Telaah Masalah Ateisme dalam Filsafat Ketuhanan)
Oleh : Kristoforus Sri Ratulayn K.N
Pendahuluan
Tema pembahasan tentang Tuhan menjadi salah satu bahan refleksi filsafat sejak zaman para filsuf Yunani Kuno. Para filsuf Yunani Kuno seperti Sokrates, Plato, dan Aristoteles, mulai merefleksikan tentang yang “tak terbatas”, yang bagi orang beragama menyebutnya dengan Tuhan. Kesadaran akan adanya sesuatu yang melampaui yang terbatas menarik minat mereka untuk merefleksikannya.
Berlanjut, pada era Abad Pertengahan tema refleksi tentang Tuhan menjadi tema pokok dalam filsafat pada filsuf abad ini. Hal tersebut tidak begitu mengherankan karena memang pada masa itu para filsuf kebanyakan berasal dari golongan agamawan. Para filsuf menggunakan karya Aristoteles untuk menjelaskan dan merefleksikan berbagai hal berkaitan dengan Tuhan berdasarkan apa yang tertulis dalam kitab suci. Dengan kata lain, mereka mempunyai proyek untuk menyatukan iman dan rasio. Filsafat digunakan untuk menjelaskan pokok-pokok persoalan tentang ketuhanan. Hal tersebut kemudian juga berdampak pada dominasi penafsiran dan pemakaian akal budi pada tradisi agama.
Sejarah pemikiran berlanjut sampai pada masa modernitas. Secara umum, modernitas dimaknai sebagi sebuah “kebaruan”. Kebaruan disini memang ingin menggambarkan dan menampilkan banyak segi dalam tema dan pemikiran. Setidaknya ada tiga cirri dari masa modern, yaitu subjektivitas, kritik, dan kemajuan. Tiga cirri tersebut berkaitan satu dengan yang lain. Subjektivitas dalam hal ini berarti ingin menempatkan manusia sebagai subjek, yaitu manusia sebagai pusat realitas dan ukuran dari segala sesuatu. Hal ini sesungguhnya adalah sebuah kritis terhadap abad sebelumnya yang menempatkan kemampuan rasio manusia dibawah baying-bayang tradisi. Dengan kata lain, masa modern mempunyai optimisme terhadap kemampuan akal budi manusia.
Era Modern merupakan sebuah situasi kebebasan akal budi menjadi hal sangat diagungkan. Lebih lanjut, sebuah masa dimana peran akal budi atau yang sering disebut sebagai kesadaran menjadi sangat sentral. Hal tersebut dikarenakan setelah pada masa sebelumnya terdapat semacam otoritas tertentu yang mengatur penggunaan akal budi manusia. Akal budi manusia berada dalam bayang-bayang agama. Dengan demikian pada masa modern ada semacam energy besar yang bergerak menerobos kungkungan yang membelenggu kebebasan akal budi dalam berpikir.
Semangat zaman modern adalah “membersihkan” semua hal yang berkaitan dengan tradisi otoriter yang membelenggu penggunan akal budi. Kebebasan akal budi menjadi sebuah gerakan progresif yang pada gilirannya melahirkan berbagai macam ilmu pengetahuan. Lebih lanjut, lahir berbagai macam ilmu pengetahuan epiris, yang emdasarkan pengetahuan pada relaitas yang dapat diindera. Tema tentang Tuhan kemudian dianggap juga sebagai sebuah “mitos”. Dengan kata lain muncul skeptisisme terhadap pandangan tentang keAllahan. Pada awal abad kesembilan belas, ateisme seolah menjadi sebuah agenda wajib.
Tulisan ini ingin mengulas tema tentang ateisme dalam sejarah pemikiran filsafat, khusunya pada masa modern. Penulis ingin menjawab apa yang dimaksud dengan ateisme? Kemudian menampilkan beberapa macam tokoh dan argumentasi dari para filsuf yang menganut atesime dan pemikirannya sangat berpengaruh pada sejarah pemikiran filsafat.
Arti dan Pemicu Ateisme
Secara etimologi, kata ateisme berasal dari bahasa Yunani a yang berarti tidak dan theos yang berarti Tuhan. Berpijak dari asal kata tersebut secara singkat ateisme berarti tidak adanya kepercayaan akan Tuhan. Ateisme merupakan sebuah paham tentang penolakan terhadap adanya Tuhan. Lebih dalam, adanya sebuah penolakan dari seseorang akan adanya Tuhan yang Mahatahu, Mahakuasa, dan Mahapengasih. Orang-orang yang tidak percaya pada agama tertentupun disebut sebagai orang ateis bagi orang yang memeluk agama tertentu.
Sebagai sebuah posisi filosofis, ateisme tentu mempunyai argumentasi yang menguatkan. Seperti yang misalnya terjadi dalam ilmu pengetahuan yang telah membuktikan bahwa materi bersifat abadi, maka Tuhan tidak lagi diperlukan sebagai Sang Pencipta yang menciptakan segala sesuatu di dunia. Kemudian argument menengai adanya kejahatan dan penderitaan yang terjadi di dunia yang tidak sesuai dengan konsep atau pemahaman tentang Tuhan yang Mahasegalanya. Pertanyaannya demikian, jika ada Tuhan, mengapa terjadi kejahatan dan penderitaan? Mengapa Tuhan membiarkan manusia mengalami penderitaan? Karena memang tidak jarang yang mengalami penderitaan tersebut adalah orang-orang yang baik secara moral. Apakah Tuhan tidak berkuasa atas kejahatan dimuka bumi? Masalah-masalah eksistensial itulah yang memicu munculnya ateisme. Selanjutnya argument bahwa Tuhan memang sungguh-sungguh ada, namun sangat sulit menangkap kehadirannya secara tak terbantah.
Ateisme tentu berbeda dengan dengan Panteisme dan Agnostisisme. Panteisme berpendapat dan mengidentifikasi Tuhan dengan dunia. Dengan kata lain, sebuah paham yang berpendapat bahwa segala sesuatu adalah Tuhan. Tuhan ada dalam segala sesuatu yang ada di dunia, itu panteisme. Sedangkan Agnostisisme lebih berpandangan bahwa kita tidak dapat mengetahui adanya Tuhan, maka kita tidak perlu berbicara apapun tentang Tuhan. Dengan kata lain, sebuah sikap yang mengambil posisi untuk tidak mau membicarakan apapun tentang Tuhan.
Sekali lagi perlu dipertegas, posisi ateisme adalah tidak adanya atau ditolaknya eksistensi Tuhan. Hal itu yang jelas berbeda dengan panteisme dan agnotisisme. Dalam kedua paham tersebut, keberadaan Tuhan masih diakui dan diterima. Walaupun agnotisisme menolak untuk membicarakan Tuhan namun bukan keberadaan Tuhan yang mereka tolak. Mereka hanya beranggapan tidak ada yang tahu.
Bentuk-bentuk Ateisme Modern
Pada bagian ini saya akan menampilkan beberapa contoh besar ateisme yang ada dalam filsafat, terutama yang terjadi pada abad 19 dan 20. Mereka antara lain adalah Ludwig Feuerbach, Karl Marx, Friedrich Nietzsche, Sigmund Freud, dan Jean-Paul Sartre.
1. Ludwig Feuerbach (agama sebagai proyeksi)
Ludwig Feuerbach (1804-1872) merupakan salah satu dari murid Hegel. Ia awalnya mempelajari teologi Protestan, namun kemudian beralih mempelajari filsafat. Sebagai murid Hegel, ia tentu banyak terpengaruh oleh pemikiran filsafat Hegel. Ia tergabung dalam Hegelian muda sayap kiri. Artinya, pengikut Hegel yang kemudian meradikalkan pemikiran Hegel, seperti halnya yang dilakukan oleh Karl Marx.
Pandangan Hegel mengenai realitas sebagai sebuah gerak roh yang mengasingkan diri tidak dapat diterima oleh Feuerbach. Feuerbach, tidak setuju dengan pemikiran Hegel yang lebih menekankan roh sebagai kenyataan yang nyata. Baginya, yang nyata adalah alam material. Dengan kata lain, ia ingin mengubah idealisme dalam pandangan Hegel menjadi materialisme. Hal tersebut menjadi penegas pula bahwa Feuerbach adalah seorang materialis .
Pada prinsipnya, kritik Feuerbach terhadap Hegel adalah berkaitan dengan posisi Hegel yang mengutamakan realitas sebagai sebuah pikiran spekulatif. Feuerbach berpandangan sebaliknya, yaitu bahwa realitas yang tak terbantah sesungguhnya adalah realitas dari pengalaman inderawi. Artinya, kita harus mendasarkan segala realitas berdasarkan titik tolak pengalaman inderawi. Pengalaman inderwai menjadi titik tolak utama yang tak terbantah dan sah bagi filsafat. Dengan demikian, sama seperti semua ide yang lain, ide Allahjuga berasal dari alam.
Berangkat dari pengandaian pengalam inderwai itu pula Feuerbach melancarkan kritiknya terhadap agama. Menurutnya, sesungguhnya bukan Allah yang menciptakan manusia. Melainkan manusialah yang menciptakan Allah. Lebih lanjut, Allah tidak lebih dari sekedar angan-angan yang ada dalam pikiran manusia. Baginya, agama merupakan proyeksi dari diri manusia, begitu pula dengan konsep-konsep mengenai surga, neraka, malaikat, dan lainnya yang ada dalam agama.
Argumennya demikian, sesungguhnya Allah pada awalnya adalah hasil dari proyeksi diri hakekat manusia. Dengan kata lain, Allah merupakan gambaran angan-angan yang ada dalam pikiran manusia. Namun, celakanya manusia kemudian lupa bahwa angan-angan tersebut sesungguhnya adalah ciptaannya sendiri. Agama proyeksi diri manusia yang penuh kasih, sabar, mengampuni, dan lainnya. Hingga seiring berjalannya waktu membuat manusia meyakini bahwa Allah merupakan realitas nyata yang kemudian disembah dan diluhurkan. Hingga sampai pada anggapan bahwa realitas tersebut berdiri mandiri di luar diri manusia. Hal tersebut sama seperti seseorang yang kaget dan takut melihat gambaran dirinya sendiri ketika berkaca di sebuah cermin. Orang tersebut
Jika menurut Hegel roh absolute mengsingkan diri dan berdialektika, bagi Feuerbach agamalah yang membuat manusia terasing. Dengan kata lain, agama menipu dan mengsingkan manusia dari dirinya sendiri. Bagaimana mungkin manusia menyembah dan takluk kepada apa yang menjadi proyeksi dirinya sendiri seperti yang terjadi dalam agama?! Agama malah membuat manusia jauh dari realisasi potensi-potensi yang ada dalam proyeksi dirinya. Agama dengan demikian hanya menjadi penghalang bagi perkembangan dan kemajuan diri manusia.
Manusia bisa mengakhiri keterasingannnya hanya ketika ia menghilangkan atau meninggalkan agama. Manusia perlu bergerak meninggalkan agama dan beralih menuju menjadi dirinya sendiri dengan segala potensi yang ada padanya. Hanya dengan begitu kemajuan dan perkembangan dapar ia alami. Dengan demikian, Feuerbach juga ingin merubah teologi menjadi antropologi.
2. Karl Marx (agama sebagai candu rakyat)
Karl Marx (1818-1883) sama seperti Feuerbach, ia juga merupakan salah seorang murid Hegel yang mengkritik dan menafsirkan ulang pemikiran gurunya. Jika Hegel mempunyai sistem filsafat Dialektika Roh, Marx menampilkan Dialektika Material. Ia juga merupakan salah satu filsuf ateis yang pemikirannya sangat berpengaruh dan banyak diikuti hingga sekarang.
Marx terkenal dengan ungkapannya “agama sebagai candu!” secara mudah kita dapat memahami makna ungkapan Marx tersebut dengan mengamati efek yang timbul dari candu. Candu membuat orang merasa tenang, terbuai, dan lepas dari apa yang dianggap beban bagi seseorang. Dengan demikian orang tidak lagi akan menyadari beban penderitaan yang sedang ia tanggung atau rasakan. Orang yang mestinya bangkit bergerak untuk melawan segala penindasan dan tekanan yang membelenggunya menjadi pasrah dan menerima apa saja yang menimpanya.
Tuduhan itulah yang Marx tujukan kepada agama. Agama telah membuat orang miskin merasa bahagia walaupun tertindas dan pasrah menerima nasib yang ia alami. Lebih lanjut, agama secara licik diciptkan kelas-kelas atas untuk melanggengkan kekuasaannya dalam menindas dan menenangkan rakyat. Agama membuat orang terbuai bahwa ia yang harus bangkit bergerak untuk melwan malah pasrah menerima nasib. Lebih dalam, agama menawarkan janji-janji manis untuk kehidupan di kehidungan mendatang, seperti “upahmu besar di surga”, agar orang menerima penindasan. Akhirnya yang terjadi orang yang tertindas “lari” dari kehidupan nyata dan menuju pemikiran kehidupan “di atas”. Manusia kemudian mengkhayal kemenangan atas kehidupan setelah kematian jika ia saat ini tertindas. Seseorang yang tertindas lari menuju agama yang memberikan penghiburan-penghiburan.
Sesungguhnya kritik Marx terhadap agama merupakan tanggapan atas ketidak beresan yang terjadi dalam system dan keadaan politik dalam masyarakat. Maka kritik tersebut baginya tidak hanya sebatas kritik terhadap agama. Melainkan harus sampai pada solusi untuk mengubah keadaan masyarakat. Manusia harus dibebaskan dari penindasan yang membuatnya terasing. Yang diperlukan bukanlah kritik agama, melainkan Revolusi. Karena memang sesungguhnya yang menyebabkan manusia lari pada agama adalah keadaan social yang membelenggunya. Agama hanya menjadi tempat pelarian. Menurutnya, jika pertetangan kelas hancur dan keadaan social membuat manusia hidup sejahterah, maka agama akan dengan sendirinya hilang dari masyarakat. Agama pada akhirnya akan kehilangan tempatnya.
3. Friedrich Nietzsche (Tuhan telah Mati)
Friedrich Nietzsche (1844-1900) seorang filsuf ateis yang sangat terkenal akan penolakannya terhadap konsep ke-Tuhan-an. Nietzsche sesunguhnya lahir dari sebuah keluarga religious. Namun seiring perjalanan karir dan pemikirannya, ia menjadi salah seorang filsuf yang paling keras mengkritik agama. Penolakannya terhadap Allah dan agama terlihat jelas dalam ungkapannya yang terkenal yaitu bahwa “Tuhan telah Mati!”
Secara umum, ateisme lebih suka berpijak dari konsep bahwa dunia bersifat siklis. Siklis berarti kebalikan dari konsepsi bahwa dunia itu linier atau mempunyai tujuan akhir. Konsepsi bahwa dunia bersifat siklis berarti ingin menunjukkan segala sesuatu kembali atau terulang kembali. Dengan kata lain, dunia ini tidak mempunyai awal dan akhir. Konsepsi mengenai bahwa dunia bersifat siklis jelas ingin mengingkari terjadinya pandangan tentang penciptaan. Jika dunia bersifat linier berarti mengandaikan harus adanya konsep tentang Sang Pencipta. Inilah yang ditolak oleh Nietzsche.
Lebih lanjut, ungkapan bahwa Allah telah mati sesungguhnya bukan ingin menjelaskan bahwa Allah sungguh-sungguh mati. Melainkan Nietzsche ingin mengatakan bahwa Allah sebenarnya tidak ada, Allah tak pernah ada. Lebih dalam, yang dibunuh adalah Allah yang diciptakan sendiri oleh manusia. Manusia sendiri yang menciptakan Allah, namun kemudian menjadi berbalik menguasai manusia. Manusia menjadi lemah, rapuh, penakut, dan hilang moralitasnya. Agama adalah ciptaan mereka yang kalah terhadap realitas yang ada di dunia.
Nietzsche berargumen bahwa agama membuat moralitas manusia menjadi rusak. Artinya, manusia menjadi lemah, tidak berani melawan, dan lari dari dunia yang harusnya dihadapi dengan penuh daya vitalitas. Moralitas tersebut menurutnya adalah moralitas budak. Sebuah moralitas yang mengajarkan tentang kerendahan hati, sabar, mengalah, dan pasrah. Baginya, moralitas sejati adalah moralitas tuan. Moralitas tuan adalah mereka yang menerima segala realitas dunia ini dengan berani tanpa lari kedunia atas, ia yang berkata “ya” (Ja-Sagen) terhadap kehidupan.
Kematian Allah membawa pada suatu tragedy yang bagi sebagian orang menjadi sebuah guncangan hebat. Kalau sudah tidak ada Allah berarti tidak ada lagi nilai-nilai yang membelenggu manusia untuk ditaati. Kematian Allah mengarah kepada sebuah nihilism, sebuah keadaan tanpa makna, bahwa tidak ada lagi nilai-nilai yang perlu diikuti atau ditaaati. Nilai-nilai dalam agama yang penuh kebohongan, kepalsuan, kemunafikan, dan penekanan nafsu manusia telah hilang.
Nihilisme bukanlah sebuah akhir. Lebih lanjut, nihilisme menjadi gerbang bagi lahirnya manusia-manusia atas (ubermensch). Ubermensch berarti manusia yang melampaui manusia masa lampau dan yang juga masih manusia zaman sekarang. Mereka adalah orang-orang yang dengan penuh sukacita dan gembira menyambut kematian Allah tersebut. Manusia dengan moralitas tuan yang melampaui atau “diatas” yang lainnya. Manusia atas bukanlah mereka yang immoral, melainkan mereka menciptakan moral sendiri bagi hidup mereka. Dengan kata lain, keputusan moral ada ditangan mereka. Allah teah mati dan sekarang mereka sendirilah penentu apa yang baik dan bernilai bagi hidup mereka.
4. Sigmund Freud
Sigmund Freud (1856-1939) lebih terkenal sebagai seorang psikoanalisia dan ilmuwan yang berpengaruh di dunia. Pertanyaan Freud berkaitan dengan ateisme adalah mengapa ada konsep Tuhan dalam kesadaran manusia, padahal Tuhan tidak pernah dialami secara inderawi oleh manusia? Dalam argumennya Freud lebih mengkritik mengenai keberadaan agama ketimbang berusa menjelaskan bahwa Allah tidak ada.
Ateisme Freud bertitik tolak dari fenomena neurosis yang ada dalam teori psikonalalisanya. Baginya agama merupakan sebuah neurosis. Argumennya, bahwa agama membuat manusia percaya akan adanya kekuatan-kekuatan dewa-dewa atau Tuhan yang ada di luar dirinya. Misalnya, orang berdoa meminta perlindungan ketika sedang menghadapi masalah atau penderitaan. Namun, sesungguhnya hal tersebut adalah ilusi belaka, tidak ada dewa-dewa yang melindungi manusia. Sesungguhnya yang ada adalah keinginan manusia untuk dilindungi. Sebuah ilusi dalam arti, keyakinan akan terpenuhinya sebuah harapan, karena orang tersebut menginginkannya.
Menurut Freud, sesungguhnya harapan atau keinginan manusia dalam agama sungguh kekanak-kanakan. Karena memang hal tersebut tidak nyata. Agama malah membuat manusia pasif menunggu keselamatan datang daripada bertindak untuk mengusahakan keselamatan dirinya. Celakanya hal ini tidak hanya dialami oleh satu atau dua orang saja, melainakan sekelompok orang yang meyakini agama tersebut. Kemudian orang berbondong-bondong melakukan apa yang menjadi ajaran agama agam memperoleh keselamatan yang dijanjikan.
Dengan demikian orang melakukan perintah-perintah yang ada dalam agama bukan karena melihat rasionalitas dalam peratutan tersebut, melainkan hanya karena taku akan menerima hukuman atau dalam bahasa agam disebut dosa. Lebih luas, orang beragama menjadi seperti anak-anak yang melakukan sesuatu hanya karena “takut Tuhan marah”, bukan hasil dari penemuan rasionalnya. Bayangan akan takut dosa dan hukuman Allah selalu menghantui pikirannya, itu yang kemudian membuat manusia tidak mengalami kebahagiaan.
5. Jean-Paul Sartre
Jean-Paul Sartre (1905-1980) merupakan tokoh ateisme abad ini yang konsisten dengan pandangannya mengenai eksistensi manusia dengan kebebasan mutlak. Padangan eksistensialisme menekankan kepada kebebasan manusia dalam menentukan arah dan apa yang baik bagi hidupnya. Dengan kata lain, eksistensi mendahului esensi. Manusia menemukan dirinya terlempar begitu saja dalam eksistensinya. Tugas selanjutnya adalah menentukan apa yang menjadi esensi. Hal tersebut berbeda dengan pandangan metafisika klasik yang memandang bahwa manusia terlahir dengan kodrat tertentu. Dengan demikian, keberadaan Allah jelas bertentangan dengan kenyataan manusia yang harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Lebih dalam, keberadaan Allah membuat manusia tidak lagi bebas. Karena kalau ada Allah berarti Allah yang bertanggung jawab atas hidup manusia.
Sartre bertitik tolak dari pandangan metafisikanya yang termuat dalam bukunya Being and Nothingness. Menurutnya terdapat dua realitas yaitu, kenyataan “Berada-pada dirinya” (etre en soi) dan “Berada-bagi dirinya” (etre pour soi). Berada-pada dirinya merupakan realitas objektif utuh. Contoh benda-benda yang berada-pada dirnya adalah meja, kursi, batu, dll. Substansi berada pada dirinya tidak memiliki kesadaran untuk merenungkan dan mengolah keberadaannya. Berbeda halnya dengan realitas berada-bagi dirinya. Manusia adalah realitas dari berada-bagi dirinya, ia satu-satunya makhluk yang eksistensinya mendahului esensi. Manusia mampu menyadari eksistensinya dan kemudian dengan penuh kesadaran membentuk esensinya dengan kebebasan. Mereka mampu menyadari dirinya sendiri.
Jadi manusia sesungguhnya tidak terikat pada nilai-nilai apapun. Manusia tidak mempunyai hakikat, tidak ada ikatan moralitas dalam diri manusia. Lebih lanjut, ia sendirilah yang harus membentuk dan menentukan apa yang baik dan bernilai bagi dirinya dengan kebebasan. Allah tidak mungkin ada karena jika ada Allah, maka manusia tidak lagi menjadi bebas. Jika manusia menerima segala sesuatu yang berasal dari luar dirinya, maka sesungguhnya ia mengkhianati dirinya sendiri. Lebih dalam, semuanya boleh dilakukan kalau tidak ada Allah. Karena manusia tidak terbelenggu lagi untuk mengikuti nilai-nilai moralitas yang Allah tentukan. Keberadaan Allah tentu kotradiksi, karena manusia pada dasarnya adalah bebas. Keberadaan Allah mengingkari kebebasan manusia.
Penutup
Demikian berbagai pemaparan mengenai ateisme dalam kerangka pembahasan filsafat ketuhanan. Ateisme sebagai sebuah sikap penolakan terhadap keberadaan Allah. Beberapa filsuf yang mengambil sikap ateis tentu mempunyai argumennya masing-masing yang memang masuk akal. Sesungguhnya bagi sebagian orang yang masih memegang kepercayaannya akan Tuhan hal tersebut menjadi tantangan tersendiri. Dengan kata lain, orang yang masih berpengang akan iman terhadap keberadaan Tuhan perlu mempertanggungjawabkan imannya secara dewasa pula. Sikap beriman yang dewasa tentu mampu memberikan penjelasan yang juga masuk akal dan menanggapi secara kritis bentuk-bentuk ateisme yang terjadi. Fenomena ateisme mampu menjadi sebuah motivasi agar orang makin kuat dalam penghayatan agama.
Daftar Pustaka
Armstrong, Karen. Sejarah Tuhan, terj: A History of God: The 4000-Year Quest of Judaisme. Christianity and Islam. Penerbit MIZAN. 2001.
Bunnin, Nicholaus and Jiyuan Yu. The Blackwell Dictionary of Western Philosophy. Blackwell Publishing. 2004.
Garvey, James. 20 Karya Filsafat Terbesar. Yogyakarta. Kanisius. 2010.
Hardiman, F. Budi. Filsafat Modern. Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2007.
Huijbers, Theo. Mencari Allah. Pengantar Ke Dalam Filsafat Ketuhanan. Yogyakarta. Kanisius. 1992.
Leahy, Louis. Aliran-aliran Besar Ateisme. Yogyakarta. Kanisius dan BPK. 1985.
Suseno, Franz-Magnis. Menalar Tuhan. Yogyakarta. Kanisius. 2006.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Label
- Aborsi
- Aristoteles
- belajar ilmiah
- Etika
- Etika Biomedis
- Etika Nickomakeia
- Etika Thomas Aquinas
- Filsafat Jawa
- Filsafat Ketuhanan
- Filsafat Manusia
- Filsafat Pendidikan
- Hegel
- Keadilan
- Kebenaran
- Keutamaan
- Komunikasi
- Opini
- Sejarah Filsafat Abad Pertengahan
- Soekarno
- theodicy
- tugas epistemologi
- tugas pengantar filsafat
- tugas resensi Filsafat Manusia
- Tulisan untuk buletin "Cogito" Nopember 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar