
Kristoforus Sri Ratulayn K.N
I. Pendahuluan
Pada dasarnya setiap daerah memiliki kebudayaannya masing-masing dan unik. Lebih lanjut bahwa kebudayaan menjadi ciri khas dari sebuah daerah. Kebudayaan memang nyatanya adalah hasil dari pola hidup masyarakat tertentu yang diwariskan secara turun temurun. Sebagai sebuah warisan yang secara turun temurun diwariskan, maka tidak mengherankan hal setiap dilakukan dan dipikirkan seseorang cenderung dilatarbelakangi oleh budaya yang ada dalam masyarakat tempat ia tinggal. Misalnya, seorang mengadakan tirakatan karena memang sejak kecil di tempat daerah tinggalnya masyarakat selalu melakukan tirakatan pada saat-saat tertentu.
Melihat penjelasan di atas, bisa kita katakan bahwa budaya sungguh memegang peranan penting dalam dinamika hidup sebuah masyarakat. Dalam artian kemajuan atau malah kemunduran dalam berbagai segi hidup masyarakat sangat ditentukan oleh bagaimana budaya masyarakat tersebut. Masayarakat akan mengalami kemajuan jika budaya yang ada di dalamnya mengandung nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang luhur dan universal. Misalnya, nilai cinta kasih, keadilan, kepedulian terhadap sesama, dll. Sedangkan sebaliknya, masyarakat akan mengalami kemunduran atau kerusakan jika dalam budayanya tidak mengandung nilai-nilai kebaikan dan kebenaran secara universal.
Kebudayaan yang ada dalam sebuah masyarakat biasanya atau kebanyakan terungkap dalam simbol, cerita-cerita bijak, pepatah-pepatah, dan masih banyak lagi bentuknya. Sebagai contoh dalam masyarakat Jawa terdapat pepatah nasehat yang berbunyi Ing Karsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Sebuah nasehat yang intinya mengajarkan bagaimana seseorang hendaknya membangun sebuah keutamaan dalam setiap posisi dalam hidupnya. Melihat bentuk-bentuk budaya yang ada tersebut, kemudian memunculkan pertanyaan dalam diri saya. Sesungguhnya adakah sebuah konsep inti (nilai pusat) dalam sebuah kebudayaan? Konsep inti yang menjadi sumber atau nilai terdalam yang menjadi arah bagi setiap bentuk kebudayaan dalam sebuah masyarakat.
Akhirnya pencarian saya pusatkan pada masyarakat Jawa, yaitu tempat di mana saya hidup dan berkembang. Kemudian saya mendapatkan sebuah konsep metafisis yang kurang lebih layak disebut sebagai nilai dasar bagi setiap kebudayaan masyarakat Jawa. Konsep tersebut adalah tentang "keselarasan" atau "keharmonisan" dalam masyarakat Jawa.
Tulisan ini berjudul Konsep Keselarasan / Harmoni Dalam Budaya Masyarakat Jawa. Pada tulisan ini secara khusus saya akan mengulas apa itu konsep keselarasan dalam budaya masyarakat Jawa? Lalu mengapa konsep keselarasan menjadi sangat sentral dalam budaya masyarakat Jawa? dan bagaimana konsep keselarasan itu tertuang dalam praktek hidup sehari-hari masyarakat Jawa?. Saya memilih untuk mengamati konsep keselarasan karena memang inti dari kebudayaan dalam masyarakat Jawa (dalam hal metafisis) adalah keselarasan atau keharmonisan. Sedangkan mengapa lebih memilih mengamati budaya masyarakat Jawa adalah karena memang Jawa lah yang sungguh relevan dengan keberadaan diri saya sekarang ini.
Tulisan ini memfokuskan pencariannya akan konsep keselarasan atau keharmonisan dengan menganalisis dua nilai dasar yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa. Lebih dalam lagi karena dalam dua nilai itulah konsep tentang keselarasan termuat secara jelas dan gamblang. Pertama, nilai rukun. Masyarakat Jawa memegang teguh bahwa rukun merupakan sebuah kondisi untuk mempertahankan kondisi masyarakat yang harmonis, tentram, aman, dan tanpa perselisihan. Kedua, rasa hormat. Nilai ini berkaitan erat dalam hubungannya dengan orang lain, dengan kata lain mencakup relasi sosial. Lebih dalam bahwa dalam masyarakat Jawa terdapat sebuah hirarki yang membatasi mereka untuk bersikap kepada orang lain. Misalnya, hubungan antara orang tua-anak dan antar teman sebaya.
Dalam konteks Filsafat, konsep keselarasan atau keharmonisan lebih condong masuk ke dalam Filsafat Timur. Filsafat Timur isinya lebih menekankan pada ajaran mengenai jalan hidup, langsung berupa bentuk-bentuk praktis tuntunan hidup, dan tidak terlalu abstrak seperti dalam Filsafat Barat. Bentuk dari Filsafat Timur berupa cerita-cerita mitos, nasehat-nasehat, dan sering pula berhubungan dengan agama. Hal ini lah yang akan banyak kita temui dalam pembahasan konsep keselarasan.
II. Masyarakat Jawa
Pada bagian ini kita terlebih dahulu harus menyamakan persepsi tentang siapa masyarakat Jawa yang dimaksud dalam tulisan ini. Sebenarnya secara de facto yang disebut masyarakat Jawa adalah mereka yang hidup, besar, dan tinggal dipulau Jawa. Namun pendasaran ini kurang begitu tepat ketika melihat realitas bahwa orang Jakarta dan Jawa Barat kurang suka disebut orang Jawa. Maka pendasaran penentuan yang kita gunakan adalah berdasarkan bahasa. Dengan demikian masyarakat Jawa adalah mereka semua yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa dalam hidup sehari-hari. Masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa adalah sebagian besar di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur
III. Pergumulan terhadap Keselarasan / Harmoni Jawa
Konsep keselarasan atau keharmonisan sebenarnya tidak begitu nampak secara nyata dalam perilaku hidup sehari-hari masyarakat Jawa. Namun, prinsip keselarasan itu lebih pada konsep metafisis yang menjiwai seluruh dinamika masyarakat Jawa. Bagikan sebuah titik yang dari padanya menyinari segala proses dinamika atau tindakan masyarakat Jawa semua. Lebih dalam bisa kita katakan bahwa keselarasan merupakan inti dari seluruh budaya Jawa. Hal ini ditegaskan lebih ditegaskan oleh Mulder dalam bukunya Kebatinan Dan Hidup sehari-hari Orang Jawa bahwa cita-cita masyarakat Jawa pada hakekatnya adalah masyarakat yang harmonis (Mulder, 1983).
Bagi orang Jawa, keselarasan sosial atau keharmonisan merupakan sebuah rangkaian besar agar terjadinya kesejahteraan hidup bersama. Karena kesejahteraan terikat secara mutlak pada keselarasan sosial, antara sesama yang Ilahi, alam dan sesama manusia. Dengan demikian menjadi jelaslah peran penting dari keselarasan sosial.
Dalam memahami konsep keselarasan kita akan berangkat dari dua nilai yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa. Nilai-nilai tersebut adalah rukun dan rasa hormat. Kedua nilai inilah yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa dalam dinamika hidup sehari-hari. Lebih kontekstual lagi dengan tema keselarasan adalah bahwa dalam kedua nilai inilah konsep keselarasan dibahas dengan jelas. Menurut Geertz, prinsip rukun dan hormat dalam masyarakat Jawa merupakan kaidah dasar yang paling menentukan dalam pola hidup masyarakat Jawa.
Pertama, nilai rukun. Masyarakat Jawa memegang teguh bahwa rukun merupakan sebuah kondisi untuk mempertahankan kondisi masyarakat yang harmonis, tentram, aman, dan tanpa perselisihan. Masyarakat jawa berusaha sebisa mungkin menjaga kerukunan dalam lingkungannya. Berusaha bagaimana terjadinya keharmonisan dalam masyarakat luas. Perlu menjadi catatan penting bahwa individu dipandang tidak terlalu penting dalam kedudukan sosial. Individu harus selalu berusaha mementingkan sosial yang lebih luas dan bukan pribadinya sendiri. Setiap pribadi dituntu sikap untuk tidak mengacaukan keseimbangan sosial demi ambisi atau kepentingannya pribadi. Selain itu juga dituntutlah sebuah sikap yang sering disebut nrimo dalam setiap masyarakat Jawa. Dalam artian setiap individu harus punya sikap pasrah terhadap sebuah kekuatan yang lebih tinggi, menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari masyarakat luas (Mulder, 1983).
Kerukunan dengan alam dan lingkungan masyarakat oleh masyarakat Jawa dipandang mampu membawa ketenteraman, kenyamanan, dan kedamaian hidup. Inti prinsip kerukunan adalah tuntutan untuk mencegah segala kelakuan yang bisa menimbulkan konflik terbuka (Magnis, 1988). Dengan demikian akan mampu mewujudkan kesejahteraan bersama dalam dinamika hidup sehari-hari. Secara sederhana, indikator kerukunan adalah ketika semua pihak dalam kelompok berdamai satu sama lain.
Kedua, rasa hormat. Nilai ini berkaitan erat dalam hubungannya dengan orang lain, dengan kata lain mencakup relasi sosial. Lebih dalam, bahwa dalam masyarakat Jawa terdapat sebuah hirarki yang membatasi mereka untuk bersikap kepada orang lain. Prinsip hormat berhubungan erat dengan masyarakat yang teratur secara hirarkis. Misalnya, hubungan antara orang tua-anak dan antar teman sebaya. Dalam masyarakat Jawa hal tersebut telah terungkap jelas melalui bahasa yang mereka gunakan untuk menyebut atau berbicara dengan orang yang lebih tua.
Langkah pertama yang harus dilakukan oleh masyarakat Jawa dalam mengembangkan sikap hormat ini adalah mempunyai kesadaran akan kedudukan sosialnya. Masyarakat Jawa sejak dini telah menanamkan kesadaran akan kedudukan social ini kepada anak-anaknya. Penanaman kesadaran ini terungkap secara langsung dalam berberapa bentuk sikap, yaitu wedi, isin, dan sungkan. Sikap wedi yang berarti takut pertama-tama ditanamkan untuk orang-orang yang harus dihormati. Selanjutnya sikap isin berarti malu ádalah langkah pertama ke arah kepribadian Jawa yang matang (Magnis, 1988). Sikap isin ini berarti malu terhadap kesalahan, malu jika tidak menghormati orang yang pantas dihormati, dan sebagainya. Kemudian sikpa sungkan yang sebenarnya erat sekali dengan sikap malu, sungkan mempunyai makna yang lebih positif. Wedi, isin,dan sungkan merupakan sebuah sikap yang berkesinambungan yang mempunyai fungsi sosial untuk mendukung psikologis terhadap tuntutan-tuntutan prinsip hormat.
IV. Menggosip = Menjaga Keselarasan
Pembahasan bagian ini sedikit menampilkan sebuah fenomena yang menunjukkan bagaimana pelaksanaan prinsip keselarasan dalam masyarakat Jawa, yaitu menggosip. Sebuah fenomena yang dalam realitas hidup banyak mendapat sorotan negatif dari masyarakat luas. Karena menurut kebanyakan orang gosip dianggap sebagai sesuatu yang tidak jelas dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Tindakan menggosip hanya membentuk masyarakat menjadi manusia-manusia yang penuh kemunafikan. Menggosip adalah cerminan masyarakat yang tidak beradab.
Saya sengaja mengangkat fenomena ini agar masyarakat luas yang mengkritik gosippun melihat sisi lain dari fenomena budaya menggosip. Dengan kata lain mencoba menampilkan secara fenomenologi fenomena menggosip. Artinya memberi kesempatan budaya tersebut untuk menunjukkan alasan atau makna yang ada dibaliknya. Bagi masyarakat Jawa budaya menggosip sendiri ternyata punya maksud yang baik di baliknya.
Menggosip adalah tindakan membicarakan sesuatu di belakang sesuatu yang bersangkutan tersebut. Biasanya memang sesuatu itu sendiri adalah orang lain. Jadi membicarakan orang lain di belakang orang yang bersangkutan. Menggosip dilakukan biasanya ketika ada sesuatu yang tidak beres dalam masyarakat itu sendiri. Misalnya, menggosipkan tetangganya yang kemungkinan mempunyai istri simpanan.
Bagi masyarakat Jawa, secara lugas bisa dikatakan bahwa menggosip adalah usaha mereka untuk menjaga keselarasan atau keharmonisan. Misalnya menggosip ketika tetangganya mempunyai istri simpanan. Mereka menggosip karena merasa resah, kawatir, dan tidak nyaman dengan apa yang dilakukan tetangganya tersebut. Karena mereka melihat apa yang tetangganya tersenut lakukan bertentangan dengan apa yang menjadi ketetapan dihadapan Allah mereka. Mereka merasa takut apa yang tetangganya lakukan itu berdampak pada diri mereka sendiri.
Masyarakat Jawa menganggap sesuatu yang dilakukan tetangganya tersebut telah melanggar keselarasan atau keharmonisan. Akhirnya muncul sebuah keresahan di dalam batinnya. Keresahan itu akhirnya terungkap dengan menggosip dengan tetangga lainnya yang merasa resah juga dengan perbuatan tetangganya tersebut. Mengapa harus dengan menggosip? Sekali lagi itu juga upaya mereka menjaga keselarasan, karena mereka tidak ingin menimbulkan konflik jika mereka mengungkapkan keresahan mereka secara langsung. Dalam pemahaman mereka ketika keresahan mereka diungkapkan secara langsung, hal tersebut akan sangat rawan memicu munculnya konflik. Konflik terjadi apabila orang tersebut tidak terima dengan apa yang mereka ungkapkan.
Kemudian ketika apa yang mereka gosipkan menjadi kenyataan, yaitu bila terjadi bencana terhadap tetangganya yang melanggar keharmonisan hal itu akan semakin menguatkan anggapan mereka. Menguatkan bahwa apa yang tetangganya alami adalah akibat dari perbuatan tetangganya yang melanggar keselarasan kosmos. Mereka akan berkata “ya benarkan? Itulah akibat dari perbuatannya”.
Pada akhirnya bisa kita tegaskan kembali menggosip sebagai wujud masyarakat Jawa dalam menjaga keselarasan dengan dunia. Mereka resah jika ada sesuatu yang tidak beres dalam masyarakat. Lebih lanjut karena memang kehidupan masyarakat Jawa erat kaitannya dengan hubungan sosial dengan sesama dan dengan yang kosmik atau kekuatan di luar diri mereka.
V. Tanggapan Kritis atas Konsep Keselarasan
Layaknya segala hal di muka bumi ini yang selalu mengandung sisi positif dan sisi negatif. Begitu pula dengan konsep keselarasan yang sekilas nampaknya indah dan baik itupun tidak bisa lepas juga dari sisi-sisi negatif di dalamnnya. Berikut ini saya mencoba untuk menampilkan beberapa dampak negatif yang muncul dari konsep keselarasan:
Pertama, konsep keselarasan yang ada dalam masyarakat Jawa membentuk masyarakat Jawa menjadi manusia-manusia konformis. Konformis maksudnya orang lebih cenderung bersikap pasif terhadap keadaan yang sebenarnya tidak ia kehendaki. Orang konformis selalu berusaha untuk menyesuaikan diri dengan keadaan namun dengan selalu kehilangan jatidirinya. Dengan begitu jelaslah konformis pun berbeda dengan adaptasi. Adaptasi adalah proses menyesuaikan diri dari seseorang namun dengan tetap mempunyai prinsip dalam diri yang tidak bisa dikurbankan dalam proses penyesuaiannya.
Seseorang hanya pasrah terhadap keadaan yang menimpanya. Akhirnya orang tidak lagi mampu menjadi dirinya sendiri yang otentik karena selalu menjadi penjilat. Konformis sebagai dampak keselarasan dalam masyarakat Jawa bisa dipertegas lagi dengan mengambil sebuah contoh. Misalnya, karena masyarakat Jawa begitu kuat memperjuangkan sikap untuk mejaga keselarasan akhirnya mereka cenderung untuk menghindari konflik. Orang Jawa kurang berani menegur atau melakukan konfrontasi secara langsung ketika terjadi ketika sesamanya bersalah. Mereka cenderung hanya memendam dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa ketika dihadapan sesamanya yang bersalah. Itulah sifat konformis sebagai dampak dari menjunjung keselarasan.
Kedua, sebenarnya hanya merupakan lanjutan dari sikap konformis, yaitu membentuk masyarakat yang penuh kemunafikan. Secara lugas argumen mengenai dampak kedua ini adalah karena selalu menjaga keselarasan dan keharmonisan membuat orang Jawa cenderung menghindari konflik. Akhirnya seseorang cenderung menyimpannya dalam batin tanpa pernah mengungkapkan secara langsung kepada orang bersangkutan. Seoalah-olah dihadapan orang yang bersangkutan semua baik-baik saja. Cara satu-satunya yang akhirnya muncul juga dalam rangka menjaga keseklarasan adalah melakukan gosip atau ngrasani dengan orang yang lebih dekat dengan mereka, biasanya tetangga sekitar rumah mereka sendiri. Dengan demikian orang Jawa menjadi penuh dengan kemunafikaan dan bermental penjilat.
Ketiga, Konsep keselarasan lebih banyak bertentangan dengan hukum positif dan upaya bisnis masyarakat Jawa itu sendiri. Secara umum, bagi masyarakat Jawa prinsip keselarasan kedudukannya mampu mengalahkan hukum positif atau hukum yang dibuat oleh manusia. Hal tersebut bisa dimaklumi karena memang seperti yang telah kita bahas di atas bahwa keselarasan. Namun memang kritik ini kurang begitu relevan ketika kita melihat realitas masyarakat Jawa saat ini. Masyarakat Jawa saat ini sudah sungguh menyadari pentingnya hukum positif yang mengatur nilai-nilai moral yang ada di dalamnya. Namun masyarakat Jawa pada dasarnya tidak boleh menghiraukan prinsip keselarasan.
Kritik selanjutnya terhadap prinsip keselarasan yang dijunjung masyarakat Jawa adalah kedilemaan ketika berhadapan dengan pola bisnis. Dalam artian, kita semua mengetahui bahwa bisnis berorientasi pada keuntungan / laba / profit. Lebih lanjut bahwa terkadang dalam bisnis terjadi persaingan sengit antara satu dengan yang lain. Hal-hal tersebut jelaslah bertentangan dengan prinsip keselarasan dalam masyarakat Jawa dalam dinamika hidup bersama. Konsep keselarasan masyarakat Jawa yang lebih cenderung mengedepankan terciptanya ketenteraman dan jauh dari keinginan untuk melakukan persaingan. Karena persaingan sendiri mulai mengarah kepada sebuah perselisihan dan itu lah yang harus dihindari menurut prinsip keselarasan.
VI. Pustaka
Greetz, H. The Javanese Family. A Study of Kindship and Sicialization, The Free press of Glencoe.
Mulder, N. Kebatinan Dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa. Jakarta: Gramedia. 1983.
Suseno, F.M. Etika Jawa Sebuah Analisis Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup