
BAB I
PENDAHULUAN
Perbincangan mengenai manusia sudah dimulai sejak jaman Yunani Kuno. Para pemikir jaman Yunani Kuno seperti Plato dan Aristoteles sudah mulai memperbincangkan apa itu manusia? Manusia begitu komplek dan mencakup banyak dimensi di dalamnya.
Paper ini berjudul Melihat Manusia Dalam Terang Filsafat Islam (Ibn Rusyd). Inti pembahasannya adalah mengulas mengenai manusia menurut filsafat islam. Dengan kata lain, sebuah analisis teks mengenai konsep manusia menurut filsafat Islam. Saya memilih tema ini dengan alasan ingin semakin mengetahui dan mendalami bagaimana pendasaran filosofis Islam dalam memandang manusia. Hal ini menjadi semakin menarik untuk didalami ketika kita sedikit melihat relevansinya dengan fenomena terorisme yang banyak dilakukan oleh kaum muslim. Mereka melakukan pengeboman yang menewaskan banyak manusia.
Kemudian tokoh filsafat islam yang dipilih untuk mewakili gagasan tentang manusia tersebut adalah Ibn Rusyd (Averroes). Konsep tentang manusia yang akan dibahas pun langsung difokuskan pada konsep tubuh dan jiwa. Alasan memilih tokoh Ibn Rusyd untuk mewakili pandangan tentang manusia pun sebenarnya ingin juga untuk semakin mengenalkan tokoh ini kepada khalayak ramai. Karena selama ini, tokoh filsafat islam sangat didominasi dengan nama besar Ibn Sina (Avicenna). Jadi sekaligus memaparkan kekayaan intelektual yang ada dalam filsafat islam.
Pemilihan tokoh Ibn Rusyd ini pun kiranya sejalan dengan alasan pemilihan tema. Ibn Rusyd adalah sebuah model bagi keberanian berpikir. Ia berani untuk memberikan kritik terhadap otoritas dan kemapanan sebuah agama, jika memang agama dalam prakteknya mengabaikan kebenaran. Hal itu pulalah yang juga menginspirasikan banyak orang Eropa pada abad 13/14 melakukan kritik terhadap otoritas Gereja.
Paper ini terdiri dari empat bagian besar. Bagian pertama, termasuk pembahsan ini, adalah sebuah pendahuluan untuk melihat secara umum isi paper ini. Berisikan pembahasan-pembahasan yang sifatnya menghantar kita pada pembahasan utama paper ini. Kemudian pada bagian kedua kita akan melihat secara umum filsafat Islam, dan latar belakang hidup Ibn Rusyd. Selanjutnya, bagian tiga berisikan sebuah analisis teks tentang jiwa menurut Ibn Rusyd. Keempat, tubuh menurut Ibn Rusyd. Kelima, sedikit relevansi berdasar realitas negara Indonesia, khususnya tentang terorisme yang mengatasnamakan agama, sehingga menewaskan banyak orang. Bagian terakhir sebuah kesimpulan atas seluruh isi paper ini dan tanggapan kritis saya atas teori tubuh dan jiwa Ibn Rusyd.
BAB II
FILSAFAT ISLAM DAN
LATAR BELAKANG FILSAFAT IBN RUSYD
2.1 Filsafat Islam
Topik-topik yang dibahas dalam filsafat Islam sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang menjadi topik filsafat barat (Eropa), khususnya pada masa Abad Pertengahan. Berikut sebuah kutipan penjelasan tentang topik-topik bahasan dalam filsafat Islam:
"Filsafat Islam meneliti problematika Yang Satu dan Yang-Banyak, menyelesaikan korelasi antara Allah dengan para makhluk-Nya, sebagai problematika yang menyulut perdebatan panjang di kalangan Mutakallimin. Filsafat Islam berupaya memadukan antara antara wahyu dengan akal, antara akaidah dengan hikmah, antara agama dengan filsafat dan berusaha menjelaskan kepada manusia bahwa wahyu tidak bertentangan dengan akal akaidah jika diterangi dengan sinar filsafat akan menetap di dalam jiwa dan akan kokoh di hadapan lawan, agama jika bersaudara dengan filsafat akan menjadi filosofis sebagaimana filsafat menjadi religius."
Membaca kutipan di atas kita bisa sedikit menyimpulkan bahwa topik-topik yang dibahas dalam filsafat Islam khas sekali dengan latar belakang filsafat Abad Pertengahan. Filsafat banyak digunakan untuk menjelaskan iman akan agama yang mereka anut. Para filsuf Islam menggunakan filsafat untuk memberikan pendasaran rasional untuk menjelaskan berbagai ajaran agama mereka, terutama yang terdapat dalam Al-Quran. Akhirnya tidak bisa di sangkali lagi, filsafat yang ada dalam filsafat Islma sifanya filsafat religius-spiritual.
Melihat sifat filsafatnya yang religius, namun bukan berarti filsafat Islam mengabaikan topik-topik besar yang ada dalam filsafat. Filsafat Islam juga mengulas tema tentang ada (ontologi), logika, epistemologi, moral, dan politik.
2.2 Hidup dan Karya Ibn Rush (Averroes)
Abdul Walid Muhammad bin Ahmad bin Rusyd lahir di Cordova pada tahun 1126 (520 H) dari keluarga pengacara. Di Barat (Eropa) ia lebih dikenal dengan nama Averroes. Ayahnya adalah seorang hakim terkemuka.
Ibn Rusyd hidup pada masa yang disebut-sebut sebagai zaman keemasan islam. Pada masa ini agama islam sungguh penuh dengan pendasaran rasional akibat pengaruh dari filsafat. Penghayatan agama yang didasarkan oleh rasionalitas yang kritis, membuat agama islam mengalami perkembangan pesat. Salah satu buktinya adalah banyak lahir pemikir di dalamnya, yang juga turut mengembangkan aspek hidup lainnya.
Walaupun demikian, pada masa Ibn Rusyd hidup itu pula lah mulai banyak pihak, terutama para ulama konservatif yang mengecam adanya filsafat dalam agama islam. Ia pun banyak mendapatkan tekanan, karena filsafatnya dianggap sangat bertentangan dengan ajaran agama. Bahkan ia pernah dibuang oleh Khalifah Abu Yusuf, diasingkan ke Lucena.
Karya Ibn Rusyd lebih cenderung dan tampak dalam menterjemahkan teks-teks filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab, terutama karya-karya Aristoteles. Bahkan Eropa mampu mengenal Aristoteles secara lebih luas adalah karena karya-karyanya. Ia membuat berbagai tulisan komentar tentang ilmu kesehatan dan astronomi yang ditulis oleh Aristoteles. Kemudian ia menulis juga tulisan komentar terhadap buku Republic dari Plato.
2.3 Latar Belakang Filsafat Ibn Rush
Filsafat Ibn Rusyd banyak mengacu pada ajaran-ajaran Aristoteles, khususnya dalam kaitannya dengan konsep "materi" dan "bentuk". Tema-tema yang menarik Ubn Rusyd adalah seperti pengetahuan Tuhan terhadap soal-soal juziat, tentang terjadinya alam maujudat dan perbuatannya, tentang kezaliman dan keabadian alam, dan tentang gerak dan keazaliannya, serta akal yang universal dan satu.
Sebuah sumber mengatakan bahwa Ibn Rusyd pernah berguru pada Ibnu Thufail. Bahkan seorang filsuf terkenal di Eropa bernama Musa Ibnu Maimun yang lebih dikenal dengan Ibn Rusyd (Mozes Maimonides) adalah murid dari Ibn Rusyd. Dalam pemikiran, Ibn Rusyd lebih banyak bertentangan dengan filsafat Al Ghazali. Hal tersebut dapat terlihat jelas dalam bukunya yang berjudul Tahafutul-tahafut.
Ibn Rusyd menjadi seorang pembela mati-matian filsafat Yunani Kuno yang ditolak oleh Al Ghazali. Ibn Rusyd mengatakan bahwa mereka yang menghakimi ahli-ahli filsafat, disebabkan karena mereka tidak memahami maksud para filsuf tersebut. Al Ghazali bermaksud menjaga kemurnian agama, sedangkan Ibn Rusyd bermaksud mengadakan sebuah perpaduan antara filsafat dan agama.
BAB III
JIWA MENURUT IBN RUSYD
3.1 Jiwa
Dualisme mengenal dua jenis being yang ada dalam diri manusia. Pertama adalah apa yang digerakkan (bendanya) dan apa yang menjadi penyebab penggerak benda tersebut. Dengan kata lain juga bisa kita definiskan sebagai sesuatu yang jasmani dan spiritual. Bagi Ibn Rusyd, unsur spiritual dalam diri manusia mempunyai kesatuan dan kesempurnaan yang lebih tinggi dari semua yang ada. Namun tetap yang materi pun mempunyai peran yang besar dalam proses rasio. Artinya dalam diri manusia bukan lagi terdapat dua substansi melainkan satu "materi" dan "bentuk" sebagai kesatuan dan mempunyai korelasi.
Ibn Rusyd dengan tegas mengatakan bahwa jiwa manusia berhubungan dengan tubuh, seperti Form dan Matter. Ia menolak argumen Ibn Sina yang mengatakan bahwa jiwa yang abadi sifatnya banyak. Lebih dalam menurut De Boer "The soul has an existence only as a completion of the body with which it is associated". Maksudnya kurang lebih bahwa jiwa mempunyai eksistensi hanya sebagai sebuah pelengkap dari tubuh, yang denganynya dipersatukan juga oleh jiwa.
Ibn Rusyd dalam tulisannya yang berjudl Fil Nafsi menegaskan bahwa antara nyawa (al-Ruh) dengan jiwa (al Nafis) merupakan dua realitas yang berbeda. Namun yang menarik adalah Ibn Rusyd bahwa ketika berbicara tentang ruh, Ibn Rusyd menggunakan ayat dalam Al Quran di dalam surat al-Isra ayat 85. Isinya kurang lebih mengatakan bahwa ruh itu urusan Tuhanku. Manusia tidak diberika ilmu sedikitpun tentang itu. Kutipan penjelasn di bawah ini bisa langsung menghantar kita untuk semakin jelas mengenali apa itu jiwa:
"Jiwa berbeda dengan nyawa, dan juga dengan akal. Jiwa itu suatu zat, dan bukan suatu tubuh. Jiwa adalah sesuatu yang membuat manusia menjadi manusia. Syailul lazi yashbahu bihil insanu insianan, artinya jiwa itu sesuatu yang hidup dan berilmu dan berkodrat."
Kutipan paragraf di atas seolah ingin menekankan bahwa kegiatan jiwa lebih pada seputar kegiatan berpikir. Hal tersebut yang kemudian membuat Ibn Rusyd mendeskripsikan jiwa sebagai suatu kesempurnaan awal bagi tubuh yang bersifat alamiah dan mekanis. Disebut alamiah dan mekanistik dengan tujuan ingin membedakan dengan kesempurnaan-kesempurnaan yang berasal dari perilaku dan emosi. Makna kesempurnaan ini pun ingin juga mengarahkan pada keberagaman dari bagian jiwa, seperti jiwa nutrisi, jiwa sensorik, jiwa khayalan, jiwa hasrat dan jiwa rasional. Definisi tersebut sebenarnya sudah dipakai oleh Aristoteles dalam mendeskripsikan jiwa.
Jiwa itu hakikatnya adalah satu. Ibn Rusyd sering menyebut kesatuan jiwa itu sebagai jiwa umum.
3.2 Akal Sebagai Wujud Jiwa
Menurut Ibn Rusyd wujud jiwa paling nyata tampak dalam akal yang dipunyai manusia. Akal manusia itu adalah satu dan universal. Lebih dalam "akal yang aktif" yang dimaksud bukan saja akal yang esa dan universal, melainkan juga menyangkut "akal kemungkinan" (reseptif). Akhirnya Poerwantana dalam bukunya menyimpulkan bahwa akal yang dimaksud Ibn Rusyd ini dianggap sebagai monopsikisme.
Akal kemungkinan lah yang membuat manusia sungguh menjadi individu ketika ia berhubungan dengan tubuh masing-masing manusia. Melihat sifat akal yang ada dalam individu tersebut sifatnya reseptif, resikonya bahwa ketika manusia meninggal, maka akal kemungkinan pun akan lenyap. Akal yang dimiliki seseorang sifatnya tidak abadi, yang abadi adalah akal yang esa dan universal, sesuatu yang menjadi sumber dan tempat kembalinya akal masing-masing manusia.
"...pengakuan Ibn Rusyd tentang akal yang bersatu dimaksudkan sebagai pengakuannya atas roh (jiwa) manusia yang bersatu, sebab akal adalah mahkota terpenting dari wujud roh (jiwa) manusia. Dengan kata lain, akal itu di sini hanyalah sebagai wujud rohani yang membedakan jiwa (roh) manusia atau mengutamakannya lebih dari jiwa (roh) hewan dan tumbuh-tumbuhan. Itulah yang dimaksud dengan monopsikisme (bahan yang menjadikan segala jiwa). Maksud Ibn Rusyd roh universal itu adalah satu dan abadi (kekal)."
Penjelasan mengenai akal universal dan akal reseptif tidak bisa lantas membuat kita langsung menyimpulkan bahwa Ibn Rusyd menolak kehidupan setelah kematian. Dalam filsafatnya, Ibn Rusyd juga berbicara mengenai kebangkitan jasmani. Ibn Rusyd menyangkal apa yang dikatakan oleh Al Ghazali bahwa filsuf-filsuf mengingkari kebangkitan jasmani.
BAB IV
TUBUH MENURUT IBN RUSYD
Melihat latarbelakang filsafat Ibn Rusyd yang banyak mendasarkan diri pada pemikiran Aristoteles, hal itu juga terungkap dalam ajaran Ibn Rusyd dalam memandang tubuh. Berbeda dengan Plato yang menganggap bahwa tubuh hanya menjadi penjara bagi jiwa. Antara tubuh dan jiwa mempunyai sebuah korelasi. Korelasi tersebut secara jelas bisa terlihat dalam proses pengenalan rational.
Secara khusus, saya sulit untuk menemukan definisi Ibn Rusyd tentang apa itu tubuh? Ibn Rusyd lebih banyak menjabarkan tentang aktivitas jiwa yang berkorelasi dengan tubuh. Salah satu konsep yang akan kita jabarkan adalah panca indera. Karena di dalamnya kita bisa langsung menangkap bagaimana tubuh pun mempunyai peran dan berkorelasi dengan jiwa.
4.1 Panca Indera
Ibn Rusyd menjabarkan bahwa panca indera itu adalah indera pengelitahan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan terakhir peraba. Pengelihatan berfungsi menerima makna secara bebas dari akal potensial, yang bagaimanapun merupakan makna-makna yang bersifat individual. Daya pengelihatan mempersepsi dengan menggunakan perantara transparansi.
Pendengaran. Intinya bahwa dengan menggunakan penedengaran manusia mampu menangkap suara-suara yang muncul akibat benturan dari benda-benda keras. Udara yang bergerak akibat benturan dari benda keras sampai ketelinga. Udara tersebut kemudian menggerakkan udara yang ada dalam telinga sebagai bagian dari tubuh yang berfungsi sebagai alat pendengaran.
Ketiga indera Penciuman. Bagian dari fungsi tubuh yang berfungsi sebagai alat untuk menangkap bau. Indera ini membutuhkan air dan udara sebagai perantaranya. Seperti halnya Aristoteles, Ibn Rusyd menjelaskan bahwa penciuman manusia lebih lemah daripada hewan.
Keempat, indera pengecapan (perasa). Sebuah daya untuk menangkap rasa sesuatu. Kerjanya dengan meletakkan objek di atasnya.
Kelima, indera peraba. Sebuah daya jiwa yang menggunakan tubuh untuk mengenali objek. Daya yang mengalami kesempurnaan karena berbagai hal yang diraba.
4.2 Kebangkitan Jasmani (Hidup Setelah Kematian)
Ibn Rusyd berpendapat bahwa tidaklah benar apa yang dikatakan oleh Al Ghazali bahwa para filsuf menolak kebangkitan jasmani. Pandangan Ibn Rusyd mengeai hidup setelah kematian ini banyak mendasarkan diri pada ajaran-ajaran agamanya. Bagi Ibn Rusyd keimanan mengenai kebangkitan jasmani merupakan sebuah keharusan.
Pendasaran untuk hal ini menyangkut ajaran agamanya mengenai amal dan keutamaan-keutamaan dari seseorang sepanjang masa hidupnya. Seseorang yang selama hidupnya mempunyai keutamaan dengan menjalankan ajaran-ajaran agama, salat,berkurban akan memperoleh balasan saat di akhirat nantinya. Dalam hal ini filsafat membantu seseorang untuk memberikan cara mencapai kebahagiaan kepada manusia yang berpikiran tinggi.
BAB IV
RELEVANSI TEORI
Manusia sebagai kesatuan tubuh dan jiwa menurut Ibn Rusyd bisa membantu kita dalam melihat realitas yang terjadi saat ini. Salah satu fenomena yang relevan adalah fenomena terorisme yang merenggut banyak nyawa manusia. Sebenarnya Ibn Rusyd sudah memberikan dasar yang baik (filosofis) dalam melihat manusia. Lantas mengapa terorisme dengan mudah meledakkan bom yang merenggut banyak nyawa. Sebuah kontradiksi memang.
Satu hal yang saya bisa temukan, hal tersebut terjadi karena para pelaku terorisme menginggalkan pendasaran rasional dalam melihat manusia, seperti yang dijabarkan Ibn Rusyd. Meninggalkan dan meniadakan filsafat dalam korelasi dengan agama. Akhirnya, Fundametalisme dalam agama lah yang membuat para pelaku terorisme melakukakannya. Terlalu harafiah dalam menghayati ajaran agamanya.
Pandangan sempit bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan dan harus mematuhi segala perintahNya yang ada dalam agamanya. Jika ada yang melanggarnya berarti menjadi sah untuk dihabisi nyawanya. Akhirnya meninggalkan apa yang dikatakan oleh Ibn Rusyd, bahwa harusnya sebagai manusia yang mempunyai jiwa mereka mampu berpikir dan kritis tentang kebenaran. Lantas kalau tidak berpikir apakah para pelaku masih bisa disebut manusia? Sungguh disayangkan, namun kiranya itulah yang terjadi dalam negara kita.
BAB V
KESIMPULAN
Akhirnya, kita dapat menyimpulkan beberapa hal dari analisis teks tentang tubuh dan jiwa menurut Ibn Rusyd. Pertama, bahwa filsafat Islam mempunyai ciri yang erat dengan filsafat abad pertengahan. Menggunakan filsafat untuk memberikan pendasaran bagi agama. Namun sayang banyak mendapat tolakkan keras dari kaum ulama, seperti yang dialami oleh Ibn Rusyd.
Kedua, bahwa dalam diri manusia terdapat dua unsur yang tetap menjadi satu substansi, yaitu tubuh dan jiwa (forma dan materi). Artinya terjadi sebuah korelasi dari keduanya yang membentuk menjadi seoarng manusia.
Jiwa sebagai suatu kesempurnaan awal bagi tubuh yang bersifat alamiah dan mekanis mempunyai sifat yang satu. Jiwa adalah sesuatu yang berilmu. Dalam kegiatan berilmu itu jiwa membutuhkan tubuh untuk wadah eksistensinya. Tubuh menangkap materi yang ada objek yang ada di luar, kemudian jiwa merenungkannya. Secara khusus melihat indera-indera dalam tubuh.
Tanggapan Kritis
Satu hal yang ingin saya kritik terhadap pandangan IBn Rusyd adalah mengenai jiwa yang selalu dikaitkan dengan jiwa univeresal (Tuhan). Pandangan Ibn Rusyd tentang tubuh dan jiwa yang dipengaruhi oleh Aristoteles sebenarnya sangat menarik. Namun karena selalu dikaitkan dengan jiwa yang universal akhirnya membawa konsekuensi pada penyangkalan kebakaan jiwa perorangan.
Hal ini tentu saja membawa pada sebuah kontradiksi dalam diri Ibn Rusyd. Dia yang juga memegang bahwa adanya hidup setelah kematian, namun juga menolak adanya eksistensi jiwa perorangan setelah kematian. Bagaimana mungkin jiwa tidak baka, jika ternyata di akhirat dia juga mengatakan akan ada balasan bagi manusia yang melakukan kehendak Tuhan dalam agama, mempunyai keutamaan-keutamaan, dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Audi, Robert. The Cambridge Dictionary of Philosophy. USA: Cambridge University Press. 1995.
Bakry, Hasbullah. Disekitar Filsafat Scholastik Islam. Solo: Ab Sitti Sjamsijah. 1965.
De Boer, T.J.. The History of Philosophy In Islam. New York: General Publishing Company. 1967.
Poerwantana, dkk. Seluk-beluk Filsafat Islam. Bandung: CV Rosda Bandung, 1988.
Internet:
http://hankkuang.wordpress.com/2008/12/07/ibn-rusyd-1126-1198-m/
http://najmu-addin.blogspot.com/2009/04/jiwa-menurut-ibnu-rusyd.html