Jumat, 13 Maret 2015

Filsafat Sejarah Menurut Soekarno

Oleh : Kristoforus Sri Ratulayn K.N

Pendahuluan
Filsafat sejarah merupakan salah satu cabang dari filsafat. Filsafat sejarah menjadikan sejarah sebagai objek material dalam refleksi filosofisnya. Lebih lanjut, objek formal yang digunakan adalah pandangan filosofis, baik secara metafisis, spekulatif, dan kritis. Filsafat sejarah jelas berbeda dengan ilmu sejarah. Ilmu sejarah merupakan disiplin ilmu yang mempelajari seputar peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau dan hubungannya dengan masa kini. Sedangkan filsafat sejarah lebih merupakan sebuah refleksi atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau dan hubungannya dengan masa kini, serta kemungkinan untuk mengusahakan dan meramalkan suatu masa depan. Dengan demikian terlihat jelas bahwa filsafat sejarah mempunyai dimensi spekulatif, yaitu mampu sampai pada sebauh peramalan akan masa depan.
Setidaknya ada empat ide pokok dalam filsafat sejarah. Pertama, ide kemajuan, Nisbet dalam bukunya menyebut kemajuan berpusat pada moral atau kondisi spiritual manusia di bumi, kebahagiaannya, kebebasannya dari kesengsaraan alam dan masyarakat, dan yang terpenting ketenteraman atau ketenangan. Kemajuan berpusat pada peningkatan prestasi dalam hal moral dan spiritual. Kedua, ide tentang waktu, dalam hal ini filsafat sejarah memahami manusia dalam tiga dimensi rentang waktu, yaitu masa lalu, masa kini, dan masa depan. Namun, yang sangat menjadi titik pokok permenungan adalah waktu sekarang. Waktu sekarang menjadi sebuah kenyataan yang sedang dihadapi. Ketiga, ide kebebasan, kebebasan merupakan hal pokok dalam sejarah. Kebebasan erat kaitannya dengan kesadaran. Orang dikatakan bebas apabila kesadaran menyertai kebebasan tersebut. Kebebaan mengarahkan seseorang kepada sebuah perkembangan terus-menerus. Terakhir ide masa depan, masa depan menjadi salah satu ide pokok dalam filsafat sejarah karena memang manusia mempunyai kemampuan spekulatif yang membuatnya mampu meramalkan tentang apa yang akan terjadi pada masa depan. Sejarah selalu dalam kaitan mempersiapkan sesuatu juga untuk masa depan.
Tulisan ini memaparkan bagaimana filsafat sejarah menurut Soekarno. Dengan kata lain, penulis akan memaparkan empat ide pokok dalam filsafat sejarah menurut Soekarno. Memang sesungguhnya Soekarno tidak berbicara langsung mengenai apa dan bagaimana filsafat sejarah menurutnya. Penulis akan menggunakan metode hermeneutika atas teks dari kumpulan pidato yang pernah diucapkan oleh Soekarno. Dengan membaca kembali dan menginterpretasikan apa yang diucapkan oleh Soekarno akan dapat ditemukan pandangannya berkaitan dengan ide-ide pokok filsafat sejarah, yaitu ide kemajuan, ide kebebasan, ide waktu, dan ide masa depan.

Riwayat Singkat Soekarno
Ir. Soekarno, kelahiran Surabaya 6 Juni 1901 yang lebih dikenal dengan sebutan Bung Karno merupakan proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia. Beliau lahir dari pasangan Raden Sukemi Sosrodiharjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Ayahnya adalah seorang guru. Secara umum, beliau berasal dari sebuah keluarga priyayi yang tidak begitu tinggi tingkatannya. Lebih lanjut, pendidikan membuatnya menjadi berada pada kalangan atas masyarakat Indonesia saat itu. Ia menyelesaikan ELS (sekolah menengah Belanda) pada tahun 1921. Kemudian, baru pada tahun 1927, Soekarno memulai karir politiknya.
Selama masa studinya di HBS, ia tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto, seorang pemimpin Sarekat Islam (SI) yang kharismatis. Lebih lanjut, Tjokoraminoto kemudian memperkenalkan Soekarno muda kepada kalangan nasionalis, anggota Jong Java, anggota SI. Kemudian dalam perkembangannya, sejak tahun 1911 Soekarno mulai menuliskan pemikiran-pemikirannya melalui penerbitan-penerbitan nasionalis Oetoesan Hindia. Dari pemikiran-pemikirannya mulai tampak bahwa Ia sangat menentang kapitalisme dan imperialisme.
Soekarno adalah Pendiri Partai Nasional Indonesia pada tahun 1927. Beliau adalah sponsor Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) tahun 1929. Bung Karno bersama-sama Gatot Mangkupraja, Maskun Sumadireja, dan Soepriadinata pada tanggal 18 Agustus 1930 diadili pada Land Raad Bandung dan pada akhir tahun yang sama divonis 4 tahun penjara, namun bertepatan berakhirnya masa jabatan Gubernur Jendral de Graff pada tanggal 31 Desenber 1931 dibebaskan dari penjara Soekamiskin. Dua tahun kemudian tahun 1933 Bung Karno diasingkan ke Flores dan pada tahun 1939 dipindahkan ke Bengkulu sampai pendudukan Bala Tentara Jepang tahun 1942. Sewaktu diangkat sebagai anggota Badan Penyelidik, beliau adalah ketua Tyuuo Sangi-In, dan Ketua Poetra yang kemudian dibubarkan dan diganti dengan Jawa Hokokai. Beliau adalah penerima Ratna Suci Kelas II dari pemerintah Jepang di Tokyo. B.M. Diah melukiskan Bung Karno sebagai satu-satunya manusia besar Indonesia yang menjulang tinggi di angkasa.
Soekarno dilantik menjadi presiden pertama Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945. Beliau kemudian menjabat sebagai presiden sampai tahun 1967 atau sampai saat ia wafat. Kematiannya masih merupakan sebuah kontroversi hingga saat ini. Pada sebuah kesaksian, Dewi Soekarno, istrinya, memaparkan bahwa ada dugaan bahwa Soekarno mati dengan cara dibunuh. Namun, memang belum ada kepastian yang menguatkan mengenai kesaksian tersebut.

Ide Kemajuan
Secara umum, pemikiran Soekarno selalu terkait dengan perjuangan melawan kapitalisme dan imperialism. Baginya, salah satu bentuk kemajuan adalah kemerdekaan. Lebih dalam, kemerdekaan bukan tujuan pada dirinya sendiri, namun sebuah pembebasan dari kapitalisme dan imperialism. Soekarno dengan paham Marxis yang ada dalam pikirannya, menganggap bahwa kolonialisme menjadi penghambat kemajuan sebuah bangsa dan Negara. Kolonialisme dan imperialism membuat banyak orang merasa terasing dari tanah airnya sendiri. Berikut kutipan yang menggambarkan pemikirannya atas penolakan terhadap penjajahan dan kemajuan melalui kemerdekaan:
"Kami menggoyangkan langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita."
"Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu ! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, dari pada makan bestik tetapi budak."
“Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita menyehatkan rakyat kita, walaupun misalnya tidak dengan kinine, tetapi kita kerahkan segenap masyarakat kita untuk menghilangkan penyakit malaria dengan menanam ketepeng kerbau. Di dalam Indonesia Merdeka kita melatih pemuda kita agar supaya menjadi kuat, di dalam Indonesia Merdeka kita menyehatkan rakyat sebaik-baiknya. Inilah maksud saya dengan perkataan "jembatan". Di seberang jembatan, jembatan emas, inilah, baru kita leluasa menyusun masyarakat Indonesia Merdeka yang gagah, kuat, sehat kekal dan abadi.”

Lebih lanjut, untuk melawan kolonialisme dan imperialism, Soekarno menggunakan ajaran Lenin tentang Revolusi Sosialis. Lenin mengajukan pandangan bahwa revolusi sosialis hanya terlaksana apabila proletariat mau melaksanakannya. Namun, revolusi tidak akan terjadi apabila tidak ada kesadaran sosialis-revolusioner. Lebih lanjut, kesadaran tersebut harus dibentuk dan dibangun berdasarkan pengalaman-pengalaman ketertindasan.
Bagi Soekarno, syarat utama kemajuan adalah sebuah kemerdekaan. Merdeka merupakan sarana menuju keadaan yang lebih baik. Lalu dalam hubungannya dengan revolusi sosialis, Soekarno terlanjur jatuh cinta dengan semboyan revolusi dari kaum komunis. Ha; tersebut yang kemudian mempengaruhi pemikirannya berkaitan dengan ide kemajuan. Baginya, proses kemajuan harus bersifat progresif-revolusioner dan berlangsung terus menerus. Artinya, kemajuan yang terjadi secara cepat, mendasar, dan kontinu.

Ide Waktu
“Jangan sekali-kali melupakan Sejarah. Never leave the history” kutipan tersebut seolah telah sedikit menggambarkan ide waktu menurut Soekarno. Beliau menyadari betul bahwa waktu terus bergerak dari masa lalu, menuju masa sekarang, dan nanti ke masa depan. Ungkapan jangan sekali-kali melupakan sejarah ingin menyatakan bahwa seseorang bahkan sebuah bangsa tidak pernah boleh mengabaikan masa lalu. Masa lalu justru perlu senantiasa digali dan direfleksikan bagi masa sekarang dan antisipasi terhadap masa depan.
Lebih lanjut, Soekrano dalam perjuangannya melawan kolonialisme dan imperialism selalu mengelaborasi masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Masa lalu diisi oleh kenangan kepahitan pengalaman dijajah sekian lama. Maka masa sekarang, saat ia hidup, merupakan masa perjuangan yang tidak pernah boleh berhenti berjuang memperoleh kemerdekaan dan mengusir kolonialisme atau para penjajah. Agar kelak di masa depan bangsa Indonesia dapat bersatu dan meraih cita-cita bersama.

Ide Kebebasan
Ide kebebasan berkaitan erat dengan penentuan diri, pengendalian diri, pengarahan diri, dan pengaturan diri. Hal tersebut berarti adanya sebuah otonomi baik dari individu maupun kelompok tertentu untuk mengambil setiap keputusan atas tindakan. Lebih lanjut, kebebasan dilihat dalam kerangka seseorang atau kelompok didorong atau diarahkan oleh motif, cita-cita, harapan, dan dorongan batin yang dikehendaki sebagai lawan dari paksaan, atau tekanan baik dari luar dan dari dalam.
Pada bagian ini kita akan mengikuti pemaparan pemikiran Soekarno mengenai ide kebebasan. Menurut Soekarno, kebebasan juga berarti sebuah kemerdekaan. Ide kebebasan ini erat kaitannya pula dengan ide kemajuan yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Soekarno berpendapat bahwa kebebasan adalah sebuah situasi dimana setiap orang mampu bebas dari ikatan atau kekangan yang membelenggu diri untuk dapat mengembangkan atau mengaktualisasikan diri. Kebebasan terjadi ketika setiap orang mempunyai kemerdekaan untuk menentukan sendiri arah hidupnya. Berikut kutipan pemikiran Soekarno berkaitan ide kebebasan:
“Merdeka buat saya ialah: "political independence", politieke onafhankelijkheid. Apakah yang dinamakan politieke onafhankelijkheid?”
“Saudara-saudara! Apakah yang dinamakan merdeka? Di dalam tahun '33 saya telah menulis satu risalah. Risalah yang bernama "Mencapai Indonesia Merdeka". Maka di dalam risalah tahun "33 itu, telah saya katakan, bahwa kemerdekaan, politieke onafhankelijkheid, political indenpendence, tak lain dan tak bukan, ialah satu jembatan, satu jembatan emas.”
“Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan rakyat kita! Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan hatinya bangsa kita!”
Soekarno menyampaikan pandangan tersebut ketika pidatonya pada 1 Juni 1945 saat siding BPUPKI yang akan membahas dasar Negara Indonesia merdeka. Sebelum menyampaikan rumusan Pancasila, Soekarno menyampaikan pandangannya terlebih dahulu tentang arti merdeka menurutnya. Dari kutipan pidato tersebut dapat mengungkapkan dengan jelas kepada pendengar dan pembacanya saat ini bahwa kemerdekaan sebagai sebuah jembatan, jembatan emas. Analogi jembatan berarti sebuah penghubung dari satu tempat ke tempat yang lain. Jembatan mampu menghantar orang sampai di tempat tujuan dengan selamat dengan melewati jurang pemisah yang ada di bawahnya.
Kemerdekaan atau kebebasan bukanlah tujuan pada dirinya sendiri. Dengan kata lain, kemerdekaan tidak boleh berhenti untuk kemerdekaan itu sendiri. Kemerdekaan hanyalah sebuah sarana, sebuah jembatan emas, yang menghantar seseorang meraih apa yang menjadi cita-citanya. Lebih lanjut, kebebasan berarti sarana bagi perkembangan diri.

Ide Masa Depan
Ide menganai masa depan ini saya isi dengan cita-cita Soekarno terhadap Indonesia. Banyak sekali cita-cita yang terungkap dari Soekarno bagi Indonesia. Mulai dari Indonesia merdeka, Indonesia bersatu, dan masih banyak lagi. Namun salah satu yang paling terkenal adalah gagasannya yang sering disebut sebagai “Trisakti”. Isi dari Trisakti antara lain, “Indonesia yang berdaulat secara politik”, “Indonesia yang mandiri secara ekonomi”, dan “Indonesia yang berkepribadian secara sosial-budaya”. Trisakti menjadi sebuah konsep kunci bagi arah perkembangan ke masa depan yang ingin dilakukan bagi Indonesia.
Indonesia berdaulat secara politik berarti aspirasi setiap warganya dapat tertampung. Setiap warga Negara mampu berpartisipasi aktif dalam usaha perkembangan bangsa dan Negara. Di lain pihak, dalam kaitannya dengan Negara lain Indonesia mampu dengan bebas menentukan arah kebijakannya sendiri. Indonesia mampu mandiri dalam mengambil keputusan tanpa adanya campur tangan dari Negara lain.
Indonesia mandiri secara ekonomi berarti Indonesia mampu mengusahakan sendiri kegiatan perekonomian guna mecukupi kebutuhan hidup warganya. Mandiri secara ekonomi juga berarti bahwa Indonesia mampu memaksimalkan segala potensi yang ada di dalamnya tanpa tergantung bantuan ekonomi Negara lain. Jadi Indonesia tidak pernah tergantung dengan bantuan-bantuan ekonomi pihak luar.
Indonesia berkepribadian secara sosial-budaya berarti Indonesia mempunyai jati diri bangsa. Lebih dalam, Indonesia mempunyai nilai-nilai luhur yang telah ada sejak puluhan tahun yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain. Identitas atau jati diri bangsa ini menjadi sangat penting agar tidak kehilangan pegangan dalam arus dunia yang semakin global. Kesadaran akan jati diri terdalam bangsa mampu saling mempererat persaudaraan diantara sesame warga.



PUSTAKA
Farel, dkk. Bung Karno. Kompas. Jakarta. 2009.
Latif, Yudi. Negara Paripurna. Historistias, Rasionalitas, dan Aktualisasi Pancasila. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2011.
Mudhofir, Ali. Kamus Filsafat Nilai. Kertagama. Jakarta. 2014.
Munir, Misnal. Filsafat Sejarah. UGM Press. Yogyakarta. 2014.
Onghokham, “Sukarno: Mitos dan Realitas”, Manusia Dalam Kemelut sejarah. LP3ES. Jakarta. 1978.
S. Silalahi, Dasar-dasar Indonesia Merdeka. Versi Para Pendiri Negara., Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2001.
Soekarno, Menggali Pancasila (Kumpulan Pidato), Wawan Tunggul Alam (ed.). Gramedia. Jakarta. 2001.
_______, Pidato Peringatan HUT RI 17 Agustus 1966.
_______, Pidato Trisakti
Sularto, St. (ed.), Dialog Dengan Sejarah. Soekarno Seratus Tahun. Penerbit Kompas. Jakarta. 2001.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar