“Rokok: Kebutuhan Tubuh yang Memenjarakan Jiwa Ditinjau Dari Filsafat Plato Tentang Tubuh dan Jiwa”
PAPER AKHIR PENGGANTI UAS MATA KULIAH
SEJARAH FILSAFAT YUNANI KUNO
Oleh:
Kristoforus Sri Ratulayn Kino Nara
BAB I
PENDAHULUAN
Bagi sebagian besar orang, rokok telah menjadi kebutuhan yang bahkan disamakan dengan kebutuhan untuk makan dan minum. Kebutuhan akan rokok sudah menjadi kebutuhan yang sangat sentral. Mereka disebut sebagai perokok berat. Bahkan ada yang mengatakan bahwa rokok telah menjadi “istri” kedua mereka. Dengan demikian bisa kita katakan bahwa kebutuhan akan rokok selalu menuntut seorang perokok untuk mencari dan menghisapnya. Tentu banyak faktor yang harus kita lihat dalam membicarakan masalah ini. Namun dalam pembahasan ini, kita akan melihat bagaimana kebutuhan akan merokok dikritisi atau ditinjau dari sisi filsafat.
Paper ini berjudul “Rokok: Kebutuhan Tubuh yang Memenjarakan Jiwa Ditinjau Dari Filsafat Plato Tentang Tubuh dan Jiwa”. Masalah yang ingin dibahas dalam paper ini adalah melihat bagiamana kebutuhan tubuh akan rokok jika ditinjau dari sisi filsafat? Kemudian mengkaitkan dengan tema ketidak bebasan macam apa yang ada dibalik fenomena rokok, yang tentunya juga dilihat dari sisi filsafat. Latar belakang pengambilan tema rokok dan kebebasan sebagai bahan penelitian awalnya karena terinspirasi dari mulai maraknya perdebatan tentang rokok, khususnya jika melihat ramainya perdebatan pro-kontra mengenai keputusan dikeluarkannya peraturan daerah tentang larangan merokok. Berdasarkan penjelasan di atas, menjadi jelas bahwa rokok yang sudah menjadi sebuah kebutuhan manusia akhirnya harus berbenturan dengan kewajiban sebagai anggota sebuah masyarakat.
Saya mengeluarkan sebuah argumen guna menuntun alur pembahasan yang ada dalam papar ini. Argumen saya adalah bahwa dengan merokok, manusia tidak bebas. Saya akan membagi pembahasan paper ini dalam tiga bagian. Pertama, kita akan melihat bagaimana ajaran Plato tentang tubuh dan jiwa. Pada bagian pertama ini kita akan melihat secara detail teori Plato tentang tubuh dan jiwa dari beberapa sumber acuan. Kedua, analisis dengan mengacu pada teori Plato tentang tubuh dan jiwa dengan kaitannya dalam kebutuhan manusia akan (me)rokok. Dengan kata lain kita akan langsung mensintesakan teori Plato tentang tubuh dan jiwa pada bagian pertama tadi dengan analisis gejalah yang terjadi ketika orang mengkonsumsi rokok. Kemudian pada bagian terakhir nantinya adalah sebuah kesimpulan, bahwa rokok merupakan kebutuhan tubuh yang memenjarakan jiwa manusia.
BAB II
KERANGKA TEORI
Teori Plato tentang Tubuh dan Jiwa Manusia
Plato (429-437), seorang filsuf terbesar dalam sejarah filsafat Yunani Kuno, lahir dalam sebuah keluarga terkemuka di Athena. Ayahnya bernama Ariston dan ibunya bernama Periktione. Ia adalah salah seorang teman diskusi Sokrates. Plato menjadi salah seorang filsuf terbesar sepanjang sejarah filsafat, karena ia membuka tema-tema pembicaraan abadi dalam filsafat. Bahkan sampai muncul sebuah argumen bahwa filsafat selanjutnya hanyalah catatan kaki dari filsafat Plato.
Semasa hidupnya ia sangat produktif dalam hal menulis. Semua tulisannya selalu berbentuk dialog. Hal ini karena mungkin dipengaruhi oleh Sokrates yang terkenal sangat membenci tulisan. Sehingga akhirnya Plato pun akhirnya mencoba membuat sebuah sintesis antara tulisan dan lisan. Beberapa karya utamanya dalam filsafat mencakup Protagoras, Gorgias, Meno, Apology, Phaedo, Crito, Republic, Parmenides, Theatetus, Sophist, dan, laws.
Ajaran filsafat Plato yang terkenal adalah mengenai ide-ide dan tentang dualisme dari manusia. Bagi Plato kenyataan sesungguhnya hanya ada dalam dunia. Sedangkan realitas yang ada di dunia hanyalah sekedar bayangan dari ide-ide. Ajaran Plato mengenai ide-ide juga diterapkan dalam ajarannya mengenai dualisme manusia.
Dualisme Plato memandang bahwa manusia terdiri dari dua hakikat yang berlainan, tubuh dan jiwa. Tubuh mempunyai sifat yang rapuh, mudah berubah, dan tidak tetap. Hal ini nantinya sejalan dengan perbandingan antara ide-ide abadi dengan realitas di dunia yang selalu berubah. Sedangkan jiwa adalah sesuatu yang kasat mata, tetap dan abadi. Plato berargumen karena jiwa mampu mengenali ide-ide, maka jiwapun mempunyai sifat-sifat yang sama dengan ide-ide. Jiwa selalu mempunyai kerinduan untuk mencapai kearifan dan kebijaksanaan.
Bagi Plato tubuh adalah kuburan bagi jiwa (soma-sema). Dalam artian, jiwa sudah ada di suatu tempat yang penuh dengan kearifan sebelum dilahirkan. Dunia inilah tempat kediaman jiwa yang sesungguhnya. Pada suatu ketika jiwa mengalami inkarnasi dan masuk ke dalam tubuh. Jadi dunia yang sekarang ditempati jiwa ketika masuk ke dalam tubuh bukanlah tempat tinggal jiwa. Hal inilah yang menjadi penegas dari dualime Plato.
Tubuh yang mempunyai sifat rapuh, tidak tetap, dan selalu berubah menjadi penghalang bagi jiwa untuk mencapai kearifan dan kebijaksanaan. Karena sifatnya yang tidak tetap dan selalu berubah itu lah muncul argumen dari Plato bahwa tubuh akan “membingungkan” manusia dalam usaha mencari kebenaran.
Kerinduan jiwa adalah terbebas dan pulang kembali memasuki dunia ide-ide Menurut Plato berfilsafat berkaitan hanya dengan pikiran atau jiwa. Untuk hal tersebut manusia harus berusaha sebisa mungkin melepaskan diri dari belenggu tubuh yang memenjarakannya. Memenjarakan artinya menuntut manusia untuk selalu memenuhi kebutuhan tubuh, bersenang-senang dan “memuja” tubuh.
Dalam bukunya yang berjudul Phaedo, Plato menambahkan bahwa yang diperluakan untuk memasuki kawasan entitas ide-ide hanya lah jiwa. Sedangkan jiwa bernalar paling indah, ketika tidak satu pun dari hal-hal yang ragawi, seperti pendengaran, peglihatan, duka cita ataupun kesenangan, menghalanginya untuk mencapai kebenaran. Dengan meninggalkan tubuhnya manusia akan mampu menemukan hakikat segala sesuatu. Seperti sudah kita tahun bahwa tubuh mempunyai sifat mengarahkan seseorang untuk mencari kesenangan, misalnya makan dan minum. Manusia yang terlalu terpengaruh oleh tubuh akan menjadi pemuja tubuh. Inilah yang sungguh menjadi penghambat bagi jiwa untuk mampu bernalar hingga mencapai kearifan dan kebijaksanaan.
Berikut sebuah kutipan dari salah satu karya Plato yang berjudul Phaedo, yang menyatakan secara jelas bagaimana Plato menyangkali peran konstruktif apapun dari tubuh manusia dalam usaha mencapai kebenaran yang hakiki:
“Selama kita memiliki tubuh yang menemani argumen yang kita kembangkan dalam penyelidikan kita, dan jiwa kita tercampur dengan hal jahat semacam ini, kita tidak akan pernah mendapatkan apa yang kita inginkan”
Kita bisa mengambil sebuah contoh yang kiranya dapat membantu kita untuk lebih mudah memahami ajaran Plato tentang tubuh dan jiwa, khususnya berkaitan dengan tubuh sebagai penghalang jiwa mncapai kebijaksanaan. Suatu ketika seorang mahasiswa mengalami sakit panas yang memaksanya harus beristirahat untuk beberapa minggu. Padahal ia harus belajar dan memahami materi ujian yang akan dia hadapi. Dengan demikian nampak secara langsung bahwa tubuh menghalangi jiwa untuk bernalar dan mencapai kebijaksanaan.
BAB III
ANALISIS TEMA
Pada bagian ini kita akan mengulas lebih dalam mengenai kebutuhan akan merokok dengan kebebasan. Dimana letak hubungan antara rokok dan tubuh sehingga dikatakan menjadikan tidak bebas?
Jelaslah bahwa rokok adalah kebutuhan tubuh. Tubuhlah -yang karena efek nikotin- membuat manusia ketagihan untuk mengkonsumsinya. Jika tidak merokok dalam waktu lama, tubuh akan mengalami kesemutan di lengan dan kaki, berkeringat dan gemetar, gelisah, susah konsentrasi, sulit tidur, lelah atau pusing. Bahkan terkena resiko-resiko penyakit seperti penyakit jantung, kanker paru-paru, osteoporosis, katarak, dan masih banyak lagi. Dengan bahasa lain kita bisa mengatakan, bahwa seorang pecandu rokok harus menghisap rokok secara rutin. Rokok adalah kebutuhan tubuh.
Tubuh yang sudah mulai kecanduan rokok selalu menuntut pemilik tubuh tersebut untuk selalu menghisapnya. Orang menjadi tidak bebas lagi untuk menguasai tubuhnya. Entah tiap jam atau menit tubuh memerlukan rokok untuk “menstabilkan” kondisinya. Artinya menjadi semacam sebuah pelarian sementara untuk menenangkan diri bagi mereka yang sudah kecanduan rokok. Jika mau dilihat dari sisi psikologis, maka mungkin dari sini juga bisa disimpulkan orang menjadi tidak bebas lagi.
Setelah kita melihat teori Plato tentang tubuh dan jiwa, lalu membuat pendasaran di atasnya. Kemudian melihat hasil analisis tentang hubungan antara rokok dan tubuh. Akhirnya kita bisa membayangkan apa yang akan dikatakan Plato, jika ia masih hidup saat ini. Dengan lantang Plato akan berkata bahwa rokok adalah “kuburan” bagi jiwa manusia. Argumen tersebut secara langsung dapat dijelaskan lebih detail ketika melihat logika pemikiran yang ada di dalamnya. Logikannya demikian: karena rokok adalah kebutuhan tubuh, sedangkan tubuh sendiri adalah penjara bagi jiwa. Maka rokokpun adalah sebuah penjara atau kuburan bagi jiwa manusia.
Penarikan logika di atas mampu dengan jelas menjadi pembuktian bahwa kebutuhan tubuh akan rokok membuat jiwa tidak bebas. Rokok menhalangi manusia untuk mencapai pengetahuan, kearifan atau kebijaksanaan yang sempurna, sesuai dengan apa yang dikatakan Plato dalam teorinya. Dengan kata lain juga semakin menghalangi cita-cita jiwa, kembali kedalam kerajaan ide-ide. Kebutuhan akan rokok menjadi penjara atau penghambat manusia untuk mencapai kebenaran, karena manusia menjadi “hamba” dari tubuh. Kebutuhan tubuh akan rokok menuntut manusia untuk selalu mendahulukannya, setelah itu terpenuhi baru memenuhi kebutuhan yang jiwa akan pencarian kebenaran dan kebijaksanaan.
Penegasan singkat mengenai letak ketidakbebasan: Berdasarkan penjelasan paragraf sebelumnya, kita bisa menemukan dimana letak ketidakbebasan yang muncul dari hubungan antara rokok dan tubuh. Secara logis, ketidakbebasan tersebut pun terdapat dan dikenakan pada jiwa. Rokok membuat jiwa tidak bebas.
Kita bisa mengambil contoh. Suatu ketika seseorang pecandu rokok yang berprofesi sebagi dosen harus memberikan kuliah kepada mahasiswanya namun kebutuhan akan merokoknya belum terpenuhi sebelumnya. Kita bisa mengkira-kira apa yang terjadi pada dosen tersebut? Tidak tenang, sulit berkonsentrasi, dsb.
Contoh lain lagi ketika seorang bapak rumah tangga, yang juga seorang pecandu rokok. Pada suatu ketika dihadapkan pada dua pilihan yang berbeda. Pilihan pertama bahwa anaknya memerlukan susu bayi. Pilihan kedua kebutuhan untuk mengkonsumsi rokok. Akhirnya ia memilih untuk mendahulukan kebutuhannya untuk membeli rokok. Dari contoh tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa betapa rokok sebagai kebutuhan tubuh sungguh memenjarakan jiwa yang lebih mencari kebijaksanaan dan kearifan.
BAB IV
KESIMPULAN dan TANGGAPAN
Bagian terakhir ini sekedar untuk lebih menegaskan kembali argumen awal, bahwa (me)rokok adalah kebutuhan yang memenjarakan manusia, terutama ditinjau dari teori Plato tentang tubuh dan jiwa. Rokok adalah kebutuhan tubuh, karena berkaitan dengan tubuh yang juga menjadi penjara jiwa untuk mencapai kebijaksanaan maka bisa kita simpulkan bahwa rokokpun menjadi penjara atau kuburan bagi manusia.
Sebagai tanggapan kritis, saya ingin mengkriktik teori Plato mengenai tubuh dan jiwa. Secara tegas saya tidak setuju dengan argument Plato yang mengatakan tubuh hanya menjadi penggangu manusia untuk mencapai kebenaran atau kebijaksanaan. Saya melihat adanya kontradiksi dalam teori tersebut. Bagaimana Plato dengan tegas menolak peran tubuh dalam keberadaan manusia sedangkan di sisi lain dalam mengenali ide-ide abadi, Plato tidak bisa mengingkari bahwa dengan begitu dia pun membutuhkan tubuh untuk mengenali ide-ide. Bagaimana jiwa bisa mengenali ide-ide abadi jika tidak dibantu oleh tubuh untuk menangkap realitas yang ada di dunia, yang kemudian membantunya untuk ingat kembali akan ide-ide abadi yang pernah dilihatnya sebelum masuk kedalam tubuh.
Relevansi yang bisa kita ambil dari semua pembahasan di atas adalah; mari kita mengkritisi kembali keputusan kita yang memilih untuk “dijajah” oleh rokok. Rokok yang sebenarnya justru memperbudak kita, sehingga tidak dapat mencapai kebaikan. Mari kita tanamkan hidup sehat dan bijaksana tanpa rokok!!!.
BAB V
DAFTAR ACUAN
1. B. Woodhouse, Mark. Filsafat: Sebuah Langkah Awal. Yogyakarta: Kanisius. 2002.
2. Bertens, K. Sejarah Filsafat Yunani Kuno. Yogyakarta: Kanisius. 1999.
3. Diktat Mata Kuliah Sejarah Filsafat Yunani Kuno: Pengantar ke dalam Dialog Plato Pertemua ke-8 Sejarah Filsafat Yunani Kuno: Pengantar ke dalam Dialog Plato.
4. L. Tjahjadi, Simon Petrus. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. 2004.
5. Rakhmat, Ioanes. Sokrates Dalam Tetralogi Plato: Sebuah Pengantar dan Terjemahan Teks, Jakarta: Gramedia. 2009.
6. Snijders, Adelbert. Manusia dan Kebenaran. Yogyakarta: Kanisius. 2006.
7. http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/kedokteran/dampak-merokok-bagi-kesehatan,
Jumat, 29 Januari 2010
Seminar Plato dalam Phaedo
“Bukti Tentang Pengetahuan Bentuk yang Abadi Dalam Buku
Phaedo”
PAPER AKHIR PENGGANTI UAS MATA KULIAH
SEMINAR PLATO DALAM PHAEDO
Oleh:
Kristoforus Sri Ratulayn Kino Nara
BAB I
PENDAHULUAN
A. Penjelasan Umum Tentang Isi Phaedo
Secara umum, teks dialog Phaedo ini berisikan tentang percakapan terakhir Sokrates sebelum minum racun. Dialog tersebut diawali dengan cerita Phaedo, seorang murid Sokrates, yang hendak pulang setelah menyaksikan Sokrates dieksekusi. Di tengah perjalanan pulang, Phaedo bertemu dengan Ekhekrates. Kemudian Ekhekrates meminta Phaedo menceritakan tentang semua yang terjadi menjelang eksekusi Sokrates. Akhirnya Ekhekrates menceritakan secara detail tentang semua dialog yang terjadi di dalam penjara tempat Sokrates ditahan. Dalam konteks inilah dialog tersebut dibangun.
Terdapat beberapa tokoh yang terlibat dalam dialog tersebut, yaitu Phaedo, Ekhekrates dari Flius, Sokrates, Apollodorus, Simmias, Kebes, Krito, dan penjaga penjara. Inti dari dialog mereka adalah membicarakan tentang jiwa serta kehidupan setelah mati. Teori Plato mengenai idea atau bentuk dan mengenai immortalitas jiwa menjadi topik utama dalam teks dialog Phaedo ini.
B. Tempat Topik Ditemukan
Secara khusus, pembahasan saya dalam paper ini adalah menemukan dan mengurai mengenai pembukti tentang pengetahuan akan bentuk yang abadi dalam teks Phaedo ini. Kemudian yang menjadi pertanyaan, pada bagian manakah topic tersebut ditemukan dalam teks Phaedo?
Setelah melakukan analisis teks, kita akan mulai menemukan topik mengenai pembuktian tentang ide-ide yang abadi ketika dalam dialog mulai membicarakan tentang hakikat dari realitas. Sebagai contoh, tema tentang bukti tentang pengetahuan bentuk yang abadi, secara implisit dapat ditemukan dalam teks Phaedo pasal 65b-67b. Dalam beberapa pasal tersebut mulai memuat gagasan Plato mengenai idea atau bentuk, sesuatu yang terdapat di kawasan entitas, yang hanya bisa dicapai melalui nalar. Lebih lanjut Sokrates berargumen bahwa bernalar adalah kegiatan dari jiwa (65c).
Penjelasan mengenai ide-ide yang abadi erat kaitannya pula dengan teori mengenai reminiscentia. Dalam teori tersebut dijelaskan bahwa sebenarnya jiwa sebelum terpenjara di dalam tubuh, ia berada di suatu tempat di mana dia memandang ide-ide yang abadi. Artinya bahwa proses pengetahuan merupakan pengingatan kembali. Ide diingatkan kembali melalui proses reminiscentia. Mengingat kembali ide-ide yang dilihatnya sebelum terpenjara dalam tubuh.
BAB II
ANALISIS TEKS
A. Kutipan Teks Di Mana Isi Diperkenalkan
Saya akan memulai analisis tema tentang pembuktian akan bentuk yang abadi dalam teks Phaedo ini dengan beberapa kutipan yang menjadi titik tolak atau awal dan alur dialog tentang tema tersebut, yaitu kutipan tentang awal dialog tentang tema, mengenai teori recollection, dan argument pembuktian dari Sokrates:
“Tetapi apakah engkau menyentuh dan mengenali hal-hal semacam itu dengan indra lain apa pun yang dating dari tubuh? Aku sedang berbicara mengenai hakikat dari segala hal semacam itu, mengenai hakikat kebesaran dan kesehatan dan kekuatan dan, pendek kata, hakikat segala sesuatu lainnya, apa pun ini. Apakah kebenaran paling sejati mengenai semua hal semacam itu dilihat melalui tubuh? Ataukah halnya demikian ini: orang di antara kita yang paling baik mempersiapkan diri untuk memikirkan dalam-dalam dan sepenuh-penuhnya dan dengan sepersis mungkin setiap hal yang sedang diselidikinya, orang inilah yang akan sedekat-dekatnya mengenali setiap hal?” (Phaedo 65d-65e)
“… Menurut argumen ini, aku beranggapan bahwa apa yang sekarang ini kita ingat, sesungguhnya adalah apa yang kita telah pelajari beberapa waktu sebelumnya. Tetapi tidaklah dimungkinkan jika jiwa kita tidak berada di suatu tempat sebelum dilahirkan dalam wujud manusia di dunia ini. Jadi, dengan sudut pandang ini juga, jiwa kelihatannya adalah sesuatu yang tidak binasa” (Phaedo 73a)
“Tetapi ketika jiwa, dari dan pada dirinya sendiri, menyelidiki, dia pergi ke sana, ke sesuatu yang murni dan selalu ada, dan dia tidak bisa mati dan tetap berada dalam kondisi yang sama. Dan karena jiwa berhubungan dengannya, dengan sesuatu yang murni ini, jiwa terus-menerus berada bersamanya, yakni ketika dia menjdai dirinya sendiri oleh dirinya sendiri, dan hal ini dimungkinkan untuk dirinya.” (Phaedo 79d)
B. Tesis yang Harus Dibuktikan
Pada analisis teks ini saya ingin menjawab pertanyaan mengenai apakah jiwa itu abadi (pembuktian melalui pengetahuan akan ide-ide yang abadi)? Dengan kata lain, jiwa itu abadi karena mampu memikirkan atau menalar ide-ide abadi. Pertanyaan selanjutnya bagaimana penjelasan akan argumen Sokrates bahwa jiwa mempunyai sifat yang abadi karena mampu memikirkan ide-ide yang abadi?
C. Identifikasi Titik Awal Diskusi
Awal dari dialog menganai ide-ide yang abadi adalah rangkaian dari argument pembuktian Sokrates bahwa jiwa itu mempunyai sifat yang tetap, tidak berubah, dan abadi. Dari tujuan tersebut mulai mengalirlah sebuh dialog penjelasan lebih lanjut. Mulai dari Sokrates yang kemudian melanjutkan dengan mengajukan argumen bahwa manusia sebiasa mungkin harus membebaskan diri dari keinginan tubuh. Karena tubuh membuat jiwa tidak bebas untuk bernalar. Jiwa bernalar paling indah ketika tidak satu pun dari hal-hal ragawi darinya menghalanginya, juga ketika dia berusaha dengan keras menemukan hakikat dari segala sesuatu.
D. Kesimpulan yang Ingin Dicapai
Kemudian memang pada akhirnya di kesimpulan dapat saya mampu menunjukkan bahwa jiwa itu mempunyai sifat yang abadi karena jiwa dapat memikirkan ide-ide atau bentuk-bentuk abadi. Logikanya demikian: karena jiwa mampu memikirkan ide-ide abadi, maka jiwapun mempunyai sifat yang abadi tersebut (79d).
E. Argumentasi Langkah demi Langkah
Sebelum kita melihat secara detail argumentasi langkah demi langkah yang terjadi dalam dialog untuk membuktikan bahwa jiwa itu abadi, melalui pengetahuan akan ide-ide yang abadi, mari kita melihat pemikiran Plato secara umum mengenai ajarannya tentang idea atau bentuk. Dalam filsafatnya Plato membagi realitas kedalam dua bentuk. Realitas pertama mencakup segala benda-benda jasmani yang sanggup ditangkap oleh indera manusia (kasat mata). Karena sifatnya yang menyangkut benda-benda jasmani, itu berarti masih terdapat perubahan di dalamnya. Sedangkan realitas kedua adalah ranah di balik dunia materi. Realitas ini disebut sebagai dunia idea, yang di dalamnya terdapat pola-pola yang tidak dapat rusak atau terkikis oleh waktu.
Realitas tentang dunia idea menjadi inti ajaran Plato. Plato memandang bahwa realitas idea adalah realitas yang sesungguhnya Ide adalah sesuatu yang objektif. Realitas ide tidak diciptakan oleh pemikiran dan tidak tergantung olehnya pula. Realitas ide ini mempunyai sifat abadi, tetap, dan kekal. Sedangkan realitas dunia materi hanya bayang-bayang atau tiruan dari realitas idea. Realitas di dunia mempunyai sifat yang tidak tetap, selalu berubah, dan rapuh. Dialog Phaedo pun menjelaskan bahwa jika orang dapat masuk dalam kawasan ide ini (contoh Phaedo 65b-67b), ia akan mendapatkan pengetahuan yang universal dan hakiki, yang sempurna, murni dan tidak berubah dan kebijaksanaan yang tidak akan rentan oleh waktu atau perubahan (79a). Dengan kata lain Plato memandang bahwa akal budi merupakan sarana bagi seseorang untuk mampu menangkap pengetahuan mengenai segala sesuatu tentang ide (79a).
Alur penjelasan tentang jiwa yang bernalar atau mencari hakikat dari segala sesuatu berlanjut dengan penjelasan bahwa sebelum manusia dilahirkan, ia telah memiliki pengetahuanya yang hakiki. Sebelum terpenjara dalam tubuh, jiwa berada pada suatu tempat dimana terdapat ide-ide yang abadi dan sempurna, yang menyinari segala realitas yang ada di dunia. Dan proses pembelajaran yang terjadi dalam kehidupannya adalah sebuah proses mengingat (reminiscentia). Hal ini berkaitan dengan argumen bahwa jiwa manusia sudah ada lebih awal juga, sebelum jiwa memakai rupa insani, dan mereka terpisah dari tubuh dan memiliki kebijaksanaan (76c).
Oleh Plato Ide tentang kekekalan ini juga dikaitkan dengan manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa. Tubuh adalah sesuatu yang kasat mata yang rapuh dan dapat berubah. Sedangkan jiwa adalah sesuatu yang tidak kasat mata. Jiwa selalu ingin berfilsafat dengan benar, dan mempraktikkan apa yang selalu menjadi kepeduliannya yang tetap, yakni mengalami kematian dengan mumi. Dengan demikian dapat dikatakan jiwa akan pergi ke suatu kawasan yang serupa dengan dirinya sendiri, ke kawasan yang tidak kasat mata, kawasan ilahi dan kearifan.
Akhirnya, setelah kita melihat dan meruntut argumen langkah demi langkah, mulai dari menjadi jelas bahwa jiwalah yang mengenali ide-ide. Maka, kalau jiwa dapat mengenali ide-ide, tentunya jiwa pun mempunyai sifat-sifat yang sama dengan ide-ide (79d).
BAB III
TINJAUAN KRITIS TESIS atau BUKTI
A. Kekuatan Argumentasi
Menurut pandangan saya, jika dilihat dari sisi logika atau penalaran proses berpikir, argumentasi yang diajukan Plato melalui Sokrates cukup baik. Artinya, secara proses berpikir logika formal, penalarannya lurus. Hal tersebut bisa dijelaskan dengan menengok kembali alur berpikirnya sehingga sampai pada kesimpulan yang lurus pula. Namun untuk kebenarannya masih belum tentu, karena didalannya masih sangat kuat akan pengandaian-pengandaian. Jadi intinya secara logika formal alur berpikir sehingga sampai pada kesimpulan bahwa jiwa itu abadi cukuplah kuat.
B. Kelemahan Argumentasi
Satu kelemahan argumentasi yang paling mencolok dari teori Plato tentang ide-ide adalah terlalu banyaknya pengendaian-pengandaian yang ada di dalamnya. Sebagai contoh jika diuji dengan pertanyaan bagaimana Plato bisa mengetahui bahwa jiwa manusia sudah ada di suatu tempat sebelum dilahirkan menjadi manusia? Kemudian kritik terhadap logika yang dipakai Plato mengenai teroi mengingat. Karena jiwa bisa mengeingat ide-ide abadi maka ia pun mempunyai sifat abadi itu pula.
Kritik lain adalah dengan mencoba melihat kontradiksi dari argumen Plato satu dengan yang lain. Bagaimana Plato dengan tegas menolak peran tubuh dalam keberadaan manusia sedangkan di sisi lain dalam mengenali ide-ide abadi, Plato tidak bisa mengingkari bahwa dengan begitu dia pun membutuhkan tubuh untuk mengenali ide-ide. Bagaimana jiwa bisa mengenali ide-ide abadi jika tidak dibantu oleh tubuh menangkap realitas yang ada di dunia, yang kemudian membantu ingatannya akan ide-ide abadi yang pernah dilihatnya sebelum masuk kedalam tubuh.
C. Pengajuan Bukti yang Berbeda
Saya ingin mengajukan bukti-bukti berbeda terhadap tiap argumen Plato. Pertama, mengenai argument Plato bahwa jiwa sudah ada sebelum ia dilahirkan. Bagaimana Plato membuktikan argument tersebut pun tidak bisa kita ketahui. Pembutikan lain jika mengenai bahwa tidak serta merta jiwa yang bisa mengingat ide-ide abadi, maka ia pun mempunyai sifat-sifat abadi. Argumen Plato tersebut menjadi terpatahkan jika kita melihat teori Aristoteles mengenai causa prima. Penjelasan lebih lanjut mengenai teori causa prima ini akan kita lihat pada pembahasan mengenai tinjauan pustaka lain di bawah.
D. Tinjauan Pustaka lain yang Memperkuat Argumen
Filsafat Aristoteles mengenai causa bisa menjadi acuan untuk memperkuat tinjauan kritis untuk melihat filsafat Plato mengenai ide-ide abadi. Aristoteles menganggap hakikat setiap benda tidak terdapat di luar , melainkan di dalam benda itu sendiri. Hakikat setiap benda bisa dikenali dan diartikan dengan menggunakan empat penyebab. Pertama, penyebab formal (Causa formalis) diartikan sebagai bentuk yang menyusun benda tersebut. Kedua, penyebab final (causa finalis) sebagai tujuan yang menjadi arah terbentuknya benda tersebut. Ketiga, penyebab efisien (causa efficiens) dipahami sebagai penggearak yang menjalankan benda tersebut. Keempat, penyebab materi (causa material) sebagai bahan pembentuk terciptanya benda tersebut. Jadi pengetahuan tidak berasal dari ide-ide, namun berasal dari abstraksi beradasarkan penyebab-penyebab tersebut.
Di samping keempat penyebab tersebut, terdapat satu causa yang menjadi pusat, yakni causa prima. Penggerak yang tidak digerakkan. Penyebab inilah yang menjadi penggerak pertama dari segala realitas di seluruh alam. Semua realitas yang ada di alam muncul dari dan bertujuan akhir darinya. Meskipun semua realitas muncul dan bersumber padanya, hal tersebut tidak berarti serta-merta realitas tersebut mempunyai sifat yang sama dengannya, yaitu abadi, tetap dan murni. Hal tersebut jelas bertentangan dengan argumen Plato yang mengatakan bahwa karena mampu mengingat ide-ide, maka jiwapun mempunyai sifat yang sama dengan ide-ide tersebut.
BAB IV
PENEMUAN PENTING PLATO
Pada bagian ini kita akan melihat penemuan penting Plato yang berkaitan dengan tema bahwa jiwa itu abadi karena mampu memikirkan ide-ide abadi. Hal pertama adalah bahwa suatu konsep mengenai mengenal ternyata sama dengan mengingat (reminiscentia). Bagi Plato pengenalan tidak lain dari pada pengingatan akan ide-ide yang telah dilihat pada waktu pre-eksistensi. Penemuan tersebut menjadi penting karena itu berarti sebenarnya setiap manusia mempunyai potensi yang sama untuk memiliki pengetahuan. Setiap manusia berpotensi untuk memiliki pengetahuan yang sempurna dan benar. Jika manusia sungguh memaksimalkan apa yang menjadi potensinya tidak ada lagi kelas-kelas sosial yang didasarkan oleh kompetensi.
Penemuan penting lainnya adalah mengenai konsep reminiscientia yang jika ditarik lebih dalam mengandung unsur keabadian. Artinya mengingat kembali (reminiscientia) sama dengan abadi (immortal). Sebuah konsep yang sekiranya penting bagi proses pembelajaran. Penemuan baru yang mampu membawa manusia untuk semakin terpacu melakukan proses pembelajaran, semakin mendekati ide-ide.
BAB V
RELEVANSI dengan FILSAFAT KRISTIANI
Pada bagian ini saya akan memaparkan sebuah tinjauan tentang relevansi antara tema yang dibahsa, yaitu tentang pengetahuan akan ide-ide abadi, dengan ajaran Kristiani. Pertanyaannya apakah ajaran Plato tentang ide-ide, seperti yang dibahas di atas juga terdapat dalam ajaran filsafat Kristiani? dan bagaimana bentuk hal itu diterapkan dalam terang filsafat Kristiani?
Berbicara mengenai ajaran Plato tentang ide-ide, ada beberapa filsuf Kristiani yang juga menggunakannya sebagai tema ajaran filsafatnya. Pertama, Agustinus(343-430) seorang filsuf dan teolog Kristen terbesar dalam sejarah gereja. Dalam konteks ini kita akan melihat ajarannya yang sering disebut iluminasi. Ajaran Agustinus tentang iluminasi bertitik tolak dari hubungan budi manusia dengan Budi Ilahi.
Bagi Agustinus pengetahuan yang murni, tetap dan kekal tidak berasal dari indrawi. Namun, Agustinus menolak ajaran Plato tentang keberadaan jiwa yang sudah ada sebelum manusia dilahirkan. Pengetahuan yang sejati berasal dari cahaya batin Allah yang menyinari manusia dari dalam.
Ajaran Agustinus mengenai iluminasi menjelaskan bahwa hubungan budi manusia dan Budi Ilahi menjamin manusia mampu menuju pengetahuan yang benar. jadi dalam kristiani apa yang disebut Plato sebagai ide-ide langsung diterjemahkan sebagai Allah sendiri. Sebagai contoh kita bisa melihat secara langsung, bagaimana setiap akan melakuakan pertemuan-pertemuan seperti konsili, sinode, dan sabagainya. Para Bapa Gereja selalu berdoa agar Allah mencurahkan Roh Kudus-Nya untuk menerangi budi mereka, agar apa yang mereka perbincangkan sungguh-sungguh sesuai dengan pikiran dan kehendak Allah. Artinya praktik itu bisa kita terjemahkan sebagai permohonan kepada Allah supaya memancarkan Budi Ilahi-Nya sehingga mampu memperoleh pengetahuan yang benar.
BAB V
Kesimpulan
Jiwa mempunyai sifat yang abadi. Penjelasannya karena jiwa mampu mengingat kembali (reminiscentia) dan memikirkan ide-ide abadi yang mempunyai sifat abadi, tetap, dan tidak berubah. Jika dilihat secara logika argument tersebut mempunyai kekuatan. Namun untuk kebenaran perlu dipertanyakan kembali, karena memang masih banyak pengandaian yang terdapat di dalamnya. Misalnya diandaikan bahwa ada suatu tempat di man ide-ide abadi berada. Bagimana kita tahu keberadaan tempat itu? Sungguh adakah temapat seperti itu? Karena kalau tidak ada maka runtuhlah semua argumen Plato.
Phaedo”
PAPER AKHIR PENGGANTI UAS MATA KULIAH
SEMINAR PLATO DALAM PHAEDO
Oleh:
Kristoforus Sri Ratulayn Kino Nara
BAB I
PENDAHULUAN
A. Penjelasan Umum Tentang Isi Phaedo
Secara umum, teks dialog Phaedo ini berisikan tentang percakapan terakhir Sokrates sebelum minum racun. Dialog tersebut diawali dengan cerita Phaedo, seorang murid Sokrates, yang hendak pulang setelah menyaksikan Sokrates dieksekusi. Di tengah perjalanan pulang, Phaedo bertemu dengan Ekhekrates. Kemudian Ekhekrates meminta Phaedo menceritakan tentang semua yang terjadi menjelang eksekusi Sokrates. Akhirnya Ekhekrates menceritakan secara detail tentang semua dialog yang terjadi di dalam penjara tempat Sokrates ditahan. Dalam konteks inilah dialog tersebut dibangun.
Terdapat beberapa tokoh yang terlibat dalam dialog tersebut, yaitu Phaedo, Ekhekrates dari Flius, Sokrates, Apollodorus, Simmias, Kebes, Krito, dan penjaga penjara. Inti dari dialog mereka adalah membicarakan tentang jiwa serta kehidupan setelah mati. Teori Plato mengenai idea atau bentuk dan mengenai immortalitas jiwa menjadi topik utama dalam teks dialog Phaedo ini.
B. Tempat Topik Ditemukan
Secara khusus, pembahasan saya dalam paper ini adalah menemukan dan mengurai mengenai pembukti tentang pengetahuan akan bentuk yang abadi dalam teks Phaedo ini. Kemudian yang menjadi pertanyaan, pada bagian manakah topic tersebut ditemukan dalam teks Phaedo?
Setelah melakukan analisis teks, kita akan mulai menemukan topik mengenai pembuktian tentang ide-ide yang abadi ketika dalam dialog mulai membicarakan tentang hakikat dari realitas. Sebagai contoh, tema tentang bukti tentang pengetahuan bentuk yang abadi, secara implisit dapat ditemukan dalam teks Phaedo pasal 65b-67b. Dalam beberapa pasal tersebut mulai memuat gagasan Plato mengenai idea atau bentuk, sesuatu yang terdapat di kawasan entitas, yang hanya bisa dicapai melalui nalar. Lebih lanjut Sokrates berargumen bahwa bernalar adalah kegiatan dari jiwa (65c).
Penjelasan mengenai ide-ide yang abadi erat kaitannya pula dengan teori mengenai reminiscentia. Dalam teori tersebut dijelaskan bahwa sebenarnya jiwa sebelum terpenjara di dalam tubuh, ia berada di suatu tempat di mana dia memandang ide-ide yang abadi. Artinya bahwa proses pengetahuan merupakan pengingatan kembali. Ide diingatkan kembali melalui proses reminiscentia. Mengingat kembali ide-ide yang dilihatnya sebelum terpenjara dalam tubuh.
BAB II
ANALISIS TEKS
A. Kutipan Teks Di Mana Isi Diperkenalkan
Saya akan memulai analisis tema tentang pembuktian akan bentuk yang abadi dalam teks Phaedo ini dengan beberapa kutipan yang menjadi titik tolak atau awal dan alur dialog tentang tema tersebut, yaitu kutipan tentang awal dialog tentang tema, mengenai teori recollection, dan argument pembuktian dari Sokrates:
“Tetapi apakah engkau menyentuh dan mengenali hal-hal semacam itu dengan indra lain apa pun yang dating dari tubuh? Aku sedang berbicara mengenai hakikat dari segala hal semacam itu, mengenai hakikat kebesaran dan kesehatan dan kekuatan dan, pendek kata, hakikat segala sesuatu lainnya, apa pun ini. Apakah kebenaran paling sejati mengenai semua hal semacam itu dilihat melalui tubuh? Ataukah halnya demikian ini: orang di antara kita yang paling baik mempersiapkan diri untuk memikirkan dalam-dalam dan sepenuh-penuhnya dan dengan sepersis mungkin setiap hal yang sedang diselidikinya, orang inilah yang akan sedekat-dekatnya mengenali setiap hal?” (Phaedo 65d-65e)
“… Menurut argumen ini, aku beranggapan bahwa apa yang sekarang ini kita ingat, sesungguhnya adalah apa yang kita telah pelajari beberapa waktu sebelumnya. Tetapi tidaklah dimungkinkan jika jiwa kita tidak berada di suatu tempat sebelum dilahirkan dalam wujud manusia di dunia ini. Jadi, dengan sudut pandang ini juga, jiwa kelihatannya adalah sesuatu yang tidak binasa” (Phaedo 73a)
“Tetapi ketika jiwa, dari dan pada dirinya sendiri, menyelidiki, dia pergi ke sana, ke sesuatu yang murni dan selalu ada, dan dia tidak bisa mati dan tetap berada dalam kondisi yang sama. Dan karena jiwa berhubungan dengannya, dengan sesuatu yang murni ini, jiwa terus-menerus berada bersamanya, yakni ketika dia menjdai dirinya sendiri oleh dirinya sendiri, dan hal ini dimungkinkan untuk dirinya.” (Phaedo 79d)
B. Tesis yang Harus Dibuktikan
Pada analisis teks ini saya ingin menjawab pertanyaan mengenai apakah jiwa itu abadi (pembuktian melalui pengetahuan akan ide-ide yang abadi)? Dengan kata lain, jiwa itu abadi karena mampu memikirkan atau menalar ide-ide abadi. Pertanyaan selanjutnya bagaimana penjelasan akan argumen Sokrates bahwa jiwa mempunyai sifat yang abadi karena mampu memikirkan ide-ide yang abadi?
C. Identifikasi Titik Awal Diskusi
Awal dari dialog menganai ide-ide yang abadi adalah rangkaian dari argument pembuktian Sokrates bahwa jiwa itu mempunyai sifat yang tetap, tidak berubah, dan abadi. Dari tujuan tersebut mulai mengalirlah sebuh dialog penjelasan lebih lanjut. Mulai dari Sokrates yang kemudian melanjutkan dengan mengajukan argumen bahwa manusia sebiasa mungkin harus membebaskan diri dari keinginan tubuh. Karena tubuh membuat jiwa tidak bebas untuk bernalar. Jiwa bernalar paling indah ketika tidak satu pun dari hal-hal ragawi darinya menghalanginya, juga ketika dia berusaha dengan keras menemukan hakikat dari segala sesuatu.
D. Kesimpulan yang Ingin Dicapai
Kemudian memang pada akhirnya di kesimpulan dapat saya mampu menunjukkan bahwa jiwa itu mempunyai sifat yang abadi karena jiwa dapat memikirkan ide-ide atau bentuk-bentuk abadi. Logikanya demikian: karena jiwa mampu memikirkan ide-ide abadi, maka jiwapun mempunyai sifat yang abadi tersebut (79d).
E. Argumentasi Langkah demi Langkah
Sebelum kita melihat secara detail argumentasi langkah demi langkah yang terjadi dalam dialog untuk membuktikan bahwa jiwa itu abadi, melalui pengetahuan akan ide-ide yang abadi, mari kita melihat pemikiran Plato secara umum mengenai ajarannya tentang idea atau bentuk. Dalam filsafatnya Plato membagi realitas kedalam dua bentuk. Realitas pertama mencakup segala benda-benda jasmani yang sanggup ditangkap oleh indera manusia (kasat mata). Karena sifatnya yang menyangkut benda-benda jasmani, itu berarti masih terdapat perubahan di dalamnya. Sedangkan realitas kedua adalah ranah di balik dunia materi. Realitas ini disebut sebagai dunia idea, yang di dalamnya terdapat pola-pola yang tidak dapat rusak atau terkikis oleh waktu.
Realitas tentang dunia idea menjadi inti ajaran Plato. Plato memandang bahwa realitas idea adalah realitas yang sesungguhnya Ide adalah sesuatu yang objektif. Realitas ide tidak diciptakan oleh pemikiran dan tidak tergantung olehnya pula. Realitas ide ini mempunyai sifat abadi, tetap, dan kekal. Sedangkan realitas dunia materi hanya bayang-bayang atau tiruan dari realitas idea. Realitas di dunia mempunyai sifat yang tidak tetap, selalu berubah, dan rapuh. Dialog Phaedo pun menjelaskan bahwa jika orang dapat masuk dalam kawasan ide ini (contoh Phaedo 65b-67b), ia akan mendapatkan pengetahuan yang universal dan hakiki, yang sempurna, murni dan tidak berubah dan kebijaksanaan yang tidak akan rentan oleh waktu atau perubahan (79a). Dengan kata lain Plato memandang bahwa akal budi merupakan sarana bagi seseorang untuk mampu menangkap pengetahuan mengenai segala sesuatu tentang ide (79a).
Alur penjelasan tentang jiwa yang bernalar atau mencari hakikat dari segala sesuatu berlanjut dengan penjelasan bahwa sebelum manusia dilahirkan, ia telah memiliki pengetahuanya yang hakiki. Sebelum terpenjara dalam tubuh, jiwa berada pada suatu tempat dimana terdapat ide-ide yang abadi dan sempurna, yang menyinari segala realitas yang ada di dunia. Dan proses pembelajaran yang terjadi dalam kehidupannya adalah sebuah proses mengingat (reminiscentia). Hal ini berkaitan dengan argumen bahwa jiwa manusia sudah ada lebih awal juga, sebelum jiwa memakai rupa insani, dan mereka terpisah dari tubuh dan memiliki kebijaksanaan (76c).
Oleh Plato Ide tentang kekekalan ini juga dikaitkan dengan manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa. Tubuh adalah sesuatu yang kasat mata yang rapuh dan dapat berubah. Sedangkan jiwa adalah sesuatu yang tidak kasat mata. Jiwa selalu ingin berfilsafat dengan benar, dan mempraktikkan apa yang selalu menjadi kepeduliannya yang tetap, yakni mengalami kematian dengan mumi. Dengan demikian dapat dikatakan jiwa akan pergi ke suatu kawasan yang serupa dengan dirinya sendiri, ke kawasan yang tidak kasat mata, kawasan ilahi dan kearifan.
Akhirnya, setelah kita melihat dan meruntut argumen langkah demi langkah, mulai dari menjadi jelas bahwa jiwalah yang mengenali ide-ide. Maka, kalau jiwa dapat mengenali ide-ide, tentunya jiwa pun mempunyai sifat-sifat yang sama dengan ide-ide (79d).
BAB III
TINJAUAN KRITIS TESIS atau BUKTI
A. Kekuatan Argumentasi
Menurut pandangan saya, jika dilihat dari sisi logika atau penalaran proses berpikir, argumentasi yang diajukan Plato melalui Sokrates cukup baik. Artinya, secara proses berpikir logika formal, penalarannya lurus. Hal tersebut bisa dijelaskan dengan menengok kembali alur berpikirnya sehingga sampai pada kesimpulan yang lurus pula. Namun untuk kebenarannya masih belum tentu, karena didalannya masih sangat kuat akan pengandaian-pengandaian. Jadi intinya secara logika formal alur berpikir sehingga sampai pada kesimpulan bahwa jiwa itu abadi cukuplah kuat.
B. Kelemahan Argumentasi
Satu kelemahan argumentasi yang paling mencolok dari teori Plato tentang ide-ide adalah terlalu banyaknya pengendaian-pengandaian yang ada di dalamnya. Sebagai contoh jika diuji dengan pertanyaan bagaimana Plato bisa mengetahui bahwa jiwa manusia sudah ada di suatu tempat sebelum dilahirkan menjadi manusia? Kemudian kritik terhadap logika yang dipakai Plato mengenai teroi mengingat. Karena jiwa bisa mengeingat ide-ide abadi maka ia pun mempunyai sifat abadi itu pula.
Kritik lain adalah dengan mencoba melihat kontradiksi dari argumen Plato satu dengan yang lain. Bagaimana Plato dengan tegas menolak peran tubuh dalam keberadaan manusia sedangkan di sisi lain dalam mengenali ide-ide abadi, Plato tidak bisa mengingkari bahwa dengan begitu dia pun membutuhkan tubuh untuk mengenali ide-ide. Bagaimana jiwa bisa mengenali ide-ide abadi jika tidak dibantu oleh tubuh menangkap realitas yang ada di dunia, yang kemudian membantu ingatannya akan ide-ide abadi yang pernah dilihatnya sebelum masuk kedalam tubuh.
C. Pengajuan Bukti yang Berbeda
Saya ingin mengajukan bukti-bukti berbeda terhadap tiap argumen Plato. Pertama, mengenai argument Plato bahwa jiwa sudah ada sebelum ia dilahirkan. Bagaimana Plato membuktikan argument tersebut pun tidak bisa kita ketahui. Pembutikan lain jika mengenai bahwa tidak serta merta jiwa yang bisa mengingat ide-ide abadi, maka ia pun mempunyai sifat-sifat abadi. Argumen Plato tersebut menjadi terpatahkan jika kita melihat teori Aristoteles mengenai causa prima. Penjelasan lebih lanjut mengenai teori causa prima ini akan kita lihat pada pembahasan mengenai tinjauan pustaka lain di bawah.
D. Tinjauan Pustaka lain yang Memperkuat Argumen
Filsafat Aristoteles mengenai causa bisa menjadi acuan untuk memperkuat tinjauan kritis untuk melihat filsafat Plato mengenai ide-ide abadi. Aristoteles menganggap hakikat setiap benda tidak terdapat di luar , melainkan di dalam benda itu sendiri. Hakikat setiap benda bisa dikenali dan diartikan dengan menggunakan empat penyebab. Pertama, penyebab formal (Causa formalis) diartikan sebagai bentuk yang menyusun benda tersebut. Kedua, penyebab final (causa finalis) sebagai tujuan yang menjadi arah terbentuknya benda tersebut. Ketiga, penyebab efisien (causa efficiens) dipahami sebagai penggearak yang menjalankan benda tersebut. Keempat, penyebab materi (causa material) sebagai bahan pembentuk terciptanya benda tersebut. Jadi pengetahuan tidak berasal dari ide-ide, namun berasal dari abstraksi beradasarkan penyebab-penyebab tersebut.
Di samping keempat penyebab tersebut, terdapat satu causa yang menjadi pusat, yakni causa prima. Penggerak yang tidak digerakkan. Penyebab inilah yang menjadi penggerak pertama dari segala realitas di seluruh alam. Semua realitas yang ada di alam muncul dari dan bertujuan akhir darinya. Meskipun semua realitas muncul dan bersumber padanya, hal tersebut tidak berarti serta-merta realitas tersebut mempunyai sifat yang sama dengannya, yaitu abadi, tetap dan murni. Hal tersebut jelas bertentangan dengan argumen Plato yang mengatakan bahwa karena mampu mengingat ide-ide, maka jiwapun mempunyai sifat yang sama dengan ide-ide tersebut.
BAB IV
PENEMUAN PENTING PLATO
Pada bagian ini kita akan melihat penemuan penting Plato yang berkaitan dengan tema bahwa jiwa itu abadi karena mampu memikirkan ide-ide abadi. Hal pertama adalah bahwa suatu konsep mengenai mengenal ternyata sama dengan mengingat (reminiscentia). Bagi Plato pengenalan tidak lain dari pada pengingatan akan ide-ide yang telah dilihat pada waktu pre-eksistensi. Penemuan tersebut menjadi penting karena itu berarti sebenarnya setiap manusia mempunyai potensi yang sama untuk memiliki pengetahuan. Setiap manusia berpotensi untuk memiliki pengetahuan yang sempurna dan benar. Jika manusia sungguh memaksimalkan apa yang menjadi potensinya tidak ada lagi kelas-kelas sosial yang didasarkan oleh kompetensi.
Penemuan penting lainnya adalah mengenai konsep reminiscientia yang jika ditarik lebih dalam mengandung unsur keabadian. Artinya mengingat kembali (reminiscientia) sama dengan abadi (immortal). Sebuah konsep yang sekiranya penting bagi proses pembelajaran. Penemuan baru yang mampu membawa manusia untuk semakin terpacu melakukan proses pembelajaran, semakin mendekati ide-ide.
BAB V
RELEVANSI dengan FILSAFAT KRISTIANI
Pada bagian ini saya akan memaparkan sebuah tinjauan tentang relevansi antara tema yang dibahsa, yaitu tentang pengetahuan akan ide-ide abadi, dengan ajaran Kristiani. Pertanyaannya apakah ajaran Plato tentang ide-ide, seperti yang dibahas di atas juga terdapat dalam ajaran filsafat Kristiani? dan bagaimana bentuk hal itu diterapkan dalam terang filsafat Kristiani?
Berbicara mengenai ajaran Plato tentang ide-ide, ada beberapa filsuf Kristiani yang juga menggunakannya sebagai tema ajaran filsafatnya. Pertama, Agustinus(343-430) seorang filsuf dan teolog Kristen terbesar dalam sejarah gereja. Dalam konteks ini kita akan melihat ajarannya yang sering disebut iluminasi. Ajaran Agustinus tentang iluminasi bertitik tolak dari hubungan budi manusia dengan Budi Ilahi.
Bagi Agustinus pengetahuan yang murni, tetap dan kekal tidak berasal dari indrawi. Namun, Agustinus menolak ajaran Plato tentang keberadaan jiwa yang sudah ada sebelum manusia dilahirkan. Pengetahuan yang sejati berasal dari cahaya batin Allah yang menyinari manusia dari dalam.
Ajaran Agustinus mengenai iluminasi menjelaskan bahwa hubungan budi manusia dan Budi Ilahi menjamin manusia mampu menuju pengetahuan yang benar. jadi dalam kristiani apa yang disebut Plato sebagai ide-ide langsung diterjemahkan sebagai Allah sendiri. Sebagai contoh kita bisa melihat secara langsung, bagaimana setiap akan melakuakan pertemuan-pertemuan seperti konsili, sinode, dan sabagainya. Para Bapa Gereja selalu berdoa agar Allah mencurahkan Roh Kudus-Nya untuk menerangi budi mereka, agar apa yang mereka perbincangkan sungguh-sungguh sesuai dengan pikiran dan kehendak Allah. Artinya praktik itu bisa kita terjemahkan sebagai permohonan kepada Allah supaya memancarkan Budi Ilahi-Nya sehingga mampu memperoleh pengetahuan yang benar.
BAB V
Kesimpulan
Jiwa mempunyai sifat yang abadi. Penjelasannya karena jiwa mampu mengingat kembali (reminiscentia) dan memikirkan ide-ide abadi yang mempunyai sifat abadi, tetap, dan tidak berubah. Jika dilihat secara logika argument tersebut mempunyai kekuatan. Namun untuk kebenaran perlu dipertanyakan kembali, karena memang masih banyak pengandaian yang terdapat di dalamnya. Misalnya diandaikan bahwa ada suatu tempat di man ide-ide abadi berada. Bagimana kita tahu keberadaan tempat itu? Sungguh adakah temapat seperti itu? Karena kalau tidak ada maka runtuhlah semua argumen Plato.
Fenomenologi Husserl
Fenomenologi Edmund Husserl dalam Meninjau Pengalaman Beragama
PAPER AKHIR SEBAGAI PENGGANTI UAS MATA KULIAH
METODOLOGI PENELITIAN FILSAFAT
Oleh:
Kristoforus Sri Ratulayn Kino Nara
BAB I
PENDAHULUAN
Melihat realitas yang terjadi dalam masyarakat saat ini, beberapa agama dan segala macam unsur yang terkandung di dalamnya, seperti orang yang menganut, ajaran (dogma), tata cara peribadatannya, aturan, dan sebagainya, mendapat banyak sorotan negatif dalam masyarakat.
Salah satu fenomena yang bisa menjadi contoh penyebab banyaknya sorotan negatif terhadap agama adalah kasus-kasus pengeboman yang terjadi di negara kita. Fenomena pengeboman-pengeboman yang terjadi di Negara kita sadar atau tidak mulai memberikan stereo-tipe atau cap-cap dalam benak masyarakat kepada agama. Cap-cap tersebut mempunyai kecenderungan untuk melakukan generalisasi. Artinya sebenarnya pelakunya hanyalah segelintir kecil bagian dari agama tersebut, namun bagi mereka yang berpikiran sempit membawanya sampai tataran keseluruhan bagian dari agama tersebut. Akhirnya jelaslah dampaknya terkena bagi mereka, para pemeluk agama, yang nyatanya dalam kehidupan sehari-hari justru karena perintah agamanya mempunyai keutamaan-keutamaan, moral yang baik dan sangat menghargai kehidupan.
Paper ini berjudul “Fenomenologi Edmund Husserl dalam Meninjau Pengalaman Beragama”. Masalah yang ingin disajikan dan diamati dalam paper ini adalah melihat dan mengembalikan penilaian tentang agama dari sudut pandang pemeluk agama itu sendiri. Keprihatinan akan realitas seperti yang dipaparan di atas pula lah yang kiranya menjadi latar belakang penulisan penelitian ini. Saya bermaksud untuk mengembalikan penilaian mengenai agama kepada para penganutnya.
Paper ini memuat dua bagian penting. Pertama, teori mengenai Fenomenologi dari Edmund Husserl. Bagian Kedua, langsung menampilkan hasil wawancara dari salah satu subjek pemeluk suatu agama. Ia adalah seorang Imam Gereja Katolik yang mempunyai penghayatan dan pemahaman yang baik tentang agama dan hidup beragama. Dalam wawancara tersebut saya menggunakan kerangka 5 W dan 1 H. Secara lebih detail demikian pertanyaan yang saya ajukan kepada subjek tersebut:
1. Apa makna agama bagi anda?
2. Mengapa memutuskan untuk menjadi pemeluk agama tertentu?
3. Siapakah yang mengenalkan anda dengan agama?
4. Adakah sosok atau panutan dalam menjalani hidup beragama?
5. Kapan mulai memutuskan untuk beragama?
6. Bagaimana pengalaman selama ini dalam menghayati agama?
7. Adakah pengalaman paling mengesan selama beragama? Ceritakan!
Wawancara tersebut saya lakukan pada tanggal 9 Nopember 2009 pukul 17.30 WIB
Bagian selanjutnya kita akan melihat kesimpulan tentang pengalaman beragama dari sudut pemeluk agama itu sendiri. Kemudian sedikit tanggapan kritis
BAB II
KERANGKA TEORI
Teori Fenomenologi Husserl
Edmund Gustav Aibercht Husserl, lahir di Prestejov (dahulu Prossnitz) di Czechoslovakia 8 April 1859 dari keluarga yahudi, golongan menengah. Pada usia ke 27 tahun, dia dibaptis di dalam Gereja Kristen Protestan, karena terpengaruh oleh sahabatnya, G Albrecht. Semasa hidupnya ia bekerja sebagai dosen di Unversitas Halle dari tahun 1886-1901, kemudian di Gottingen sampai tahun 1916. Husserl terkenal dengan metode yang diciptakannya, yakni “Fenomenologi”. Husserl meninggal tahun 1938 di Freiburg. Beberapa karya utamanya: Logical, Investigation, Ideas, Lectures on Internal Time-Consciousness, Transcendental Phenomenology, dan Cartesian Meditations.
Husserl adalah seorang filsuf Jerman sekaligus pendiri gerakan fenomenologi. Gerakan ini memang awalnya adalah sebagai kritik atas positivisme. Karena dalam positivisme seakan-akan dibedakan secara jelas anatara subjek-objek. Kebenaran mutlak ada di tangan subjek. Objek tidak mendapatkan ruang untuk turut mengungkapkan kebenaran atas dirinya sendiri.
Sebuah ungkapannya yang terkenal dan langsung mampu mencirikan metode fenomenologinya adalah “kita perlu kembali ke benda-benda sendiri” (Zu den Sachen selbst). Istilah fenomenologi sendiri sebenarnya berasal dari kata fenomena (phainesthai) dan logos. Dengan demikian bisa kita tarik bahwa fenomenologi adalah ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak dan apa yang menampakkan diri atau fenomen. Fenomen adalah realitas tampak yang sama sekali lain. Inti penekanan dalam metode fenomenologi yang ia tawarkan adalah “deskripsi murni terhadap objek atau tindakan apapun yang tampak atau nyata dalam medan kesadaran” .
Lebih lanjut fenomenologi merupakan usaha untuk memahami kesadaran dari sudut pandang subjektif orang terkait. Artinya, berusaha berfokus pada sebuah pemahaman kesadaran pengalaman subjektif orang pertama. Fenomenologi berusahaapa yang anda pikirkan, rasakan dan lakukan, sekali lagi dari sudut pandang orang pertama. Metode fenomenologi selalu mengarah ke luar atau berhubungan dengan realitas di luar pikiran. Konsep akan makna pun sungguh sangat di tekankan
Fenomenologi menjadi penyebab munculnya kesadaran intensional. Intensionalitas merupakan keterarahan kesadaran (directedness of consciousness) dan juga merupakan keterarahan tindakan, yakni tindakan yang bertujuan pada sesuatu hal. Setiap kesadarandan pikiran selalu memiliki intensionalnya.
Intinya memang bahwa fenomeneologi Husserl ingin menganalisis dunia sebagaimana objek mengalami secara subjektif atau mengguanakan pengalamannya sendiri tanpa ada penilaian dari pihak luar dirinya.
BAB III
ANALISIS MASALAH
Tampilan Hasil Wawancara
Ia membuka ceritanya dengan mengungkapkan bahwa ia lahir dan dibesarkan dari keluarga religius. Religius rtinya keluarga yang taat beragama. Taat beragama di sini dalam penghayatannya adalah patuh menjalankan Sepuluh Perintah Allah yang ada dalam agamanya, Katolik.
Cerita kemudian berlanjut dengan menceritakan Papa nya. Papa nya sejak yang memang sejak awal mempunyai cita-cita agar kelak dalam diri anak-anaknya pun tertanam sikap religiusitas yang kuat. Agar anak-anaknya senantiasa memiliki rasa cinta akan Tuhan yang senatiasa menemani dan menyertai dalam hidup mereka. Didikan dari Papa nya nampak secara nyata dalam bentuk keteladanan hidup untuk melakukan Sepuluh Perintah Allah tadi dan doa-doa secara pribadi maupun doa bersama dalam keluarga.
Ia menambahkan bahwa pernah suatu ketika Papa nya merasa teruji ketaatannya akan Sepuluh Perintah Allah yang dihayati dan diajarkannya kepada anak-anaknya. Ketika bertugas malam sebagai seorang satpam, tiba-tiba seorang perempuan datang dan mengajaknya untuk berselingkuh. Namun karena keteguhan hati dari papanya akan penghayatan Sepuluh Perintah Allah tersebut, papannya menolak secara tegas ajakan perempuan tersebut.
Menurut ia penghayatan agama dan pengembangan akan kerohanian semakin berkembang dan terbangun ketika masuk Seminari. Sebuah tepat untuk pembinaan para calon Imam dalam Gereja Katolik. Terbangun dalam hal ini terlihat dari orang semakin memahami akan ajaran-ajaran agamanya. Kemudian juga semakin terbangunnya relasi yang personal dengan Tuhan, baik secara pribadi maupun komunitas. Ditanyai mengapa bisa semakin terbangun? Ia menjawab karena pelajaran agama yang didapatkannya serta pengkondisian di lingkungan seminari untuk semakin membangun relasi yang personal dengan Tuhan.
Dalam kesadaran pengalaman penghayatan ia akan agama, ia menilai relasi yang personal dengan Tuhan memegang posisi yang sangat sentral. Ia sendiri menghayatinya dengan membandingkan relasi yang ia bangun dengan keluarga, sahabat, dan teman-teman. Bagaimana ia mengalami kerinduan ketika ia tidak bertemu dengan mereka. Hal tersebut langsung ia tarik kepada pemaknaan bahwa berarti kerinduannya akan Tuhan pun harus bisa lebih besar dari kerinduannya akan keluarga, sahabat, dan teman-teman.
Ia memahami bahwa semangat religiusitas atau penghayatan tidak hanya sekedar pada tataran kewajiban atau rutinitas belaka. Namun seharusnya sampai pada kesadaran akan kebutuhan dan kerinduan akan menjalin relasi yang personal dengan Allah. Menurutnya inilah penghayatan yang dewasa dalam iman.
Kemudian ketika ditanyai tanggapan mengenai sikap “lunak” akan penghayatan atau pelaksanaan aturan-aturan yang terjadi dalam agamanya, ia menjawab itulah realitas yang terjadi dalam Gereja. Artinya pengontrolan terhadap pelaksanaan ajaran dan aturan dalam Gereja dikembalikan kepada masing-masing pribadi. Gereja hanya memberikan sarana. Sampai saat ini Gereja hanya berhenti pada sebuah himbauan-himbaun moral kepada para pengikutnya. Pun juga demikan halnya akan peran para pemimpin dan komunitas, yang sudah mulai tidak nampak. Semuanya seakan-akan dikembalikan kepada masing-masing pribadi. Dalam benaknya juga bertanya apakah ini berkaitan dengan penyuaraan akan Hak Asasi Manusia yang sudah sangat ramai pada saat ini? Yang akhirnya membawa kepada pemahaman bahwa Gereja bukan satu-satunya institusi yang melihat orang ini bersalah atau tidak.
Lantas bagi ia apakah arti penting atau makna dari ajaran atau aturan-aturan yang ada dalam agamanya bagi hidupnya? Ia kembali merujuk kepada Sepuluh Perintah Allah yang ada dalam agamanya. Menurut ia tiga perintah pertama menyangkut relasi anata Tuhan dan manusia. Sedangkan tujuh perintah selanjutnya menyangkut relasi antar manusia. Hukum tersebut oleh Yesus disempurnakan, bahwa perintah yang pertama dan utama adalah “Cintailah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu…..” sedangkan perintah selanjutnya adalah “Cintailah juga sesamu manusia dengan segenap hatimu….” untuk hal ini ia lebih tertarik dengan bahasa yang digunakan oleh Yohanes dalam bacaan Injil.
Melanjutkan pemahaman dan penghayatan akan aturan-aturan dalam gereja, ia memandang bahwa kalau orang tidak menghayati dan menghidupi Sepuluh Perintah Allah tersebut akan terjadi kekacauan yang luar biasa di dalam hidup masyarakat. Orang akan semakin terikat pada egoisme diri, yang penting membawa kesenangan bagi dirinya sendiri. Akhirnya disinilah letak peran dari Sepuluh Perintah Allah tersebut, yaitu menjadi pengerem seseorang dalam menghayati hidupnya. Membuat seseorang akhirnya mampu menghargai privasi orang lain dan sebagainya.
Penghayatan terhadap Sepuluh Perintah Allah tersebut oleh ia dihubungkan dengan sikap humanisme yang sangat berkembang di Eropa. Sampai pada munculnya dua istilah yang berkaitan dengannya, yaitu kesalehan sosial dankesalehan ritual. Banyak orang muali meninggalkan kesalehan ritual dan lebih mengarah pada kesalehan sosial. Namun ia mengungkapkan bahwa kita tidak boleh lupa bahwa sejatinya sikap humanisme pun muncul atau lahir dari Gereja. Hal ini tetap kaitannya dengan isi dari perintah Allah yang mengatur cara hidup dengan sesama manusia. Ia pun menyadari bahwa hal ini merupakan tantangan yang juga akan dihadapi oleh Gereja Katolik di Indonesia. Maka dari itu perlu adanya upaya kreatif.
Lantas apa tanggapan ia mengenai klaim yang menyatakan bahwa justru agamalah yang terkadang menjadi penyebab kekacauan? Ia mengungkapakan bahwa hal tersebut bisa terjadi jika di dalam institusi Gereja tidak ada tokoh. Sebgai contoh tokoh seperti Yohanes Paulus II yang menetang infasi Amerika Serikat kepada Irak. Ia memandang sosok figur atau ketokohan memiliki arti penting dalam Gereja. Memang gereja bukan hanya kumpulan orang-orang kudus, namun sekaligus berbagai macam orang terkumpul di dalamnya. Sekaligus berdosa sekaligus kudus.
Dalam menghayati agama ia pun pernah mengalami suatu titik gelap, yang juga dimaknai sebagai pengalaman padang gurun. Suatu keadaan di mana orang merasa tidak dipahami. Sama seperti seorang pemimpin yang terkadang sulit untuk dipahami dan diterima oleh orang-orang yang menjadi pengikutnya. Namun justru dalam titik gelap itulah orang bisa mengetahui secara otentik siapakah pribadi yang dihadapinya tersebut. Disaat semua serba menyenangkan motivasi atau komitmen seseorang belumlah teruji. Namun disaat titik gelap inilah akan nampak secara jelas mana pribadi yang punya komitmen dan tidak.
Menghadapi masa padang gurun tersebut yang menjadi kekuatan adalah sekali lagi relasi yang personal dengan Allah. Relasi yang personal dengan Allah mampu memberikan kekuatan kepada ia di saat tersulit dalam hidupnya, karena merasa bahwa Allah selalu mendampingi dan menemani. Kedua, seseorang harus yakin terhadap apa yang di perjuangkan.
Pemikirannya tentang agama banyak mengalami perkembangan. Hingga samapidetik ini baginya agama mengandung unsur empat unsur besar, yaitu tokoh pendiri, institusi, ajaran, dan orang-orangnya. Tinggal pertanyaannya mau dibawa kemanakah ketiga unsur tersebut? Menjadi baik bagi mereka sendiri atau baik mau juga baik bagi masyarakat luas. Memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
BAB IV
KESIMPULAN DAN TANGGAPAN KRITIS
Berdasarkan teori fenomenologi Husserl dan di sintesakan dengan hasil wawancara dengan subjek pemeluk agama, dapat disimpulkan bahwa agama baginya mencakup empat unsur poko, yaitu tokoh pendiri, institusi, ajaran, dan orang-orangnya. Hal itu semua berawal dari didikan yang dia peroleh dari keluarga (terutama sososk Papa), hingga akhirnya mampu memikirkan sendiri yang terbaik bagi dirinya. Sedangkan alasanyanya beragama adalah karena pengalaman relasi yang personal dengan Tuhan yang senantiasa mendampingi dan menyertai.
Sebagai tanggapan kritis, saya ingin mengkritisi metode fenomenologi Husserl. Saya tidak setuju bahwa harus selalu objek sendiri yang menampakkan kebenaran dalam dirinya sendiri. karena memang pada akhirnya tetap subjek lan yang memberikan penilaian akan apa yang menjadi pengetahuannya dari objek. Saya membayangkan dapatkah burung mendeskripsikan sendiri bahwa dia sebenarnya adalah burung A bukan B. Karena pada akhirnya subjek di luar lah yang memberikan penilaian kepadanya. Lantas kadang saya berpikir lalu dimana letak pengaruh penilaian objek mengenai dirinya sendiri? karena memang penilaian itu sifatnya terkesan hanya menjadi sebuah masukan saja bagi subjek diluar dirinya. Ya mungkin akan bernilai bagi dirinya sendiri.
BAB V
DAFTAR ACUAN
1. B. Woodhouse, Mark. Filsafat: Sebuah Langkah Awal. Yogyakarta: Kanisius. 2002.
2. Bertens, K., Filsafat Kontenporer, Inggris-Jerman, Gramedia, Jakarta, 2002.
3. Smith, David Woodruf., Husserl, Routledge, London, 2007.
4. http://jurnalstudi.blogspot.com/2009/03/pemikiran-fenomenologi-menurut-edmund_22.html hr selasa 10 Nop 2009 23.00
5. www.Rezaantonius.multiply.com/Jurnal/item/238/Fenomenologi Edmund Husserl/5 Desember 2007/24:11 WIB.
PAPER AKHIR SEBAGAI PENGGANTI UAS MATA KULIAH
METODOLOGI PENELITIAN FILSAFAT
Oleh:
Kristoforus Sri Ratulayn Kino Nara
BAB I
PENDAHULUAN
Melihat realitas yang terjadi dalam masyarakat saat ini, beberapa agama dan segala macam unsur yang terkandung di dalamnya, seperti orang yang menganut, ajaran (dogma), tata cara peribadatannya, aturan, dan sebagainya, mendapat banyak sorotan negatif dalam masyarakat.
Salah satu fenomena yang bisa menjadi contoh penyebab banyaknya sorotan negatif terhadap agama adalah kasus-kasus pengeboman yang terjadi di negara kita. Fenomena pengeboman-pengeboman yang terjadi di Negara kita sadar atau tidak mulai memberikan stereo-tipe atau cap-cap dalam benak masyarakat kepada agama. Cap-cap tersebut mempunyai kecenderungan untuk melakukan generalisasi. Artinya sebenarnya pelakunya hanyalah segelintir kecil bagian dari agama tersebut, namun bagi mereka yang berpikiran sempit membawanya sampai tataran keseluruhan bagian dari agama tersebut. Akhirnya jelaslah dampaknya terkena bagi mereka, para pemeluk agama, yang nyatanya dalam kehidupan sehari-hari justru karena perintah agamanya mempunyai keutamaan-keutamaan, moral yang baik dan sangat menghargai kehidupan.
Paper ini berjudul “Fenomenologi Edmund Husserl dalam Meninjau Pengalaman Beragama”. Masalah yang ingin disajikan dan diamati dalam paper ini adalah melihat dan mengembalikan penilaian tentang agama dari sudut pandang pemeluk agama itu sendiri. Keprihatinan akan realitas seperti yang dipaparan di atas pula lah yang kiranya menjadi latar belakang penulisan penelitian ini. Saya bermaksud untuk mengembalikan penilaian mengenai agama kepada para penganutnya.
Paper ini memuat dua bagian penting. Pertama, teori mengenai Fenomenologi dari Edmund Husserl. Bagian Kedua, langsung menampilkan hasil wawancara dari salah satu subjek pemeluk suatu agama. Ia adalah seorang Imam Gereja Katolik yang mempunyai penghayatan dan pemahaman yang baik tentang agama dan hidup beragama. Dalam wawancara tersebut saya menggunakan kerangka 5 W dan 1 H. Secara lebih detail demikian pertanyaan yang saya ajukan kepada subjek tersebut:
1. Apa makna agama bagi anda?
2. Mengapa memutuskan untuk menjadi pemeluk agama tertentu?
3. Siapakah yang mengenalkan anda dengan agama?
4. Adakah sosok atau panutan dalam menjalani hidup beragama?
5. Kapan mulai memutuskan untuk beragama?
6. Bagaimana pengalaman selama ini dalam menghayati agama?
7. Adakah pengalaman paling mengesan selama beragama? Ceritakan!
Wawancara tersebut saya lakukan pada tanggal 9 Nopember 2009 pukul 17.30 WIB
Bagian selanjutnya kita akan melihat kesimpulan tentang pengalaman beragama dari sudut pemeluk agama itu sendiri. Kemudian sedikit tanggapan kritis
BAB II
KERANGKA TEORI
Teori Fenomenologi Husserl
Edmund Gustav Aibercht Husserl, lahir di Prestejov (dahulu Prossnitz) di Czechoslovakia 8 April 1859 dari keluarga yahudi, golongan menengah. Pada usia ke 27 tahun, dia dibaptis di dalam Gereja Kristen Protestan, karena terpengaruh oleh sahabatnya, G Albrecht. Semasa hidupnya ia bekerja sebagai dosen di Unversitas Halle dari tahun 1886-1901, kemudian di Gottingen sampai tahun 1916. Husserl terkenal dengan metode yang diciptakannya, yakni “Fenomenologi”. Husserl meninggal tahun 1938 di Freiburg. Beberapa karya utamanya: Logical, Investigation, Ideas, Lectures on Internal Time-Consciousness, Transcendental Phenomenology, dan Cartesian Meditations.
Husserl adalah seorang filsuf Jerman sekaligus pendiri gerakan fenomenologi. Gerakan ini memang awalnya adalah sebagai kritik atas positivisme. Karena dalam positivisme seakan-akan dibedakan secara jelas anatara subjek-objek. Kebenaran mutlak ada di tangan subjek. Objek tidak mendapatkan ruang untuk turut mengungkapkan kebenaran atas dirinya sendiri.
Sebuah ungkapannya yang terkenal dan langsung mampu mencirikan metode fenomenologinya adalah “kita perlu kembali ke benda-benda sendiri” (Zu den Sachen selbst). Istilah fenomenologi sendiri sebenarnya berasal dari kata fenomena (phainesthai) dan logos. Dengan demikian bisa kita tarik bahwa fenomenologi adalah ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak dan apa yang menampakkan diri atau fenomen. Fenomen adalah realitas tampak yang sama sekali lain. Inti penekanan dalam metode fenomenologi yang ia tawarkan adalah “deskripsi murni terhadap objek atau tindakan apapun yang tampak atau nyata dalam medan kesadaran” .
Lebih lanjut fenomenologi merupakan usaha untuk memahami kesadaran dari sudut pandang subjektif orang terkait. Artinya, berusaha berfokus pada sebuah pemahaman kesadaran pengalaman subjektif orang pertama. Fenomenologi berusahaapa yang anda pikirkan, rasakan dan lakukan, sekali lagi dari sudut pandang orang pertama. Metode fenomenologi selalu mengarah ke luar atau berhubungan dengan realitas di luar pikiran. Konsep akan makna pun sungguh sangat di tekankan
Fenomenologi menjadi penyebab munculnya kesadaran intensional. Intensionalitas merupakan keterarahan kesadaran (directedness of consciousness) dan juga merupakan keterarahan tindakan, yakni tindakan yang bertujuan pada sesuatu hal. Setiap kesadarandan pikiran selalu memiliki intensionalnya.
Intinya memang bahwa fenomeneologi Husserl ingin menganalisis dunia sebagaimana objek mengalami secara subjektif atau mengguanakan pengalamannya sendiri tanpa ada penilaian dari pihak luar dirinya.
BAB III
ANALISIS MASALAH
Tampilan Hasil Wawancara
Ia membuka ceritanya dengan mengungkapkan bahwa ia lahir dan dibesarkan dari keluarga religius. Religius rtinya keluarga yang taat beragama. Taat beragama di sini dalam penghayatannya adalah patuh menjalankan Sepuluh Perintah Allah yang ada dalam agamanya, Katolik.
Cerita kemudian berlanjut dengan menceritakan Papa nya. Papa nya sejak yang memang sejak awal mempunyai cita-cita agar kelak dalam diri anak-anaknya pun tertanam sikap religiusitas yang kuat. Agar anak-anaknya senantiasa memiliki rasa cinta akan Tuhan yang senatiasa menemani dan menyertai dalam hidup mereka. Didikan dari Papa nya nampak secara nyata dalam bentuk keteladanan hidup untuk melakukan Sepuluh Perintah Allah tadi dan doa-doa secara pribadi maupun doa bersama dalam keluarga.
Ia menambahkan bahwa pernah suatu ketika Papa nya merasa teruji ketaatannya akan Sepuluh Perintah Allah yang dihayati dan diajarkannya kepada anak-anaknya. Ketika bertugas malam sebagai seorang satpam, tiba-tiba seorang perempuan datang dan mengajaknya untuk berselingkuh. Namun karena keteguhan hati dari papanya akan penghayatan Sepuluh Perintah Allah tersebut, papannya menolak secara tegas ajakan perempuan tersebut.
Menurut ia penghayatan agama dan pengembangan akan kerohanian semakin berkembang dan terbangun ketika masuk Seminari. Sebuah tepat untuk pembinaan para calon Imam dalam Gereja Katolik. Terbangun dalam hal ini terlihat dari orang semakin memahami akan ajaran-ajaran agamanya. Kemudian juga semakin terbangunnya relasi yang personal dengan Tuhan, baik secara pribadi maupun komunitas. Ditanyai mengapa bisa semakin terbangun? Ia menjawab karena pelajaran agama yang didapatkannya serta pengkondisian di lingkungan seminari untuk semakin membangun relasi yang personal dengan Tuhan.
Dalam kesadaran pengalaman penghayatan ia akan agama, ia menilai relasi yang personal dengan Tuhan memegang posisi yang sangat sentral. Ia sendiri menghayatinya dengan membandingkan relasi yang ia bangun dengan keluarga, sahabat, dan teman-teman. Bagaimana ia mengalami kerinduan ketika ia tidak bertemu dengan mereka. Hal tersebut langsung ia tarik kepada pemaknaan bahwa berarti kerinduannya akan Tuhan pun harus bisa lebih besar dari kerinduannya akan keluarga, sahabat, dan teman-teman.
Ia memahami bahwa semangat religiusitas atau penghayatan tidak hanya sekedar pada tataran kewajiban atau rutinitas belaka. Namun seharusnya sampai pada kesadaran akan kebutuhan dan kerinduan akan menjalin relasi yang personal dengan Allah. Menurutnya inilah penghayatan yang dewasa dalam iman.
Kemudian ketika ditanyai tanggapan mengenai sikap “lunak” akan penghayatan atau pelaksanaan aturan-aturan yang terjadi dalam agamanya, ia menjawab itulah realitas yang terjadi dalam Gereja. Artinya pengontrolan terhadap pelaksanaan ajaran dan aturan dalam Gereja dikembalikan kepada masing-masing pribadi. Gereja hanya memberikan sarana. Sampai saat ini Gereja hanya berhenti pada sebuah himbauan-himbaun moral kepada para pengikutnya. Pun juga demikan halnya akan peran para pemimpin dan komunitas, yang sudah mulai tidak nampak. Semuanya seakan-akan dikembalikan kepada masing-masing pribadi. Dalam benaknya juga bertanya apakah ini berkaitan dengan penyuaraan akan Hak Asasi Manusia yang sudah sangat ramai pada saat ini? Yang akhirnya membawa kepada pemahaman bahwa Gereja bukan satu-satunya institusi yang melihat orang ini bersalah atau tidak.
Lantas bagi ia apakah arti penting atau makna dari ajaran atau aturan-aturan yang ada dalam agamanya bagi hidupnya? Ia kembali merujuk kepada Sepuluh Perintah Allah yang ada dalam agamanya. Menurut ia tiga perintah pertama menyangkut relasi anata Tuhan dan manusia. Sedangkan tujuh perintah selanjutnya menyangkut relasi antar manusia. Hukum tersebut oleh Yesus disempurnakan, bahwa perintah yang pertama dan utama adalah “Cintailah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu…..” sedangkan perintah selanjutnya adalah “Cintailah juga sesamu manusia dengan segenap hatimu….” untuk hal ini ia lebih tertarik dengan bahasa yang digunakan oleh Yohanes dalam bacaan Injil.
Melanjutkan pemahaman dan penghayatan akan aturan-aturan dalam gereja, ia memandang bahwa kalau orang tidak menghayati dan menghidupi Sepuluh Perintah Allah tersebut akan terjadi kekacauan yang luar biasa di dalam hidup masyarakat. Orang akan semakin terikat pada egoisme diri, yang penting membawa kesenangan bagi dirinya sendiri. Akhirnya disinilah letak peran dari Sepuluh Perintah Allah tersebut, yaitu menjadi pengerem seseorang dalam menghayati hidupnya. Membuat seseorang akhirnya mampu menghargai privasi orang lain dan sebagainya.
Penghayatan terhadap Sepuluh Perintah Allah tersebut oleh ia dihubungkan dengan sikap humanisme yang sangat berkembang di Eropa. Sampai pada munculnya dua istilah yang berkaitan dengannya, yaitu kesalehan sosial dankesalehan ritual. Banyak orang muali meninggalkan kesalehan ritual dan lebih mengarah pada kesalehan sosial. Namun ia mengungkapkan bahwa kita tidak boleh lupa bahwa sejatinya sikap humanisme pun muncul atau lahir dari Gereja. Hal ini tetap kaitannya dengan isi dari perintah Allah yang mengatur cara hidup dengan sesama manusia. Ia pun menyadari bahwa hal ini merupakan tantangan yang juga akan dihadapi oleh Gereja Katolik di Indonesia. Maka dari itu perlu adanya upaya kreatif.
Lantas apa tanggapan ia mengenai klaim yang menyatakan bahwa justru agamalah yang terkadang menjadi penyebab kekacauan? Ia mengungkapakan bahwa hal tersebut bisa terjadi jika di dalam institusi Gereja tidak ada tokoh. Sebgai contoh tokoh seperti Yohanes Paulus II yang menetang infasi Amerika Serikat kepada Irak. Ia memandang sosok figur atau ketokohan memiliki arti penting dalam Gereja. Memang gereja bukan hanya kumpulan orang-orang kudus, namun sekaligus berbagai macam orang terkumpul di dalamnya. Sekaligus berdosa sekaligus kudus.
Dalam menghayati agama ia pun pernah mengalami suatu titik gelap, yang juga dimaknai sebagai pengalaman padang gurun. Suatu keadaan di mana orang merasa tidak dipahami. Sama seperti seorang pemimpin yang terkadang sulit untuk dipahami dan diterima oleh orang-orang yang menjadi pengikutnya. Namun justru dalam titik gelap itulah orang bisa mengetahui secara otentik siapakah pribadi yang dihadapinya tersebut. Disaat semua serba menyenangkan motivasi atau komitmen seseorang belumlah teruji. Namun disaat titik gelap inilah akan nampak secara jelas mana pribadi yang punya komitmen dan tidak.
Menghadapi masa padang gurun tersebut yang menjadi kekuatan adalah sekali lagi relasi yang personal dengan Allah. Relasi yang personal dengan Allah mampu memberikan kekuatan kepada ia di saat tersulit dalam hidupnya, karena merasa bahwa Allah selalu mendampingi dan menemani. Kedua, seseorang harus yakin terhadap apa yang di perjuangkan.
Pemikirannya tentang agama banyak mengalami perkembangan. Hingga samapidetik ini baginya agama mengandung unsur empat unsur besar, yaitu tokoh pendiri, institusi, ajaran, dan orang-orangnya. Tinggal pertanyaannya mau dibawa kemanakah ketiga unsur tersebut? Menjadi baik bagi mereka sendiri atau baik mau juga baik bagi masyarakat luas. Memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
BAB IV
KESIMPULAN DAN TANGGAPAN KRITIS
Berdasarkan teori fenomenologi Husserl dan di sintesakan dengan hasil wawancara dengan subjek pemeluk agama, dapat disimpulkan bahwa agama baginya mencakup empat unsur poko, yaitu tokoh pendiri, institusi, ajaran, dan orang-orangnya. Hal itu semua berawal dari didikan yang dia peroleh dari keluarga (terutama sososk Papa), hingga akhirnya mampu memikirkan sendiri yang terbaik bagi dirinya. Sedangkan alasanyanya beragama adalah karena pengalaman relasi yang personal dengan Tuhan yang senantiasa mendampingi dan menyertai.
Sebagai tanggapan kritis, saya ingin mengkritisi metode fenomenologi Husserl. Saya tidak setuju bahwa harus selalu objek sendiri yang menampakkan kebenaran dalam dirinya sendiri. karena memang pada akhirnya tetap subjek lan yang memberikan penilaian akan apa yang menjadi pengetahuannya dari objek. Saya membayangkan dapatkah burung mendeskripsikan sendiri bahwa dia sebenarnya adalah burung A bukan B. Karena pada akhirnya subjek di luar lah yang memberikan penilaian kepadanya. Lantas kadang saya berpikir lalu dimana letak pengaruh penilaian objek mengenai dirinya sendiri? karena memang penilaian itu sifatnya terkesan hanya menjadi sebuah masukan saja bagi subjek diluar dirinya. Ya mungkin akan bernilai bagi dirinya sendiri.
BAB V
DAFTAR ACUAN
1. B. Woodhouse, Mark. Filsafat: Sebuah Langkah Awal. Yogyakarta: Kanisius. 2002.
2. Bertens, K., Filsafat Kontenporer, Inggris-Jerman, Gramedia, Jakarta, 2002.
3. Smith, David Woodruf., Husserl, Routledge, London, 2007.
4. http://jurnalstudi.blogspot.com/2009/03/pemikiran-fenomenologi-menurut-edmund_22.html hr selasa 10 Nop 2009 23.00
5. www.Rezaantonius.multiply.com/Jurnal/item/238/Fenomenologi Edmund Husserl/5 Desember 2007/24:11 WIB.
Langganan:
Postingan (Atom)
Label
- Aborsi
- Aristoteles
- belajar ilmiah
- Etika
- Etika Biomedis
- Etika Nickomakeia
- Etika Thomas Aquinas
- Filsafat Jawa
- Filsafat Ketuhanan
- Filsafat Manusia
- Filsafat Pendidikan
- Hegel
- Keadilan
- Kebenaran
- Keutamaan
- Komunikasi
- Opini
- Sejarah Filsafat Abad Pertengahan
- Soekarno
- theodicy
- tugas epistemologi
- tugas pengantar filsafat
- tugas resensi Filsafat Manusia
- Tulisan untuk buletin "Cogito" Nopember 2009