman, karena kompleksnya unsur-unsur yang ada di dalamnya. Contoh, dalam sebatang rokok terdapat berbagai unsur yang membuatnya pantas disebut rokok, yang unsur-unsurnya tidak bisa dipisahkan dan kompleks.

Melihat unsur-unsur yang terkandung dalam jati diri seperti karakter, sifat, watak, kepribadian dan identitas diri. Maka, bisa kita simpulkan bahwa jati diri manusia bukan merupakan sesuatu yang statis dan final. Karena jati diri sendiri adalah sebagai subjek pengada aktual bagi pengetahuan dengan sifatnya yang terus berproses. Untuk penjelasan lebih lanjut tentang pengada aktual akan di jelaskan dalam sub tema kedua.

Bagaimana peran jati diri sebagai “Pengada Aktual” dalam rangka pengembangan epistemologi?

Istilah Pengada aktual sering mengacu atau berhubungan pada causa efficiens. Yaitu sebuah pengertian bahwa adanya kemampuan-kemampuan yang khas dan majemuk dalam diri manusia yang mengadakan sesuatu secara aktif dan dinamis. Sifatnya yang aktif dan dinamis selanjutnya mengarahkan bahwa jati diri manusia tidak bisa dibatasi dalam satu aspeknya dan menjadi lebih sempit. Karena jati diri mempunyai kesatuan dan keunikan seperti pada penjelasan di sub-tema pertama.

Terdapat tiga tahapan dalam penemuan jati diri. Yaitu tahap pengumpulan data, tahap pengolahan data, dan tahap kepenuhan diri. Tahap pengumpulan data adalah tahap dimana seseorang mulai menangkap data-data atau nilai-nilai yang telah ada dalam dunianya. Tahap pengolahan secara sederhana adalah tahap dimana seseorang mulai mampu untuk menalarkan berbagai pengetahuan yang telah ia dapatkan dalam tahap pengumpulan data tadi. Terakhir tahap kepenuhan adalah tahap akhir yang juga bisa dikatakan bahwa seseorang telah mencapai jati dirinya, sehingga telah mampu menjadi objek bagi pengada lainnya.

Dari penjelasan diatas bisa kita simpulkan bahwa jati diri manusialah causa efficiens dalam rangka pengembangan epistemologi. Hal ini dilihat dari sudut bagaimana dalam pencapaiannya sebagai jati diri itulah juga termasuk pengembangan epistemologi. Dalam rangka pencapaian jati diri turut melibatkan pula pengolahan pengetahuan di dalamnya, yang hal itu juga merupakan pengembangan epistemologi. Intinya bahwa dalam proses pembentukan jati diri itulah terjadi pula pengembangan epistemologi.

Sebagai contoh, ketika seorang anak mulai sadar bahwa dirinya mempunyai intelejensi, dia mulai mempelajari berbagai hal yang ada dalam dirinya. Kemudian lebih lanjut dia mampu mengolah pengetahuannya atau menalar apa yang telah dia dapatkan. Hingga sampai pada tahap dimana ia sungguh telah mampu sampai ,menjadi bahan bagi pengada baru.

Jati diri sebagai kesatuan subjek dalam pengembangan epistemologi

Pada bagian ini kita akan mendalami bagaimana jati diri sebagai kesatuan subjek dalam pengembangan epistemologi mempunyai ciri yang tak terpisahkan. Secara sederhana bisa kita pahami bahwa jati diri disebut sebagai kesatuan subjek karena di dalamnya terdapat banyak sekali input dalam rangka menemukan kepastian. Misalnya masukan dari imajinasi, intuisi, atau insight. Dalam rangka menemukan kepastian pengetahuan atau pengembangan epistemologi, unsur-unsur itu tidak boleh dipilah-dipilah.

Kita tidak bisa memilah-milah atau mengambil bagian per bagian dari berbagai input yang telah kita dapatkan dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam hal inilah jati diri sebagai sebuah kesatuan subjek pengembangan epistemologi. Sebagai contoh, dalam menentukan benar atau salah sesuatu kita tidak bisa memisahkan mana yang dihasilkan dari imajinasi dan mana yang intuisi. Seakali lagi karena jati diri adalah sebuah kesatuan. Seolah-olah memang sudah menjadi satu paket, misalnya seperti dalam promosi barang dagangan beli satu dapat dua.



[1] Lih. Aholiab Watloly, Tanggung Jawab Pengetahuan: Mempertimbangkan Epistemologi secara Kultural, Kanisius: Yogyakarta, 2001, hlm. 124.